SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
BELUM ADA JUDUL


__ADS_3

Hilda mencerna ucapan Aldo, dan yah dia sudah menemukan jawabannya.


iya,,, aku lebih takut kehilanganmu. batinnya sambil menatap mata elang pria dihadapannya yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak normal.


"keadaan kita tidak beda jauh Hil, Papah menikah lagi saat aku masih kecil dan mulai saat itu aku membangun duniaku sendiri karena aku merasa ia mengkhianati aku dan ibuku, meski kami masih tinggal seatap hingga saat aku beranjak remaja dan bisa menghidupi diriku sendiri aku memilih meninggalkan rumah dan menjalani hidupku tanpa orang tua sama sepertimu."


lirih Aldo namun masih disertai dengan senyuman.


Hilda sangat mengerti dengan beban yang ditutupi pria itu.


"sekarang mari kita bangun kebahagian kita sendiri!" Aldo menatap dalam manik mata indah itu, masih dengan memegang tangannya.


Hilda menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya dengan kasar, berharap semua ketakutannya ikut terbuang..


"baiklah aku akan menikah denganmu, tapi ada syaratnya"


Mata Aldo berbinar mendengar kata ajaib yang membuatnya langsung mendapat mood booster


"syarat??


baik, katakanlah!


asal jangan saja kau memintaku membangun 1000 candi dalam satu malam, karna aku tidak punya kekuatan untuk melakukan itu." canda Aldo terkekeh.


senyum yang membuat Hilda semakin meleleh. akhirnya pria yang mendapat julukan sombong itu darinya ternyata sangat tampan ketika memperlihatkan karakter aslinya yang humoris.. dan Hilda sadar betapa beruntung nya ia di lamar pria tampan dan mandiri seperti Aldo.


"ck.. aku bukan titisan dayang sumbi!" decak Hilda menutupi kekaguman nya barusan.


"syukurlah, tp jangan manyungkan bibirmu seperti itu disini jika kau tidak ingin aku segara menarik mu pulang."


goda Aldo yang sangat dipahami Hilda.


Hilda berusaha bersikap acuh dan pura pura tidak mengerti saja, demi keselamatan jantung dan bibirnya.

__ADS_1


ia memilih kembali ke topik pembahasan


"oke, pertama kau harus mendatangi orang tuaku dan melamarku baik baik pada mereka yang paling utama ayahku! bagaimanapun aku ada di dunia ini karena mereka.


begitupun aku, aku akan menemui mereka meminta restu jika mereka sudah menerimamu."


hal yang kemarin Hilda tidak lakukan saat rencana menikah dengan Zetno, karena fikiran Hilda saat itu memang Zonk.


"tentu saja, apa hanya itu? kau tidak meminta mahar, perhiasan, rumah, atau aset aset lainnya?!"


"itu tentu saja! karena itu bukan syarat tapi kewajibanmu!" balas Hilda menanggapi candaan Aldo.


ia sekarang terdengar lebih santai dan berusaha terbuka untuk berbicara dengan calon suaminya.


apa lagi Aldo juga sudah menunjukan keseriusan nya.


"hemm... baiklah tidak masalah sayang... kalau perlu semua aset nanti atas nama kamu dan anak anak kita.. apa masih ada lagi?"


Hilda hanya mengangguk berusaha bersikap biasa biasa karena ucapan Aldo barusan meski jantungnya didalam sana terasa berdisko, dan rona wajahnya yang memerah tak biasa ia sembunyikan.


Aldo tersenyum melihat reaksi gadis polos itu.


" ekhemm.. ini yang kedua dan terakhir...


emm... aku hanya ingin kau berdamai dengan hatimu, maafkan papah Lukman, dan terimalah mama Sandra sebagai ibu sambungmu."


ucap Hilda hati hati mengucapkan kalimat terakhirnya, ia tahu ini permintaan yang sulit di penuhi Aldo tapi, dia coba saja ia sangat ingin melihat calon suaminya itu berdamai dengan keluarganya.


apa lagi Hilda sudah tau mam Sandra adalah orang yang sangat baik, begitupun dengan Papah Lukman.


"baiklah apapun untukmu!"


ucap Aldo setelah diam beberapa saat, sambil memberanikan diri mengusap wajah gadis sederhana itu yang sudah membuatnya tergila gila.

__ADS_1


sebenarnya Aldo juga sudah memikirkan tentang hubungannya dengan orang tuanya kemarin kemarin.


bagaimanapun Papah Lukman selalu memperlakukan nya dengan baik dan mam Sandra yang selalu sabar dengan penolakannya.


Hilda tersenyum dan ada kelegaan dihatinya seakan batu besar yang mengganjal organ pernafasan nya telah tanggal dan begitupun dengan Aldo.


...


sedangkan ditempat lain lebih tepatnya di kediaman Aldo, seorang wanita yang sudah berdandang cantik telah menunggunya sedari tadi dengan perasaan cemas.


ia menatap meja makan yang tersaji beragam masakan berganti dengan jam yang ada di pergelangan tangannya.


"kemana ia pergi? jam segini belum juga kembali." lirih Claudia dengan perasaan cemas


sejak ia kembali tadi sore Aldo sudah tidak ada disana.


pria itu juga tidak menjawab pesan dan mengangkat telfonnya.


"jangan bilang ia bersama bocah ingusan itu? tidak, tidak... Aldo hanya bermain main dengan gadis itu karena penasaran kenapa masih ada gadis udik di era moderen ini..." Claudia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


ia mengingat saat kuliah.. Aldo sempat tertarik dengan seorang wanita cantik dengan gaya elegan dan stylish namun hanya sebatas mengagumi karena Aldo tidak pernah mendekati wanita itu.


dari sana Claudia tau seperti apa kriteria wanita yang bisa menarik perhatian Aldo, tentu saja tidak seperti bocah ingusan itu.


"malam ini, apapun yang terjadi aku harus mengatakan perasaan ku padanya dan membahas hubungan kami.. aku tidak ingin dia semakin menyesal kemudian hari,, aku yakin dia juga mencintaiku hanya saja belum menyadarinya!" ucap Claudia percaya diri mengingat kebersamaan mereka yang tidak sebentar, dan sudah sangat dekat tidak mungkin tidak ada beni cinta tumbuh diantara mereka, fikirnya.


.


.


kembali kepada dua sejoli yang baru saja saling mencurahkan isi hati mereka.


"Emm Hilda aku ingin tanya boleh?"

__ADS_1


__ADS_2