SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
BELUM ADA JUDUL


__ADS_3

"Tuan,, apa aku melakukan kesalahan?"


"kesalahanmu??? kau baru kerja sehari denganku tapi, sudah membuatku hampir jadi santapan buaya betina!"


ucap Devano pada Asisten barunya itu dengan kesal..


padahal ia sangat lelah karena baru beberapa jam ia sampai di negara itu dengan berburu waktu setelah menyelesaikan acara 7 bulanan sang istri kemarin, dan dini hari ia langsung melakukan penerbangan Jakarta-Roma. Namun dia harus dihadapkan pada kondisi yang mengesalkan seperti barusan.


ia hanya beristrahat seadanya didalam pesawat dengan penerbangan kurang lebih 16 jam itu, dan dari bandara Leonardo da vinci ia langsung ke perusahan cabangnya.


untungnya moodnya sekarang lebih baik setelah berbicara dengan Kiana.


.


.


.


sedang kan di belahan bumi lainnya.


dimalam hari Aldo menjemput Hilda untuk makan malam bersama, meski Hilda sempat menolak namun saat ia mengingat pesan Kiana untuk berbicara hati ke hati dengan pria itu dan menyampaikan sebenarnya apa yang diinginkan hatinya, ia memutuskan untuk ikut.


dan disinilah mereka sekarang di sebuah restoran mewah, tidak ada hal yang spesial selain dari kemewahan dari restoran itu.


Aldo memang bukan tipekal pria banyak tingkah seperti tipekal CEO pria romantis dalam Novel yang sering Hilda baca.


dimana seorang CEO akan menyiapkan makan malam romantis, memboking salah satu restoran agar tidak terganggu, atau menyiapkan lilin dimeja makan hingga diperdengarkan musik romantis.


"kau sedang memikirkan apa?" tanya Aldo pada Hilda setelah mereka menghabiskan makan malamnya


sedari tadi Hilda terlihat memandangnya sambil melamunkan Dinner versi khayalannya.


"ehh.. maaf Tuan"

__ADS_1


"Tuan lagi? aku calon suamimu nona Hilda bukan calon majikanmu, berhentilah memanggilku Tuan!" Aldo merasa jengah


"Tapi Tuan_"


"apa aku harus melakukan sesuatu untuk mengingatkan statusmu?" tanya Aldo menatap bibir yang sudah membuatnya candu itu.


"ma..maaf _" Hilda sangat paham arti tatapan pria itu, bahkan tadi Aldo juga menggunakan ancaman yang sama saat ia menolak ikut dengannya.


"SAYANG!" potong Aldo


"EHHH??"


"yah sudah pelan pelan saja agar terbiasa, kau bisa gladi dulu dari sekarang...


ooia katanya tadi ada yang ingin kau sampaikan, katakanlah aku akan mendengarnya karena setelahnya kau hanya harus mendengar kan ku!" ucap Aldo seperti sebuah titah


Hilda sejenak berfikir untuk menyampaikan pertanyaan nya, melihat Aldo yang masih menunggunya membuatnya memberanikan diri


"emm Tu_ maksudku... apa hurus kita menikah?"


"so?? aku sudah dewasa Hilda jadi aku sudah memutuskan jika sudah menemukan wanita yang tepat dan aku mencintainya aku hanya ingin langsung menikah" ucap Aldo dengan keseriusan diwajahnya yang dapat dilihat jelas oleh Hilda.


membuat Hilda merasakan getaran hebat didadanya saat pria tampan itu mengatakan cinta secara tidak langsung padanya.


pelupuk mata Hilda bahkan terasa panas ingin menumpahkan laharnya karena sangat terharu dengan ucapan pria itu.


"apa yang kau khawatirkan?" tanya Aldo dengan penuh kelembutan meraih tangan gadis yang terlihat meragukannya itu.


ia tidak akan menutupi perasaannya lagi dengan gadis itu dengan berpura pura cuek, dan tidak peduli ia berharap dengan begitu gadis itu tidak meragukannya lagi.


"menikah adalah ikatan yang sakral dimana didalamnya melibatkan dua hati, dan kepala yang harus saling menyatu... tapi selama ini aku sudah terbiasa hidup mandiri, aku hanya takut menggantungkan hidupku pada orang lain!"


terlihat ada genangan di mata bulat itu seakan ingin tumpah dari pelupuknya, seolah ia memberi tanda jika pemiliknya sangat rapu.

__ADS_1


bukan tanpa alasan, Hilda sangat takut.. setelah kegagalan yang dialami orang tuanya hingga menjadikan dirinya korban sehingga gadis itu hidup seperti gadis sebatang kara.


"tolong beri aku kesempatan Hil.. semua ketakutanmu tidak akan pernah terjadi jika kita memiliki komitmen untuk selalu bersama dalam keadaan apapun!"


Aldo sangat mengerti ketakutan gadis itu, tapi ia yakin ia bisa membahagiakan gadis itu dan menghapus ketakutanya.


"aku memang tidak bisa berjanji akan selalu membuatmu bahagia karena setiap rumah tangga pasti akan ada ujiannya, tapi aku akan menjamin kesetiaan dan cinta yang tidak akan luntur, jadi mari kita jalani susah dan senangnya hubungan kita..." pelupuk mata Aldopun mulai mendung, namun Hilda masih diam.


" apa dengan mengunci dirimu untuk tetap berada dizona nyamanmu kau bisa menjamin akan bahagia?" tanya Aldo lagi yang hanya mendapat tatapan bingung dari gadis didepannya.


"baiklah,, sekarang aku tanya, apa kau mencintaiku?"


Hilda mengangguk


ia sangat yakin jika ia sangat mencintai pria itu, mengingat bagaimana ketakutannya akan kehilangan saat Aldo sakit.


"bagaimana jika kau melihat aku menikahi orang lain Hilda?"


dengan cepat gadis itu menggeleng!


"kenapa kau ingin menikahi orang lain, padahal kau baru saja mengajakku menikah dan akupun belum menolakmu,, aku hanya bertanya haruskah kita menikah? aku hanya ingin kau lebih berusaha meyakinkanku, tapi kau sudah menyerah!"


ini rekor kata terpanjang yang ia keluarkan saat berbicara dengan seorang pria, bahkan di ikuti dengan ekspresi yang belum pernah Hilda perlihatkan pada orang lain sebelumnya.


membuat Aldo terkekeh dan sangat gemas, rasanya ia semakin mencintai gadis itu.


"itu tandanya kau sudah siap menikah denganku kan?"


"bukannya kau mau menikah dengan wanita lain?"


"apa kau rela?"


Hilda menggeleng lagi dengan cepat, namun detik berikutnya ia memejam erat matanya karena merasa malu.

__ADS_1


"itu tandanya kau sangat mencintai ku nona.. dan yahhh aku tidak ingin menikah dengan siapapun selain dirimu aku hanya ingin kau menyadari ketakutan mu menikah denganku apa akan lebih besar dengan ketakutanmu kehilanganku?"


__ADS_2