
HAPPY READING
.
.
.
.
.
Disebuah rumah yang tak kalah besarnya dengan rumah kebesaran keluarga Wiryawan..
Balqis yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur king size itu baru saja selesai menghabiskan makanannya yang diantar oleh pelayan untuknya.
Tak
Tak
Tak
suara langkah yang diyakini sebagai Tuan rumah itu masuk kekamar dimana Balqis beristrahat, membuat pelayan yang masih terlihat muda itu langsung pamit keluar setelah memberi Balqis obat yang sudah dianjurkan dokter.
Balqis membuang tatapannya jauh ia tidak ingin menatap mata pria paruh baya 40an itu.
pria itu hanya menggeleng kesal..
"bagaimana kamu bisa sebodoh ini Balqis? aku mendidikmu agar kamu bisa lebih hati hati dan mereka tidak curiga pada kita!" ucap pria itu dinging, namun masih ada rasa kasihan melihat wanita hamil itu..
Balqis hanya menatap keluar jendela dengan air mata yang bercucuran namun tidak ada isakan dengan bibir yang ditangkup.
Pria paruh baya itu membuang nafasnya kasar sebelum ia berkata lagi.
"pulihkan kesehatanmu, jangan sampai anak itu kenapa napa!" ucapnya lagi sebelum keluar dari kamar besar itu.
dirumah baru Kiana dan Devano
__ADS_1
kehebohan terjadi tak kalah Kiana yang sudah lapar ingin memasak namun sayangnya ia tidak bisa memasak apapun selain merebus mie instan..
"sayang apa yang kamu lakukan?" pekik Devano tak kala menemukan Kiana sudah membuat Dapur itu seperti kapal pecah.
bahan masakan yang sudah dicincang terhambur dimana mana, air merembet, dan wadah pun bergeletak dimana mana.
sedangkan kompor sudah menyalah, dimana Kiana menumis bumbu yang sudah diraciknya membuat cacing perut Devano meringis ketakutan hanya menciumnya..
"aku lapar tapi kamu tidak memberiku makanan, makanya aku akan memasak sendiri aku tidak mau mati konyol disini"
balas Kiana ketus sambil menumpahkan beberapa bahan seperti daging, dan beragam jenis sayuran hijau dan kentang yang sudah dicincangnya dengan bentuk yang tidak beraturan, dan juga menambahkan 3 butir telur...
Kiana melakukannya dengan percaya diri seolah menganggap dirinya seperti Chef yang baru saja dilihatnya tadi di youtobe.
"sayang, biar aku saja yang masak yah atau kita Dilevery saja?!" bujuk Devano ia lebih takut jika Kiana meledakkan dapurnya itu dan mereka mati konyol sebelum memiliki generasi penyambung.
"kau meragukan aku memasak?" tanya Kiana dengan kesal..
"tidak sayang bukan begitu!"
Kiana tetap fokus pada masakannya menuangkan berbagai bumbu, kecap, saus lombok, saus tomat, saus tiram, lada, dan cuka dimasak sampai dagingnya dianggap matang sedangkan beragam sayuran hijau sudah sangat layu tidak berbentuk.
Devano tidak bisa berkata kata lagi, ia hanya mengawasi sang istri yang fokus dengan kesenangannya agar tidak melakukan percobaan bunuh diri dengan memandikan masakan yang mengerikan itu.
beberapa menit setelah yakin sudah matang, Kiana mamatikan kompor kemudian memasukkan masakan yang lebih menyerupai sup neraka itu ke mangkok besar.
"ini panas, jadii tugasmu membawa ini kemeja makan!" ucap Kiana kemudian berlalu menuju meja makan.
Devano hanya pasrah menatap kekacauaan yang dibuat Kiana didapur itu.
"sabar Van, setidaknya dia sudah melupakan permintaannya untuk bercerai dan kembali kerumahnya! nanti cari pelayan untuk membereskan kekacauan ini!"
setelah meletakan masakan yang baunya saja sudah menyengak hidung itu dimaja makan, Devano ingin segera melarikan diri sebelum Kiana memintanya untuk mencicipi sup bunuh diri itu.
"mau kemana?" teriak Kiana yang baru saja mengambil mangkok kecil.
Devano menghentikan langkahnya dan tersenyum memaksa.
__ADS_1
"sayang tadi Aldo menelfon memintaku mengirimkan beberapa file penting padanya, aku keatas dulu yah!"
"kalau kamu pergi aku akan meminta mang Dani menjemputku!" ucap Kiana santai, membuat Devano terkejut dan kembali menghentikan langkahnya.
"baiklah sayang aku akan menemanimu disini, tapi aku masih kenyang jadi kamu makanlah duluan!"
Devano duduk disamping Kiana yang sudah mengisi mangkok kecil itu.
"siapa bilang aku yang mau makan? aku masak ini khusus untuk kamu. dan aku sudah memesan makanan Dilevery yang lain!"
Devano terkejut menatap tidak percaya, apa sedendam ini Kiana padanya sampai mengerjainya habis habisan!
"sayang aku sungguh masih kenyang!"
wajah kiana mendadak murung dan mununjukkan kesedihan..
"baiklah aku buang saja, kamu memang tidak menghargai usahaku!"
Kiana mengambil mangkok itu dan ingin segera berlalu.
"Ki... baiklah aku makan yah!"
Devano menyentuh tangan Kiana, entah kenapa sekarang ia merasa lemah dihadapan istri kecilnya itu, padahal selama ini dia bisa memaksa Kiana melakukan kemauannya.
"benarkah?" mata Kiana berbinar.
Devano mengangguk pasrah.
"suapin!"
minimal ia bisa ambil kesempatan untuk bermanja.
Kiana segera menyuapkan makanan aneh itu kemulut Devano..
"tidak terlalu buruk!" ucap Devano memaksa menikmati masakan yang membuat lidanya itu seperti digelitik..
Kiana tambah senang dan terus menyuapi Devano dengan semangat!
__ADS_1