SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
DRAMA PERNIKAHAN


__ADS_3

HAPPY READING


Devano dan Daddy yang baru saja melewati pintu utama rumah kebesaran keluarga Djatmico itu langsung tercengang melihat kehadiran Balqis yang sedang ngobrol dengan Mommy.


hari ini ada rapat petinggi perusahaan yang harus dihadiri oleh ayah dan anak ini, setelahnya mereka memilih pulang bersamaan.


lebih tepatnya ekspresi Devano saat ini menunjukkan ketakutan dan kekhawatiran, entah kekhawatiran untuk siapa.


Devano berjalan terburu buru menghampiri mereka.


"ngapain kamu disini?" tanya Devano datar.


"mas?" lirih Balqis seolah memberi pengertian pada Devano agar berbicara berdua.


"mommy, dimana Kiana?" tanya Devano celingak celinguk.


sebelum Mommy bersuara, Kiana sudah berjalan mendekat dengan rambut yang sedikit lembab menandakan ia baru saja keramas, lebih tepatnya berendam memadamkan rasa gugup, cemburu, dan sakit yang terasa ingin membakar seluruh tubuhnya saat ini.


Devano bisa melihat jelas pancaran mata yang penuh luka itu..


"Daddy, Mas.." sapa Kiana sambil menyalami mertua laki lakinya dan di balas pelukan hangat dan sayang oleh sang papa mertua.


kehadiran Balqis membuat Kiana sungkan menyambut dekat dan menyalami Devano seperti hari hari sebelumnya.


Balqis tersadar dan juga segera ikut menyalami papa mertuanya, namun berbeda dengan Kiana Daddy hanya mengusap kepalanya.


"Mas boleh kita bicara?" tanya Balqis akhirnya.

__ADS_1


"Mbak, tolong siapkan kamar tamu!" ucap Devano memberi kode pada pelayan dirumah itu dan segera menyeret koper Balqis ke kamar tamu.


Balqis mengernyitkan alisnya, kamar tamu? kenapa tidak dikamar Devano?!


namun Balqis tidak berani protes, mengingat ini adalah rumah mertuanya.


"kita bicara nanti setelah aku membersihkan diri, ikuti pelayan itu!" Balqis hanya menurut dan mengikuti pelayan yang tadi memasuki kamar tamu, dan yang lainnya hanya menjadi penonton tanpa ingin berkomentar.


namun ada kelegaan dihati Mom Elle, setidaknya Kiana tidak harus terusir dari kamar Devano.


"Kia, ikut aku!" ucap Devano melangkah ke kamar mereka, dan Kianapun menurut mengekori Devano dari belakang.


Mommy membuang nafasnya kasar menyaksikan drama pernikahan anaknya itu, di ikuti Daddy yang menggeleng dan memijit pelipisnya..


hingga daddypun ikut bersuara


"Mommy ikut Daddy!"


" Tuhann... drama konyol apa ini?!" umpat Mommy, sambil mengikuti langkah Daddy


.....


"Ki jika aku memberi pilihan padamu, kamu akan memilih aku atau kakakmu?"


tanya Devano tiba tiba, kini ia menatap Kiana dengan serius.


pria itu terlihat lebih segar sekarang setalah membersihkan diri dan menggunakan pakaian rumah yang tidak mengurangi ketampanannya yang terpahak sempurna.

__ADS_1


"a..apa maksud mas bertanya seperti itu?"


"jawab saja!" Devano menatap Dalam manik hitam yang terlihat dalam itu.


"kamu adalah suamiku aku bisa apa selain menurutimu, dan kakak Balqis adalah kakakku jika aku mampu aku akan menurutinya dan jika tidak mau bagaimana lagi?!"


yah meski jawabannya terdengar tidak nyambung, namun Devano bisa menangkap jika dirinya lebih diprioritaskan oleh Kiana.


"Kia aku tahu selama ini kamu dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga yang baik, dan selalu terlindungi.. kamu tidak tahu bahwa dunia luar itu sangat kejam! orang yang terlihat baik tidak selalu benar benar baik, dan juga sebaliknya orang yang kamu anggap brengsek belum tentu seperti itu!" ucap Devano dengan tenang, namun kalimatnya itu mengundang banyak opini dikepala Kiana yang memang terlalu polos untuk menghadapi kejamnya dunia yang dimaksud Devano.


"Mas aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu, tidak usah berbelit belit!"


walaupun Kiana belum paham namun dengan beberapa kejadian pahit yang ia lalui ia sudah sedikit banyak mempersiapkan diri untuk menemui kejutan kejutan pahit yang bisa saja tiba tiba menerjangnya lagi.


"aku belum bisa mengatakan apapun sekarang, tapi aku ingin kamu jangan terlalu percaya dengan orang yang kamu anggap baik selama ini Kia!'


"Mas ingin mencuci otakku untuk membenci orang orang yang aku sayangi?"


Devano tertawa! melihat Kiana kembali kesal dan berucap kasar padanya.. memang akan sedikit sulit membuat istri kecilnya yang masih labil itu mengerti.


"jangan menakutiki dengan tawamu itu!" umpat Kiana, bergidik ngeri melihat Devano yang dingin dan terkesan arogan itu tertawa lepas seperti itu!


"astaga kamu sangat menggemaskan istriku!" ucap Devano sebelum mengecup singkat pipi yang sedikit berisi itu dan berhasil membuat pipi Kiana terasa tebal dan panas.


"oke suamiku... sepertinya istrimu yang lain suduh menunggu janjimu dikamarnya untuk berbicara dengannya dan menunggu kamu menjelaskan kenapa aku berada disini, ditempat tidurmu!" ucap Kiana yang berhasil membuat luka sendiri didadanya.


"baiklah sayang, aku akan melepas rindu dulu dengan madumu yah! jangan membayangkan apa yang kami kerjakan dibawa sana!" ucap Devano menyeringai sebelum keluar meninggalkan Kiana yang siap meledak karena ia sengaja menyiram bensin ke hati yang sudah terbakar dari tadi itu.

__ADS_1


"sialannnnnn! pria psikopat gila, aku sumpain kak Balqis tidak memberimu ampun, dan membencimu sekalian menendangmu keluar dari kamarnya!" Kiana meledakkan semua emosinya dengan mengucap sumpah serapahnya sambil melempar pintu yang tertup itu dengan bantal, saat memastikan pria itu sudah pergi.


Devano yang nyatanya masih berdiri didepan pintu itu tersenyum gemas mendengar umpatan istri kecilnya.


__ADS_2