
Selamat membaca
episode ini kita main game pemikiran yah 😂😂😂
.
.
.
setelah sadar dari kematian sesaatnya itu, Kiana menyapu isi ruangan dengan pandangan nalarnya
berharap apa yang terjadi adalah sebuah mimpi buruk, namun rasa perih dan panas karena gesekan di area V nya adalah penegasan jika itu adalah kenyataan.
Kiana menguatkan hatinya dan tidak ingin menangis lagi, ia tidak akan mampu meninggalkan tempat itu dalam keadaan lemah.
berharap pria psikopat itu sudah enyah.
"sudah bangun?"
belum juga turun dari tempat tidur baritone itu mengejutkannya.
"ayo bersihkan dulu tubuhmu kemudian makan!"
shitt dia masih disini.
entah sejak kapan makanan sudah tersaji diatas nakas.
namun Kiana mencoba untuk tidak peduli, walau rasa lapar membuat tubuhnya semakin melemah.
"bisakah kau pergi meninggalkan ku? aku sangat muak melihat wajah psycho itu!" lirih Kiana melemah, tidak ada lagi suara kasar dan kata LO GUE namun ucupannya cukup melukai pria itu.
Devano mencoba untuk tidak terpengaruh.
tiba tiba deringan ponsel Devano di nakas memecah suasana itu menjadi semakin mencekam.
Kiana bisa melihat jelas nama yang tertera disana, membuat luka di dadanya kembali bernanah.
Devano melihat wajah Kiana sekilas, kemudian mengangkat telfon itu.
"...."
"aku masih sibuk!" ucap Devano dingin
sibuk?? brengsek.. kau bahkan membohongi istrimu bajingan! melukai dua wanita diwaktu yang sama.
__ADS_1
Kiana mencoba bangkit, namun Devano menariknya kedalam pelukannya.
ingin rasanya ia teriak dan mengumpat, namun ia takut orang di ujung telfon yang tak lain adalah kakaknya, akan mendengar suaranya.
Kiana berusaha melepaskan diri, namun Devano merengkuh erat tubuhnya dan menghujamnya dengan ciuman di pucuk kepala
Tuhan, dosa apa yang aku lakukan.
entah apa yang dikatakan Balqis di ujung telfon namun Devano tidak peduli.. tatapannya terkenci pada bibir Kiana yang sedikit bengkak membuatnya kembali On.
"aku akan menelfonmu nanti" Devano mematikan telfon sepihak.
"Lepaskan aku brengsek, kau ben_ umhhppp_!" tanpa berkata Devano kembali ******* bibir yang sudah membuatnya candu itu.
"humphhh" Kiana berontak, namun Devano semakin mengeratkan pelukannya.
kali ini pria itu melakukannya dengan lembut. hingga dengan gemas Kiana muda menggigit bibir pria itu.
Devano langsung melepaskan pangutannya.
bibirnya mengeluarkan darah segar..
namun Devano hanya Mengusapnya dengan ibu jarinya, tanpa berkata apa apa masih enggang melepaskan tubuh ringkih Kiana.
ia membiarkan seperti itu saja...
"kamu makan yah, aku tahu sedari siang perutmu belum diisi apa apa!"
menurut saja, aku tidak akan bisa pergi dengan keadaan lemah begini.
Devano mendudukannya di tempat tidur, kemudian menyuapinya dengan telaten.
kali ini Kiana memilih menurut atau pria itu kembali menyakitinya. hingga pria itu membawanya ke kamar mandi..
jangan tanya lagi, sudah pasti Devano kembali menerkamnya berkali kali penuh gairah didalam sana. apa lagi kali ini Kiana tidak menolak dan membiarkannya saja..
Devano melakukannya dengan lembut..
bukan berarti Kiana senang menerima perlakuan pria itu, namun melawan hanya akan membuatnya semakin lelah dan lemah. dan tidak bisa dipugkiri meski hatinya menolak perlakuan pria itu namun tubuhnya menikmati.
malam panjang itu terasa tidak akan berakhir. andai tidak ada Balqis diantara mereka pasti saat ini Kiana adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
*****
pagi hari
__ADS_1
Kiana kembali terbangun, ia fikir setelah malam panjang ini dia tidak akan terbangun lagi.
"morning hon!"
astaga bagimana ia akan kabur, jika pria itu selalu siaga..
bahkan Devano sudah terlihat sangat segar menunggunya untuk membuka mata.
"kamu masih disini?"
"tentu saja, aku tidak akan meninggalkan ibu dari anak anakku!"
Tuhan apa terlalu pintar dan banyak uang hingga membuat pria ini benar benar sudah hilang kewarasannya? Kiana bergidik, bagaimana bisa ia mencintai pria psikopat seperti Devano
"ibu dari anak anakmu sudah menunggumu dirumah!" ketus Kiana.
"kamu mau kita buat anak lagi?" Devano megalihkan pembicaraan.
"bagaimana lo bisa segila ini, kakak nungguin lo kembali kerumah!" Kiana kembali ke mode LO GUE.. berarti suasana hatinya sedang normal. Kok bisa??
"hari ini kamu mau makan apa?" lagi lagi pria itu berbicara tanpa menghiraukan ucapan Kiana.
"gue fikir lo butuh psikiater!"
"aku cuma butuh kamu Kiana Azzalea Wiryawan!"
"psycho_" panggilan masuk di ponsel Devano menghentikan ucapan Kiana.
......
"hallo Dad_" jawab Devano membuat Kiana menahan nafasnya semakin gugup dan cemas.
"....."
bagaimana kalau Daddy Bastian tahu ia menghabiskan malam bersama Devano.
belum juga hilang kecemasannya ucapan Devano membuat dada Kiana terasa dihentak kaki gaja Afrika.
"Devano tidur di flat Kiana Dad."
"....."
"Devano pulang besok bawa Kiana!"
What?? mata Kiana membulat seketika.
__ADS_1