
4 bulan berlalu
"jadi Erland akhirnya menyerah?" tanya Kiana merasa tidak percaya jika pria itu menyerah begitu saja.
meski Kiana sempat mengutuk pria itu tapi setelah tau perjuangannya dari sang suami dan Papi ia merasa tidak ada salahnya Balqis mencoba memperbaiki hubungan mereka.
peusahaan Erland bahkan hampir gulung tikar gara gara pria itu tidak peduli dengan perusahaannya lagi sejak Balqis meninggalkannya.
jika bukan karena Papi yang mengancam akan mengakusisi semua asetnya dan lebih tidak sudih membiarkan Balqis kembali padanya yang tidak berguna, pria itu tidak kembali dari Italia dan mungkin ia akan tetap disana mengejar Balqis meski menjadi pengemis di jalanan.
tapi, sayangnya Balqis terlanjur membentengi dirinya agar tidak luluh dengan ucapan Erland yang bisa saja menipunya.
dan saat ini kesulitan Erland meraih Balqis bertambah karena orang orang Ferrando sekarang melindungi Balqis.
baik Papi dan Daddy tidak bisa memaksa keputusan Balqis. tapi, mereka berupaya akan berbicara ketika Balqis sudah lebih tenang
"entahlah kami hanya bertemu dua kali. pertama saat dia datang ke villa dan langsung mengamuk dan menyeretku ikut dengannya! dan terakhir kami bertemu lagi bulan lalu dia mengatakan dia akan menyerah dan melepaskanku asal aku bahagia!"
Balqis mengucapkan semua kalimat itu dengan dada yang bergemuru sambil menatap Giano yang sedang bermain dengan Shanie Devana putri Devano dan Kiana yang sudah mulai tersenyum jika diajak bicara.
putra pemilik GIANmax itu semakin lengket dengan Balqis.
entah bagaimana Ferrando dengan mudah membiarkannya ikut dengan Balqis ke indonesia kemarin.
"emm apa kakak yakin tidak akan memberi kesempatan pada Erland?!"
Kiana sangat tau pria itu sudah bekerja keras untuk mengejar Balqis.
apalagi tatapan Kianapun beralih ke perut Balqis, ia tidak tega keponakannya lahir tanpa sosok ayah.
Balqis memang sudah mengakui kehamilan nya itu pada Kiana dengan perjanjian Erland jangan sampai tau.
"kesempatan apa? bahkan kakak sangat takut sekedar melihat wajahnya Ki.. dia terlalu pemarah. cukup aku yang sakit hati aku takut anakku nanti merasakannya!" lirih Balqis mengerti kekhawatiran Kiana.
meski dibalik kebencian dan ketakutan nya cinta dan kerinduan nya tidak luntur sedikitpun.
"dia bahkan tidak mengharapkan aku hamil! entah apa yang akan ia lakukan pada kami jika tau aku membawa benihnya!"
__ADS_1
Balqis menitikan air mata mengusap perutnya yang mulai terasa, ia ingat saat Erland tiap malam mencekokinya dengan obat.
melihat kebencian Erland ia yakin itu pil Kb
"kak jika apa yang kau pikirkan sebenarnya tidak sama, bagaimana?"
Balqis menggeleng, dia yakin tak salah
Balqis kembali mengingat saat Erland mengejarnya sampai ke Roma
Flashback on
"Balqis..."
suara tidak asing itu mengalihkan perhatian Balqis termaksud dua pria beda generasi dihadapannya.
sendok Balqis bahkan sudah jatuh tanpa ia sadari saat bola matanya menangkap sosok yang dihindarinya itu.
bahkan aura pria itu seperti malaikat pencabut nyawa.
Ferrando menatap pria yang berdiri di ambang pintu itu dengan wajah datarnya namun dalam hati ia bertanya siapa pria yang mau menemui wanita itu sepagi ini.
bahkan ia sempat melihat bagaimana Balqis tersenyum lepas, Erland bahkan lupa kapan wanita itu tersenyum begitu padanya.
dada Erland bergemuru, akal sehatnya kembali di tutupi rasa marah dan cemburu membuat semua rencana yang telah disusun rapi menjadi sirna,
kata yang ia konsep semalaman di otaknya menguap entah kemana.
tanpa mengeluarkan sepata kata lagi ia menarik tangan Balqis dari sana.
Balqis yang ketakutan jelas saja memberontak
"tolong lepaskan aku Erland!" seluruh tubuh wanita itu bergetar menandakan ketakutan membuat Gian ikut ketakutan
"hentikan! kau tidak bisa bersikap kasar seperti itu pada wanita!"
"diam, ini bukan urusanmu! dan sebaiknya kau pergi dan jangan mendekati istri orang lain!"
__ADS_1
Ferrando sekarang mengerti jadi ini pria yang membuat Balqis berlari sampai ke Roma.
"Dad, tolong mommy dari pria jahat itu!" disaat genting rese Giano mala kumat membuat orang dewasa disana semakin meradang.
yah bagi Giano semua wanita yang sudah dekat dengan Dadnya memang ibunya.
Erland baru menyadari kehadiran sosok kecil itu, namun ia sudah terlanjur menggila.. apalagi mendengar bagaimana bocah itu memanggil istrinya ia semakin meradang!
"ayo pulang disini bukan tempatmu!"
Erland menarik kasar wanitanya tanpa sadar apa yang ia lakukan justru membuat Balqis semakin memperkuat benteng antara dirinya.
"tolong Erland aku tidak mau lagi kembali bersama baji ngan sepertimu! kau bisa mengencani *** *** sebanyak yang kau mau jadi tolong lepaskan aku!"
ucapan Balqis sungguh menghancurkan harga diri Erland, tapi itu salahnya sendiri yang telah sengaja membuat Balqis salah paham padanya.
"Balqis kita bicarakan ini dirumah kita!"
Erland mulai melunakkan suaranya, namun Balqis terlanjur sudah ketakutan dan menulikan pendengarannya.
sedang Giano yang ingin menyelamatkan ontynya dari orang jahat itu di cekal oleh sang Daddy.
Ferrando merasa ia tidak punya alasan untuk ikut campur dengan masalah pasutri itu, kecuali jika Balqis yang meminta perlindungan padanya.
saat melihat Erland sudah melunak ia merasa ia seharusnya pergi dan tidak ikut campur, apalagi tontonan seperti itu tidak layak untuk putranya.
"selesaikan permasalahan kalian dengan cara yang baik baik!" ucap Ferrando menggendong putranya yang masih bersikeras ingin tinggal, dan memberontak
namun otak Balqis tiba tiba butuh saat melihat Ferrando dan Giano akan pergi, ia semakin takut dengan Erland.
Balqis mendorong Erland sekuat tenaganya saat pria itu lengah.
kemudian berlari lebih cepat dan mendahului Ferrando yang akan masuk ke mobil nya membuat sang empuhnya terkejut.
"tolong lindungi saya dari pria kejam itu! saya akan melakukan apa saja untuk membalas anda!"
Balqis mengiba dengan tubuh bergetar menandakan ketakutan nya.
__ADS_1
Ferrando menatap Balqis dan putranya bergantian sebelum memberi kode kepada para bodyguard nya di belakang yang membawa mobil lain untuk menghalangi Erland yang mengejar Balqis.
Flashback off