SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
Curhatan Hati Sahabat


__ADS_3

please beri komentarnya yah kakak kakak sayang, dan berikan bom like pada setiap komentar😘.


SELAMAT MEMBACA


.


.


.


"gue tidak pernah nyalahin takdir gue hidup susah Ki, gue hanya kadang rindu mendengar omelan emmak gue saat telat bangun pagi, dan teriakan bapak gue saat gue manjat pohon mangga depan!


gue bener bener rindu masa kecil gue meski hidup susah tapi, mereka ada disamping gue... meski tiap hari mendengar omelan mereka karena kesalahan gue sendiri."


Hilda yang kia tahu adalah gadis kuat akhirnya ngeluarin juga uneg unegnya, dan mau berbagi kesedihan dengan Kiana.


Kia yang terenyu dengan ungkapan perasaan sahabatnya langsung memeluk gadis itu.


suasana terasa melow


"sorry yah Hil_"


"Hemm buat apa?" tanya Hilda tanpa memperlihatkan sedikitpun kesedihan, beda dengan Kia yang uda hampir mewek


"gue selama ini enggak tau bersyukur." Kia kembali melepas pelukannya, dan mengusap air yang sedikit meleleh disudut netranya, sedikit kesal melihat Hilda justru terlihat santai kek di pantai.


"Kia apapun masala lo, lo harus ingat keluarga adalah segalanya dan jika lo punya masalah dengan mereka, sebaiknya lo bicarin baik baik." yah sebenarnya inilah inti perkataan yang Hilda ingin sampaikan pada Kiana.


apalagi sekarang hubungan Kiana dengan Papinya semakin menjauh.


membuat Kia merasa semakin bersalah, setelah mendengar petuah sahabatnya itu.


sebenarnya selama ini Papi hanya ingin yang terbaik buat Kia, tapi entah kenapa beberapa tahun terakhir ini Kia juga bingung dirinya sendiri yang selalu saja mudah membangkan, membuat Papi kesal, dan mengibarkan bendera perangnya dengan Papi, membuat Papi menjadi lebih menyayangi Balqis yang penurut dari pada dirinya sendiri yang notabenya anak kandung.


"Hil kakak gue bakalan nikah dengan Devano Djatmico orang yang sudah lama gue cintai!" Kiana menghembuskan nafasnya seolah lelah dengan perasaannya.


"what?? dramatis banget nasib percintaan lo! jadi orang yang lo cintai dari lo bau kencur sampai bau asem gini justru bakalan jadi ipar lo sendiri? dan tiap hari lo bakalan lihat dia bermesraan bersama kakak lo? gila!" ledek Hilda bersorak tepuk tangan, bukannya prihatin dan menunjukkan empati pada sahabat bar barnya itu justru membuat sahabatnya kesal ingin mencekiknya.


suasana yang seharusnya haru justru menjadi absurd kalau sudah dengan duo bar bar ini.


tapi itulah faktanya, Kiana hanya menghembuskan kasar nafasnya untuk yang kesekian kalinya


" hemm, jadi itu alasan lo kenapa lo minta gue ungkapin perasaan gue 2 bulan kemarin sama si kampret enggak punya perasaan itu?" cerocos Hilda, tanpa memberi sahabatnya kesempatan untuk bersedih


dan yahh yang ditanya langsung nyengir kuda


"hehehe sorry Hil, Gue cuma enggak mau kalau nasib percintaan lo kek gue.. gugur sebelum berkembang gara gara enggak ada keberaniaan buat bilang kedia."


yah dibalik keberanian Hilda nembak Zetno ada supoter bar bar yang terus mendesak Hilda, dan hasilnya adalah penolakan dan dipermalukan plus dengan bunganya menanggung malu setiap hari dikampus, ingin rasanya Hilda menenggalamkan dirinya dan tak lupa membawa supoternya yang memberikan ide gilanya itu.


"dan gue dapat penghinaan si kampret itu! atau jangan jangan lo hanya cari temen biar ada yang nemanin lo ngerasain sakitnya patah hati ?! " tuduh Hilda bersungut sambil melemparkan bantal ke wajah Kiana yang cengengesan

__ADS_1


"fitnah loo kam pret!!" balas Kia tak mau kalah membalas lemparan Hilda, hingga suasana curhatan hati sahabat itu berubah dengan adegan tutur tinular versi dou bar bar.


beberapa menit kemudian setelah negara api menyerang 🤭, terlihat kamar Hilda sangat berantakan dengan dagron bantal yang berserakan dimana mana.


duo bar bar itu berbaring di kasur dengan nafas memburuh dan diantara dagron yang masih berterbangan sambil menertawai kelakuan mereka.


"ehh Hil... setidaknya lo itu uda berjuang, gagalpun setidaknya kedepan lo enggak ada nyalahin diri lo sendiri yang pecundang karena gak bisa jujur dengan perasaan lo!" ucap Kia kemudian sambil memainkan dagron yang masih berterbangan diatasnya.


Hilda hanya diam, dalam hatinya membenarkan ucapan Kia. jujur dengan perasaan sendiri bukan hal yang memalukan, yang salah itu Jika kita mengemis agar perasaan kita dibalas.


"tapi, lo tenang aja gue janji bakalan bantuin lo jika ingin ngasi pelajaran si kam pret itu!"


ucap Kiana lagi dengan semangat perjuangan lalu bangkit memulai pertarungan bantal mereka lagi.


*


*


*


*


hingga pukul 10, Kiana memastikan keluarga Djatmico sudah kembali ke kediaman Djatmico, dan ia memutuskan kembali ke rumah besar Wiryawan.


dan benar saja sesampai rumah, rumah sudah sepi sepertinya orang rumah sudah tidur semua..


"dari mana kamu?"


bariton Papi mengejutkan Kiana.


"Paaapi, ma maaf kia.. kia." ujar Kia dengan tawa miris


mampuslah gue...


"sekarang naik ke kamarmu kita bicara besok!" ucap papi sedingin es batu yang keras dan tak ada rasa


"ba baik pi" Kiana segera mengambil langkah seribu naik ke kamarnya, sebelum papi berubah fikiran.


*****


pagi hari


"ughhhh" Kiana merenggangkan otot ototnya sambil mengumpulkan kesadarannya kembali kedunia yang tak seindah mimpinya semalam dimana ia bertemu sang pangeran hati di alam mimpi.


Kiana duduk tersenyum membayangkan mimpinya sambil mengucek matanya yang terasa silau dengan cahaya pagi.


"sudah bangun?"


Brukk..


Kiana yang akan segera turun dari kasur terkejut hingga jatuh, saat mendengar suara dingin itu..

__ADS_1


"pa.. papi?"


"jantuuuung kau harus baik baik didalam sana, aku masih terlalu muda untuk kealam baka!" Umpat Kiana sambil berdiri


"cuci wajahmu Papi ingin bicara sekarang!"


Kiana langsung mengingat kesalahannya tadi malam yang pulang terlalu larut.


"mampuslah kau Kiana Azzalea Wiryawan... kak Balqiiiiiis help meee"


*


*


*


"i..iya pi"


Kiana duduk di bibir ranjang berhadapan dengan Papi yang duduk di sofa, sambil mere mas handuk yang baru ia pake mengeringkan wajahnya, menanti sidang eksekusinya.


"sini Papi ingin bicara!" Papi menunjuk sofa disampingnya, Kiana menurut saja.


"Kiana, bagaimana menurutmu tentang pertunangan kakakmu dengan Devano?"


"hee?" kenapa papi nanyanya itu?


"kalau kakak bahagia, Kia hanya mendukung Pi"


nyesek banget aku keluarin kata kata ini, bolehkah aku minta satu keajaiban tuhan 😭?


"berarti kamu enggak ada masalah kan?" tanya papi lagi menatap Kiana dengan tatapan yang hanya papi yang tau artinya.


"hehehe ia Pi enggak apa apa kok!" Kiana menggaruk tengkuknya mencoba memberikan senyum terbaiknya


padahal dalam hati


"emang kalau kia bilang Kia keberatan papi bakalan batalin pertunangan kakak?! enggakkan !😭"


"mereka sudah resmi bertunangan semalam!"


"what??? lalu buat apa papi bertanya pendapat Kia lagi?!" pekik Kia dalam hati


Kiana tanpa sadar sampai membulatkan matanya


"yah sudah Papi keluar!"


sampai ia tak menyadari kalau papi sudah pergi dari sana dengan menutup pintu kamarnya.


menangis? sudah pasti... rasanya nyesek banget!


tapi, tidak lama..

__ADS_1


Kia kembali bangkit untuk bersiap siap ke kampus.


__ADS_2