SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
Kakak vs Adik


__ADS_3

HAPPY READING


"wanita itu ibarat sendal jempit bagi lelaki yang menganggap dirinya kaki, namun mahkota bagi laki laki yang menganggap dirinya tinggi seperti kepalaπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜"


.


.


.


.


.


"Tuan apa yang kamu _" ucapan Hilda tepotong saat Aldo menarik dan menghimpit badannya bersadar dipintu..


Hilda bisa merasakan aura yang tidak enak sekarang...


apa lagi tatapan Aldo seperti singa buas yang siap menerkamnya hidup hidup.


"Tuan.. aku minta maa_ ummphh.."


ucapan Hilda terpotong saat Aldo kembali membungkam mulutnya..


Hilda berusaha mendorong Aldo namun pria itu semakin memperdalam lummatannya membuat nafas Hilda tercekak.


entah setan apa yang merasuki Aldo sekarang ia hanya mengikuti amarah dan nafsu yang mengendalikannya.


tak tanggung ia bahkan megangkat Hilda dan mengalungkan kaki wanita itu di pinggangnya tanpa melepas pangutannnya.


Hilda hanya memekik dan merasakan setiap sensai yang menghujam tubuhnya.


bukan murahan namun mencoba realistis siapa yang bisa menolak saat gejolak gairah itu sendiri menghujamnya.


bahkan Aldo sudah semakin jauh setelah menulusuri leher jenjang itu ia mengangkat naik baju Hilda dan meraup dua gundukan itu kedalam mulutnya tanpa peduli bagaimana perasaan Hilda saat ini.


"ughhhh" lenguhan lembut Hilda membuat Aldo semakin gila dan ingin menenggelamkan dirinya segera ke dalam tubuh padat itu.


Aldo kembali membungkam wanita itu dan mebawanya kekamar yang tidak jauh dari sana.


hingga ia membaringkan tubuh Hilda diatas ranjang berukuran sedang dan menindihnya.


"Tuannn.." lirih Hilda saat Aldo melepaskan pangutannya.


Aldo mengangkat kepalanya dan menatap mata yang tidak tahu sejak kapan mengeluarkan airnya.


dengan nafas memburu Aldo kembali tersadar dari kebodohanya dan segera bangun dari sana.


Aldo mengusap wajahnya kasarnya berusaha untuk menguasai dirinya sendiri..


entah kenapa ia sekarang sangat lemah!


ia menunduk disisi ranjang dengan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.

__ADS_1


Hildapun mulai bangkit, ia merasa sangat terluka dengan sikap Aldo padanya..


bukan hanya ciuman pertamanya, bahkan pria itu sudah menikmati kedua gundukannya dan meninggalkan banyak jejak merah di tubuh bagian atasnya.


Hilda sudah merasakan sakit berkali hingga ia tidak dapat menghitungnya lagi.. membuat ia menjadi wanita kuat dan tidak mudah menangis.


bahkan saat terhina dan terluka seperti ini ia berusaha keras untuk tidak memekik dan terisak.


namun tiba tiba


pekikan tangis keluar dari mulut pria yang duduk dibibir ranjang itu sambil menyembunyikan wajahnya ditelapak tangannya.


Hilda menatapnya bingung!


pundak kokoh pria itu terlihat begetar


bukankah seharusnya Hilda yang harus menangis histeris karena pelecehan yang dilakukan Aldo padanya?


Hilda tersenyum getir menertawakan nasibnya.


hingga ia berdiri setelah merapikan pakaiannya dan menguatkan dirinya..


"Tuan sebaiknya anda kembali, ini sudah larut malam!"


Aldo tidak bergeming..


hingga beberapa menit..


"besok pagi aku akan menjemputmu!" ucap Aldo sebelum benar benar pergi dari sana, meninggalkan luka dan kebingungan bagi Hilda.


*****


diwaktu yang bersamaan


Devano frustasi karena Kiana tidak ingin tidur bersamanya.


Kiana masih mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya sangat kesal dan malu.


istrinya itu memilih tidur bersama Mami dan Papi diruang tamu dan Kiana mengadukan semua itu pada Mami.


Mami hanya tersenyum dan meminta Kiana untuk memberi Devano waktu untuk membuktikan cintanya padanya Kiana.


besok adalah hari yang panjang..


jadi mami memintanya untuk segera beristrahat.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


pagi hari Hilda buru buru keluar dari rumah sebelum Aldo menjemputnya.


namun saat ia baru keluar melangkahkan kakinya, sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya.


"kenapa dia bisa sepagi ini.." lirih Hilda melihat mobil itu.

__ADS_1


beberapa detik berikutnya.


seorang pria keluar dari mobil itu.


"Zetno?" lirih Hilda.


dengan cepat pria itu mendekati Hilda sebelum wanita itu kabur lagi.


"ikut aku!"


Zento langsung menarik tangan Hilda untuk masuk kemobil.


namun dengan cepat Hilda menepis tangan pria itu..


Hilda benar benar merasa jijik mengingat kejadian kemarin dikampus, Hilda sudah sering mendengar gosip tentang Zetno namun Hilda tidak percaya sampai ia melihat sendiri dengan mata kepalanya kemarin.


"kamu mau apa kesini?" Hilda tidak segang memperlihatkan kemarahannya


"Hilda aku ingin bicara baik baik denganmu!"


"maaf aku sedang buru buru!" Hilda segera melangkah, namun Zetno lagi lagi mencekalnya.


"lepaskan tanganmu itu!" pakik Hilda menggelegar


hingga seseorang dari belakang menariknya, membuat Hilda maupun Zetno terkejut.


"Bang!" lirih Zetno, membuat Hilda mengernyit bagaimana kedua pria brengsekk itu bisa saling kenal.


"kamu mau apa kesini?" tanya Aldo menatap adiknya itu tidak suka.


"aku ingin menjemput kekasihku ke kampus!"


ucap Zento membuat Hilda sangat murka.. jika itu dilakukan Zetno kemarin kemarin mungkin ia akan bahagia, namun ia bersyukur ia mengetahui sifat asli Zetno yang suka mempermainkan wanita sebelum ia tenggelam semakin dalam dengan perasaannya.


"kekasih?" Aldo memicingkan matanya menatap adiknya itu dan tersenyum miring.


kemudian ia menyibakkan rambut hilda yang menutupi lehernya.


"benarkah dia kekasih mu?" tanya Aldo dengan tatapan tajam pada Hilda.


Hilda langsung menggeleng kuat.


mata Zetno memerah saat melihat tanda merah kebiruan dileher Hilda yang ditinggalkan Aldo semalam di sana.


tanpa disadari Hilda, Aldo sengaja menunjukkan itu pada Zetno.


"yah sudah aku pergi dulu dengan calon kakak iparmu! sebaiknya carilah wanita lain untuk menjadi penghangat tempat tidur sesaatmu!" ucap Aldo menarik Hilda dari sana.


mata Hilda membulat mendengar ucapan Aldo, namun ia lebih memilih ikut Aldo daripada harus terlihat menyedihkan dihadapan Zetno.


ia juga terkejut mengetahui fakta jika Zetno bersaudara dengan Aldo..


namun lebih tepatnya ibu mereka berbeda.

__ADS_1


__ADS_2