SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
Syhokkk...


__ADS_3

panggilan alam membangunkan Kiana dari tidurnya.


dengan perlahan ia merenggangkan otot ototnya..


"Auhhh" pekiknya saat ia merasa seluruh tubuhnya sakit seperti habis digebukin.


perlahan ia mengumpulkan kesadaranya, dan membuka matanya.


ia terkejut saat melihat lengan kokoh memuluknya dari belakang, jantungnya mulai maraton saat merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan hangatnya kulit orang yang memeluknya... itu benar benar terasa nyata.


Kiana dengan hati hati membalikkan badannya, dan..


"arghhh" ia kembali memekik bagian intinya terasa lengket kering, perih dan panas.


aghhhh... ini enggak mungkin seperti peikiran gue.. enggak.. enggak..


Kiana mengurungkan niatnya untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya. bayangan malam panjang itu kembali berputar dikepalanya.


meski yang ada difikirannya adalah Devano, tapi ia tidak yakin pria itu benar benar Devano.. apalagi efek minuman semalam itu benar benar menghilangkan akal sehatnya.


ia mulai takut, gelisa, dan entahlah!


yang ia fikirkan sekarang, bisakah ia meminjam pintu kemana saja milik doraemon. Papi akan membunuhnya setelah ini!


Kiana mulai bergetar dan menangis memikirkan nasibnya, hingga membangunkan pria yang baru saja beberapa jam tertidur karena semalam tidak mampu memejamkan matanya mencerna apa yang telah terjadi.


"kamu sudah bangun?"

__ADS_1


belum Kiana menjawabnya, pintu itu diketuk keras dari luar.


Kiana menatap pria yang sudah duduk itu ternyata benar benar Devano. ada sedikit kelegaan di dadanya... lega?? bolehkah dia seegois itu?


suara ketukan semakin keras kembali terdengar..


Kiana dan Devano sama sama terkejut, belum sempat mereka memikirkan tindakan. suara bariton dari luar yang tak asing membuat Kiana semakin gemetar ketakutan.


"cepat berikan kunci cadangannya!"


Devano memutar tubuh Kiana agar mengadap kearahnya dan memeluk wanita ketakutan itu dengan erat, menenggelamkan ke dadanya.


WANITA? yahh Devano baru saja memberinya gelar baru.


beberapa detik kemudian pintu terbuka dengan keras


beberapa saat setelahnya muncul wajah Shok mami Ningrum dan mama Devano yang tidak menyangka jika yang bersama Kiana di kamar itu adalah Devano.


sedangkan Mami Ningrum sudah merosot kelantai.


tadi pagi pagi, seseorang menelfon ke rumah dan mengatakan Kiana tidur dihotel bersama seseorang.


sontak membuat Papi sangat murka, apalagi dari kemarin sore Kiana tidak menjawab telfon dan pesan mereka.


Mami berusaha menenangkan Papi agar tidak gegaba, dan membuat keruh suasana hingga berita ini dibesar besarkan, dan ia meminta biar dia saja yang menjemput Kiana.


kebetulan mama Devano pagi ini juga disana, ia datang membawa baju couple mereka untuk acara resepsi pernikahan Devano dan Balqis.

__ADS_1


dan akhirnya ia menawarkan diri untuk menemani besannya yang terlihat shok itu ke hotel.


dan disinilah mereka sekarang!


mendapati anak anak mereka berpelukan dibawa selimut seperti suami istri dengan pakaian berserakan dimana mana.


tanpa dijelaskan mereka tahu apa yang sudah terjadi dikamar ini.


Ningrum merosot kelantai tidak mampu berkata apa apa.


kecewa, malu, marah itulah yang dirasakannya saat ini!


bolehkah ia memukul anaknya itu sekarang?


bahkan untuk menopan tubuhnya saja ia tidak kuat.


jadi lebih baik ia meminta tuhan mengambil nyawanya saat itu juga..


bagaimana menjelaskan ini pada suaminya, dan para sesepu dikeluarganya yang sudah tahu Devano akan menikah dengan Balqis.


"jeng.. maafin akan aku yah!" ucap Mama Elle penuh penyesalan, merasa gagal mendidik anaknya.


meski sebenarnya beberapa hari terakhir ini ia dan suaminya sering berdebat dengan Devano karena bukannya menikahi anak kandung sahabatnya itu mala Devano ingin menikahi gadis yang baru saja bergabung dikeluarga itu.


Mama Elle sudah bercita cita sejak dulu untuk menikahkan Devano dengan Kiana saat dewasa.


namun ia tidak menyangka saat acara lamaran dan pertunangan, orang tua Kiana salah paham dan mengira mereka melamar Balqis untuk putranya.

__ADS_1


namun mereka juga sungkan meluruskan kesalah pahaman itu, melihat Balqis yang terlihat sangat senang waktu itu, dan keluarga Wiryawan juga mendukung..


sedangkan Devano hanya diam menerima keputusan kedua keluarga besar itu..


__ADS_2