
yang dibawah umur silahkan skip yah bestie
warning! bab ini butuh cemilan es batu
suara suara leng uhan dan des ahan terdengar begitu indah di telinga Aldo saat mencu mbu setiap inci tubuh sang istri.
entah sejak kapan pakaian Hilda seluruhnya telah tanggal, dan Aldo mengungkung nya hanya tinggal mengenakan celana panjangnya saja.
Aldo kembali menyesap bibir manis yang sudah membuat nya candu, sedangkan tangan kanannya bermain lembut di pangkal pa ha Hilda.
Hilda hanya melengu dalam bungkaman suami, menerima serangan dari jari jari Aldo yang terus mempermainkan nya dibawa sana.
sedangkan tangan Aldo memegang kedua tangan Hilda diatas kepala.
sesekali Hilda mengangkat ping gulanya dengan erangan tertahan saat rasa geli dan nikmat itu mendominasi
Hilda tidak diberi kesempatan pada Aldo untuk protes atau sekedar bertanya, Aldo terus menyumbat mulutnya dengan bi bir dan lida pria itu.
tangan Aldo terus bergerak bahkan lebih cepat dan dalam saat ia merasa Hilda mengunci seluruh badannya, dan bergetar Hebat...
"eeeemhhhh" sebuah lenguhan panjang Hilda didalam bungkaman mulut Aldo..
Aldo juga melepaskan semua kuncian nya dan mengeluarkan tangannya.
ia menatap Hilda yang terlihat masih lemas dan shyokk menerima rasa yang pertama kali ia rasa seumur hidupnya.
tadi itu apa?
Hilda merasa ia seperti habis dibanting, dibanting oleh rasa nikmat yang tidak bisa ia jelaskan dan gambarkan.
bahkan buku bukunya terasa melunak.
"ini masih permulaan sayang, ada yang lebih nikmat dari itu!"
ucap Aldo sebelum ia menenggelamkan kepalanya di pangkal pa ha Hilda membersihkan cairan licin itu.
"Aghhhh. Al..."
Hilda terkejut dengan apa yang dilakukan Aldo, tapi sensasi yang ia dapatkan membuatnya tidak bisa menolak.
"diam dan nikmati sayang"
"ta.. tapi.. itu kotor Alhhhh"
Aldo tidak menanggapi ucapan Hilda, justru ia semakin menyesap lebih dalam dan memberi jilatan lembut di setiap sisi daging empuk dan lembut itu.
__ADS_1
hanya sebentar tapi Hilda kembali mengunci badannya..
"Al.. stoppph please stopp aku mau pipisshh"
bukannya berhenti Aldo mala memainkan lidahnya dan mencacap dengan sangat rakus.
"keluarkan sayang"
Hilda tidak bisa menahannya lagi, meski ia berusaha menyingkirkan Aldo dari sana namun sesuatu mendesak itu akhirnya keluar juga..
"aghhhhhhh" teriaknya lagi disertai nafas yang memburu.
Aldo mengangkat kepalanya, menatap wajah Hilda yang terangah engah namun justru sangat menggoda.
"ma aaf" ucap Hilda merasa sudah meng en cingi suaminya. ia menutup dadanya yang polos saat sadar dengan kondisinya.
Aldo hanya tersenyum, kemudian membuka seluruh kain yang masih ada di tubuhnya.
Hilda yang tadi merasa lelah kembali terkejut saat melihat kej an tan an sang suami yang sudah berdiri dengan gagahnya.
ia merasa tenggokannya sangat kering.
memikirkan saja benda berotot dan besar itu akan memasukinya membuat sesuatu dibawa sana langsung ngilu.
"aku akan melakukannya dengan pelan!"
ia menyingkirkan tangan Hilda yang menghalangi dadanya.
ia kembali mencium kening sang istri, kemudian mencium bibir mungil itu lagi dengan penuh hasrat..
Hilda pasrah tak berdaya, ia tau cepat atau lambat ia harus melewati ini sebagai seorang istri.
Aldo turun ke leher memberi banyak kecupan, gigitan, dan hisapan disana meninggalkan tanda kepemilikan yang banyak.
Hilda yang terbawa permainan mengangkat tangannya mengelus kepala Aldo sesekali mer emas rambut sang suami untuk menyalurkan rasa nikmat yang ia rasa.
sambil men de sah sesekali
Aldo kembali memasukkan gundukan padat milik sang istri ke mulutnya melahap dan memainkan pu ting yang berdiri seakan menantangnya.
dibawa sana tangan Aldopun mulai mengarahkan miliknya menyapa li an kenik ma tan sang istri.
Hilda kembali menggila, dan mengeluarkan suara suara indahnya saat Aldo mulai menggesek miliknya dan sesekali memberi tekanan, tubuh Hildapun ikut bergerak sendiri.
Aldo mengangkat kepalanya, ia sangat menikmati wajah Hilda seperti itu.
__ADS_1
rasanya Aldo ingin menenggelamkan langsung dirinya didalam tubuh indah itu, namun ia tidak ingin menyakiti istrinya ia harus bersabar dan melakukannya dengan pelan.
Aldo tidak kuat saat melihat bibir mungil itu terbuka sedikit dan terus mendesah, ia langsung melahapnya sambil terus menggesek miliknya di bawa sana.
saat Hilda kembali mengunci badannya pertanda ia akan pele pasan lagi , Aldo merasa inilah saatnya.
ia menekan kuat miliknya membuat Hilda mengerang dalam bungkaman
Aldopun dapat merasakan tubuhnya tersengat saat sepotong miliknya berhasil masuk ke li an sempit itu terasa dicengkeram.
Aldo kembali mencium Hilda dengan penuh gai dah sambil kembali mendorong ping gulnya masuk.
cukup sulit karena Hilda berusaha merapatkan pahanya karena sakit.
Aldo memutuskan melepas bungkaman nya dan fokus pada memersatu bangsa itu
"arghhhh" erang keduanya saat semuanya tertanam sempurna.
Aldo yang menggeram nikmat sedang Hilda menggeram kesakitan bahkan sedikit air matanya keluar saat sesuatu dibawa sana terasa terkoyak
"Alhhh_"
"maaf sayang.. semuanya akan nikmat setelah ini!" Aldo meyakinkan Hilda sambil mengusap sudut mata sang istri, walau ia sendiri menggeretakkan giginya karena miliknya terasa dicengkeram erat didalam sana dan merasakan kedutan dari milik Hilda.
Aldo kembali membu ngkam Hilda dengan ciu man panasnya, lembut namun menuntut dan saat Hilda sudah mulai hanyut dan membalasnya.
Aldo mulai menarik pinggulnya dengan pelan
gesekan itu membuat nafas keduanya tercekak, kulit kulit mereka terasa ikut terangkat saat merasakan sensasi yang memabukkan, walau bagi Hilda masih tersisa rasa perih seakan teriris
Aldo kembali menusuknya dengan pelan tapi sangat dalam, membuat tubuh keduanya bergetar hebat menikmati sensai luar biasa hingga ke ubun ubun bahkan mata Hilda memutih saat kepala ke jan tan an sang suami terasa menusuk rahimnya.
Aldo terus bergerak menarik dan menusuk pelan meresapi sensasi ketika benda tumpul berotot miliknya menggesek permukaan lembut milik Hilda melahirkan getaran dan rasa luar biasa yang membuat tubuh mereka seakan tenggelam dalam kenikmatan luar biasa.
Hilda tidak kuat lagi menerima hujaman kenikmatan itu ia merasa akan keluar lagi dan lagi, ia mencengkram erat seprai hingga buku bukunya memutih
Aldo tetap bergerak dengan ritme pelan, ia tau Hilda memberi tanda akan keluar lagi tapi ia tidak ingin mengakhiri kenikmatan ini begitu cepat ia menahan saat dirinya pun terasa ingin tumpah.
dan saat Hilda bergetar hebat menerima pelepasannya ia berhenti bergerak untuk menghilangkan rasa yang hampir membuat miliknya memuntahkan laharnya juga.
"apa masih sakit?" tanya Aldo dengan deru nafas berat saat Hilda sudah lebih tenang.
Hilda menggeleng dengan tatapan sayunya, menandakan ia juga menikmati percintaan panas itu.
Aldo terenyum merekah
__ADS_1
"kalau begitu sekarang gilirangku sayang.."