SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
BELUM ADA JUDUL


__ADS_3

pagi hari


"Al kau tidak sarapan dulu? dan kau mau kemana pagi pagi begini?"


tanya Claudia saat melihat Aldo sudah rapi dengan stelan kantornya berjalan melewati meja makan, bahkan sakin buru burunya ia melupakan ada Claudia dirumah itu.


"Clau...


aku buru buru keperusahaan Djatmico, aku sarapan nanti saja disana!"


"tapi Al kondisimu..


"bukannya kau sendiri yang mengatakan semuanya sudah baik baik saja Clau, lagian aku harus memepercepat menyelesaikan pekerjaanku dan segera resign.. mengingat waktuku tinggal 12 hari dari sekarang!" ucap Aldo sambil meraih gelas dan meminum segelas minuman herbal yang Claudia siapkan tiap pagi dan sebelum ia tidur.


"Waktu?" lirih Clau dengan nada bertanya


"iya 12 hari sebelum hari H pernikahanku Clau" ucap Aldo mengerlingkan matanya


sedang Claudia kembali tersentak, kenapa secepat itu bahkan ia belum meminta kesempatan pada Aldo agar mempertimbangkan dirinya yang sudah menemani Aldo sekian tahun, daripada gadis kecil yang dianggapnya masih ingusan.


"Clau maaf aku harus pergi sekarang" Aldo menepuk bahu sahabatnya itu sambil tersenyum


"Aldo ak_


"nanti kalau aku pulang Clau!"


potong Aldo dengan langkah cepat menuju garasi mobilnya.


*


*


*


"ternyata kau hanya ingin menemui gadis itu sampai melupakan sarapanmu Al?!"


Calaudia tersenyum getir saat ia melihat mobil sport Aldo berhenti didepan sebuah rumah sederhana dimana ia melihat dari jarak aman, awalnya Aldo dan Hilda berdebat namun akhirnya gadis itu ikut saat Aldo sempat seperti ingin menggendongnya.


Claudia mengikuti kemana mereka pergi hingga akhirnya berhenti di depan kampus yang ia yakini kampus gadis yang menjadi pesaingnya itu.


setelah memastikan Aldo pergi, Claudia langsung turun dari mobilnya dan menghampiri gadis yang sudah merebut pria pujaannya

__ADS_1


"Hilda..."


Claudia langsung memanggil nama yang sebenarnya ia tak sudih menyebutnya


"Dok Claudia?"


ucap Hilda bingung melihat kehadiran wanita yang selalu mengekori pria gila yang mengajaknya menikah dalam waktu dekat dan sesingkat singkatnya itu.


"aku ingin bicara empat mata denganmu!"


"tap_


"hanya 30 menit!"


Hilda melihat jam lusuh dan sederhana dipergelangan tangannya, jam yang entah sudah berapa puluh kali ia ganti batreinya.


" masih ada 1 jam menunggu dosen datang!" gumamnya saat tau dosen di kelas hari ini memundurkan jam kuliahnya karena sesuatu urusan yang mendadak.


*


*


*


"jadi ada hal penting apa Dok Claudia jauh jauh menemuiku di kampus?"


karena seingat Hilda dokter itu selalu menatapnya sinis seperti ia memiliki utang yang besar pada Claudia


"baiklah karena aku juga tidak suka basa basi.. langsung saja, aku minta jauhi Aldo dan tolak pernikahan antara kau dan dia! apa kau tau? aku dan dia adalah cinta dari jaman kuliah hingga saat ini! jadi jangan pernah bermimpi untuk merebut dia dariku"


ucap Claudia menggebu gebu sontak membuat Hilda terkekeh, ia sudah dapat menebak sebelumnya alasan dokter itu selalu menatap benci padanya.


jadi kau marah karena pria sombong dan mesum itu. gumam Hilda


"dasar gadis kampungan,, apa yang lucu sampai kau tertawa?"


"maaf dokter yang kekotaan atau kenegaraan sekalipun... kenapa kau tidak meminta Aldo saja untuk menjauhiku kalau kau begitu percaya akan cinta kalian yang dari jaman kuliah itu" sarkas Hilda namun dengan wajah santai


melawan wanita dengan mulut bercap bon cabe seperti Claudia ia harus tenang


"kau_"

__ADS_1


"oww.. atau jangan jangan hanya kau yang cinta tapi, Aldo tidak?" cibir Hilda dengan senyum mengejek, seakan menyiram bensin dikepala Claudia yang sudah terbakar emosi sejak semalam.


"gadis ingusan.. kau tidak tau seperti apa hubunganku dengan Aldo! bahkan kami sudah tinggal seatap, dan seorang pria dewasa tinggal dengan wanita cantik dan seksih sepertiku apa kau bisa tebak apa saja yang terjadi didalam sana?"


"emmm sayang sekali aku tidak punya waktu memikirkan apa yang terjadi dokter Claudia, dan satu lagi jika kau keberatan dengan aku dan Aldo yang akan menikah aku sangat berterima kasih jika kau mau menggantikanku menikah dengan pria gila itu!" ucap Hilda dengan tenang kemudian hendak berjalan menjauhi Claudia yang belum puas mengumpatnya


"tunggu Hilda..


aku ingatkan kau tidak pantas bersama Aldo! memang aku akui tidak bisa memintanya menghentikan pernikahan kalian! tapi kalau memang kau gadis baik baik kau tidak akan merusak hubungan orang lain, dan kalau kau berani merusak hubunganku dengan dia kau pasti akan mendapat karma dimana Aldo nanti akan selingkuh saat kau sudah sayang sayangnya dengan dia!" acam Claudia tak berhenti mencari cara agar Hilda menolak Aldo.


Hilda hanya tersenyum sinis menatap Claudia yang terlihat setengah frustasi untuk menghasutnya entah apa yang ada difikirannya namun ia memilih meninggalkan wanita yang sama gilanya dengan Aldo itu, masih pagi pagi sudah membuat moodnya berantakan.


*


*


*


sedang dikantor Djatmico Aldo sibuk berkutak dengan beberapa berkas ditangannya diselingi dengan sesekali menatap leptop dihadapannya hingga seseorang datang menghentikan kegiatannya.


"Dad..."


"ck.. siapa yang mengijinkanmu bekerja sekarang? apa kau fikir malaikat maut bisa diajak bernegosiasi berkali kali?" umpat Daddy Bastian saat mendapati Aldo sudah diruangannya mengerjakan beberapa proposal penting kerena Devano harus terbang kebeberapa negara dalam beberapa hari ini mengunjungi anak cabang perusahaan dan juga proyek barunya bersama asisten baru yang telah dipilih menggantikan Aldo


"Dad.. kau tau aku tidak takut berhadapan dengan malaikat maut selama kau masih menjadi tangan kanan sang pemberi kehidupan" timpal Aldo terkekeh masih dengan berkas ditangannya.


"ck.. jadi kau beneran akan menikah pekan depan?" ucap Daddy mengalihkan pembahasan


"yess.. dan tentunya aku menunggu hadiah pernikahan terbaik darimu" goda Aldo tanpa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya


Daddy Bas hanya tersenyum ia kagum melihat jiwa muda yang penuh semangat seperti Aldo, Daddy yakin hanya beberapa tahun Aldo akan mengepakkan sayap perusahaannya sendiri yang sekarang sudah mulai berjalan.


dengan gajinya yang tidak sedikit serta beberapa bonus selama ia bekerja di Djatmico beberapa saham telah ia beli, dan tinggal menunggu sambil mendirikan perusahaannya sendiri untuk mencapai kesuksesannya.


"Dad kenapa kau diam saja aku meminta hadiah? ingat hadiah yang besar, mengingat Djatmico sekarang uda berkembang pesat hingga manca negara!" goda Aldo kembali sambil menyusun berkas yang telah rampung.


meski ia tidak benar benar meminta, karena menggoda Dad Bastian adalah kesenangan sendiri untuknya.


apalagi mengingat ini hari terakhir ia menjabat sebagai tangan kanan pemilik Djatmico, dan mungkin kedepannya ia akan sibuk dengan perusahan sendiri dan kehidupan barunya bersama Hilda.


"kau tenang saja aku sudah menyiapkan hadiah yang pantas untukmu!"

__ADS_1


__ADS_2