
Happy Reading
"SALAH ADALAH SIFAT MANUSIA... NAMUN, MERASA PALING BENAR ADALAH SIFAT IBLIS!"
.
.
.
.
.
atas saran Daddy sekarang Balqis dibawa ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang intensif.
"Danu kamu pulang saja, aku lihat tadi Ningrum kebingungan dan curiga... pasti ia belum tidur dan sekarang menunggu penjelasan darimu!"
ucap Daddy menepuk pundak Papi yang masih menunggui Balqis untuk sadar.
Usia Daddy yang terpaut 5 tahun dari Papi selalu selangkah lebih peka dan dewasa dari Papi.
"bagaimana dengan Balqis?"
"tenang saja aku sudah meminta perawat khusus untuk memprioritaskannya... kamu sudah berbuat banyak untuknya Dan,, bahkan kamu mengorbankan perasaan anak kandungmu sendiri tapi kamu lihat tadi?? ternyata dia masih menyimpan kebencian padamu atas kematian ayahnya.. aku tidak menyalahkannya karena akupun akan sulit memaafkan orang yang menghilangkan nyawa orang tuaku... namun, aku akan menyalahkanmu jika kamu harus membuat anak dan istrimu terluka lagi karnanya aku tahu ayahnya meninggal bukan sepenuhnya salahmu"
"Bas??" lirih papi melemah
Papi benar benar terluka ia gagal membuat Balqis memaafkannya walau ia sudah menomor duakan putri kandungnya sendiri, bahkan ia baru sadar ternyata Balqis memendam kebencian padanya selamanya ini.
"pulanglah Dan... jelaskan pada istrimu apa yang terjadi, besok kamu bisa menemui Balqis lagi jika dia sudah sadar untuk meyakinkan bahwa kamu benar benar merasa bersalah atas apa yang telah menimpa keluarganya meski itu bukan sepenuhnya salahmu!"
Papi hanya mengangguk sekarang ia butuh pelukan sang istri untuk menenangkannya..
ia berdiri dan saat keluar dari ruangan itu ia melihat Devano dan Aldo.
__ADS_1
"Papi mau pulang?" sapa Devano
"iya... kamu juga pulang, kasihan Kiana pasti sekarang banyak fikiran!" ucap Papi sebelum melangkah pergi.
Daddy Bas yang berdiri dibelakangnya tersenyum, sepertinya Papi mulai melihat kehadiran putrinya lagi.
"Daddy?" Devano menatap Daddy bingung, ia juga tidak tega meninggalkan Balqis sendiri.
"dia sudah bukan tanggung jawabmu nak dan Danu juga sudah memahaminya pulanglah dan urus rumah tanggamu dengan benar!" ucap Daddy menyentuh pundak anaknya.
kemudian menatap Aldo
"Balqis pingsan karna ulah kamu Do! jadi kamu yang harus memantau dan mengurus sampai ia pulih!" ucap papi menatap tajam pria lajang tampan itu.
"Dad... aku hanya menjalankan intruksi dari Dev dan melindungi kita semua dari amukan macan betina bunting itu!"
"Aldo!!" tegur Daddy bagaimana Aldo bisa menyamakan Balqis dengan macan bunting!?
ngomong ngomong, siapa yang berani membuat macan bunting?? pasti seekor macan juga kan?!
biarkan dia pulang dan beristrahat, dia bisa memantau dari apartemennya.. bukannya Daddy sudah meminta perawat khusus menjaga Balqis??"
Devano berusaha menyelamatkan tangan kanan yang sudah seperti saudaranya itu, karena ia masih butuh banyak bantuan Aldo kedepan..
Aldo dan Devano bukan seperti bawahan dan atasan pada umumnya.. keakraban keduanya sedari kecil membuat hubungan mereka sudah seperti saudara jangan heran jika tidak ada kecanggungan diantara mereka.
keberhasilan Devano tidak lepas dari kerja keras dan dukungan sang asisten. otak Aldo seperti perangkat lunak pada server di perusahan Devano.. bisa dibayangkan jika Aldo mengkhianati Devano.
"kalau kamu belum nikah Van, Daddy sepertinya harus mewaspadi hubungan kalian!" Decak Daddy sebelum ia hendak melangkah keluar dari rumah sakit itu.
namun belum berapa langkah ia kembali lagi.
"Aldo pulang bareng Daddy!"
Daddy lupa ia tidak bawa mobil, sedang Devano sudah dipastikan akan pulang menemui istri kecilnya.
__ADS_1
"sepertinya Vano yang harus mewaspadai hubungan Daddy bersama Aldo!" sindir Devano mengingat kemarin Aldo membocorkan masalah Balqis pada Daddy..
"yah sudah... ayo balik yuk Daddy sayang!" ucap Aldo dibuat buat, membuat Daddy dan Devano langsung bergidik.
******
"Mami belum tidur?"
Papi baru sampai dirumah dan melihat Mami masih berdiri menghadap keluar jendela kamarnya.
"Papi??"
Papi mendekati sang istri dan menutup tirai yang masih terbuka itu.
"kenapa belum tidur?" Papi menarik tangan Mami untuk duduk di tempat tidur.
"belum ngantuk Pi!" ucap Mami datar
"Mami marah?"
"untuk apa??"
"Mi, Papi minta maaf yah sudah gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik!" pria itu membawa tangan Mami menyentuh wajahnya, dan berbaring dipaha mami... ingatannya kembali saat ia pertama kali membawa Balqis masuk kerumah ini dan mengakui kesalahannya yang telah menjadi penyebab kematian orang tua Balqis.
air mata papi tidak mampu terbendung hingga jatuh membasahi tangan Mami..
perasaan Mami merasa semakin berkecamuk, kesalahan besar apa lagi yang telah dibuat suaminya itu sampai menangis minta maaf seperti itu, mungkinkah kecurigaan Mami benar?!
jika Papi dan Balqis??
Mami baru 3 kali melihat sisi lain dari Papi ini.. saat diawal pernikahannya, saat menjadi penyebab sorang gadis kecil menjadi yatim piatu, dan sekarang!
namun kesedihan Papi sekarang ini lebih mengingatkan Mami kesalahan saat diawal pernikahan mereka.
"Papi buat kesalahan apa lagi??"
__ADS_1
tanya Mami dengan suara bergetar