
"hargai hidupmu karena kamu tidak pernah tahu berapa banyak orang diluar sana sedang berjuang melawan penyakitnya untuk tetap bertahan hidup 😭"
do'ain Vie juga agar kembali sehat yah kk 😴
maaf belum bisa balas comen.
Happy Reading
.
.
Valen segera menggeleng ia tidak ingin berurusan dengan Devano.
dan segera mengambil surat dalam kantong jas putihnya yang sedari tadi dibawahnya saat tahu pasien yang ingin ditangannya adalah Kiana Azzalea.
"Nona aku mohon ini jangan dijadikan beban yah! ingat kondisi nona saat ini sedang hamil anak orang yang sangat anda cintai dan juga mencintai anda!" ucap Dok Valen ambigu membuat Kiana semakin bingung.
raut wajah Valen yang mendadak berubah menjadi sedih membuat Kiana semakin deg deg kan untuk meraih surat yang diberikan Dok Valen.
"surat ini dititipkan adikku Geral untuk anda Nona Kia!"
suara Dok Valen bergetar, menandakan jiwa dan emosinya saat ini juga sedang digetarkan kesedihan yang ia tahan.
Kiana mengernyit bingung.
satu satunya yang Kia kenal bernama Geral adalah Gerald Chaesario senior dan ketua osis di SMAnya dulu.
Kiana meraih surat itu dengan ragu, dan mulai membukanya.
Hai Princes..
saat si nenek cerewet ini memberikan surat ini padamu, mungkin kita sudah berada dialam yang berbeda.
yahhh andai aku tahu pertemuan kita dilobi rumah sakit kemarin adalah yang terakhir, aku akan menculikmu dan memelukmu..
hahaha tapi itu hanya angan anganku saja, nyatanya aku terlalu pengecut.
sudah bertahun saat aku pertama kali bertemu denganmu diruang ospek, aku bertekad berhenti menjadi casanova dan beralih menjadi pangeran untuk mengejar cinta princes Kiana Azzalea, namun sekali digebukin orang suruhan sang raja Danuenra aku malah berhenti disana.
__ADS_1
sebenarnya aku tidak gentar dengan peringatan pengawal pengawal amatiran itu, sayangnya saat aku cek up ke dokter setelah babak belur.
dokternya disana ngaur dan mengatakan aku sedang sekarat karena sebenarnya sudah mengidap penyakit mematikan dari satu tahun sebelum hari itu.
sejak saat itupun aku memilih menjauhimu untuk membuktikan perkataan dokter itu salah, karena aku akan kembali dan hidup lebih lama lagi bersamamu.
dan saat aku kembali aku sangat senang saat pertama kali melihatmu lagi ditempat londri, namun aku belum ada keberanian menyapamu melihat hari itu kamu terlihat kacau.
dan saat aku kembali kesana aku tahu ternyata hanya temanmu yang bekerja ditempat itu, setelahnya aku berusaha mencarimu namun kamu hilang seolah ditelang bumi..
sampai malam itu aku sangat bahagia saat kamu memberika nomor ponselmu padaku lewat surat e.mail
namun lagi lagi aku harus kecewa saat aku tahu ternyata pria yang bersamamu dirumah sakit ternyata suamimu.
tapi princes...
aku bahagia saat tahu siapa pria itu dari si nenek cerewet, aku yakin dia mampu menjaga dan membuatmu bahagia, dia pria sepadang untukmu!
princes aku tahu kehadiran ataupun kepergianku tidak pernah berpengaruh apapun padamu.
namun aku menitip surat ini karena aku hanya ingin kamu tahu, entah berapa orang lagi diluar sana yang mencintaimu dalam diam, kamu sangat istimewa jadi tolong teruslah bahagia, karena kebahagianmu adalah kebahagian orang orang mencintaimu.
tangan Kiana bergetar membaca surat itu dengan bulu bulu halus ditubuhnya menegang, dan entah sejak kapan air matanya jatuh.
bukan karena ia mencintai pria itu, namun ia sangat terharu dan tersentu dengan kalimat yang ditulis Geral.
meski pria itu sudah menulis dengan kalimat santai agar tidak membebani Kiana, namun hati Kiana tetap terenyuh!
tidak bisa dipungkiri, meski Kiana dulu menolak Geral karena ia sudah terlebih dulu tertarik dengan Devano dimasa kecil
namun andai Geral lebih dulu bertemu dengannya, Kiana yakin iapun tidak bisa menolak ketampanan, kelembutan, dan kepandaian pria itu merayu wanita.
"Dok Valen?" lirih Kiana meminta penjelasan pada Valen yang terlihat menahan ledakan kesedihannya.
Dok Valen mengangguk.
"dia sudah tenang! sebenarnya dia pria yang sangat keras kelapa! meskipun memiliki penyakit yang mematikan ia memilih hidup seperti manusia normal lainnya, baginya hidup singkat yang dinikmati lebih menyenangkan daripada hidup lama namun terkurung dan tertekan dengan mesin dan alat alat didalam ruang medis."
ucap Dok Valen mencoba tersenyum mengikhlaskan sang adik namun satu cairan bening lolos tak mampu ditahan lagi dari sudut matanya.
__ADS_1
Kiana bangkit dan memeluk Dok Valen..
"aku turut berduka cita yah Dok!"
"ma kasih Nona, saya juga bersyukur sejak saya tahu Gerald mencintai sesorang yang ternyata adalah anda dia banyak berubah disisa sisa hidupnya."
*****
Hilda yang mengurus administrasi dan obat yang harus ditebus kini berjalan terburu buru menuju ruangan dimana Kiana melakukan pemeriksaan.
Brukk
Hilda terpental kelantai saat sesorang menabraknya.
"hati hati dong Mbak, kan barang barangku jatuh!" maki Dokter wanita yang juga hampir jatuh karenanya..
"maaf.. maaf.. aku tidak sengaja.."
Hilda segera memungut beberapa berkas milik Dokter wanita itu kemudian mendongak.
"ini milik_" ucap Hilda terpotong saat melihat sesorang yang tidak asing berjalan dibelakang Dokter itu.
meski pria itu tidak berpenampilan formal seperti biasanya, namun Hilda sangat mengenalinya.
Dokter wanita itu menarik barang barangnya kasar dari tangan Hilda yang termenung.
"Clau kamu_" ucap Aldo ikut terpotong saat netranya terkunci pada sosok yang sedang berlutut dilantai juga menatapnya.
beberapa detik berikutnya
"kamu kok disini, apa kamu sudah merindukan ku?" tanya Dokter Claudia mendayut dilengan Aldo menyadarkan pria itu.
"oww iya, Clau kita harus bicara!"
Aldo segera menarik tangan Claudia pergi dari sana, tanpa mengatakan satu katapun untuk Hilda.
Hilda memegang dadanya dengan tangan bergetar..
dadanya terasa tercabik cabik bahkan ia merasa ini lebih sakit daripada saat ia melihat Sella mengemut cacing Zetno.
__ADS_1