
kamar Kiana
Devano dengan penuh cinta memijit betis Kiana
"sudah mas! aku ingin kau mengelus perutku!" pinta Kiana manja
dan dengan senang hati Devano melakukan kegiatan rutinnya itu selama beberapa bulan terakhir ini
"hai baby girl... kau sedang apa didalam sana sayang?" ucap Devano mengelus perut Kiana dengan lembut sambil sesekali mengecupnya
ia sudah sangat tidak sabar menantikan kehadiran bayi yang di taksirkan baby girl itu.
meski awalnya mereka pernah mengatakan tidak ingin cari tahu jenis kelamin babynya biar jadi kejutan, karena mereka juga tidak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya.. namun entah kenapa tiba tiba Kiana ingin tahu saat ia melakukan kontrol bulanan.
"cedang ngelumpi Dad" ucap Kiana dengan cadel menirukan suara baby
"ngerumpi? masa iya sayang baby ngerumpi?"
"dan masa iya baby bisa jawab pertanyaan konyolmu itu mas?" balas Kiana ketus tidak terima Devano meragukan jawabannya
"pertanyaan konyol?? sayang apa yang salah dengan pertanyaanku?"
"CEO Djatmico bertanya baby sedang apa? emang didalam perut, baby bisa ngapain mas?"
"huft.. sayang aku hanya bertanya saja..
apa kamu lupa saran dokter untuk selalu mengajak baby kita berkomunikasi agar merangsang pertumbuhannya."
"kau bilang aku pelupa?" sewot Kiana dengan suara meninggi
what? kumat lagikan !
"sayang kapan aku bilang istriku yang cantik jelita dan seksiih ini pelupa? kau pasti salah dengar sayang!"
"sekarang kau bilang aku juga tuli?? Maaaaaas!!"
salah ucap lagi sekarang siapkan telingamu Devano mendengar ocehannya istri tercintamu yang sensitif ini berjam jam kedepan!
*
*
__ADS_1
*
di waktu yang sama
di dalam mobil taxi online Hilda menatap senja yang indah melalui jendela mobil.
"keindahan yang begitu sempurna tapi sayangnya hanya sebentar, bahkan setelahnya akan ada kegelapan!" lirih Hilda dengan suara kecil, masih memandang senja..
membuat sang supir ikut menimpali ucapannya
"namun dalam kegelapan akan ada ketenangan, dan setelahnya akan lebih indah dengan pagi yang cerah "
"ehh?" Hilda memandang sang supir taxi online sejenak lalu melihat ke jendela lagi tanpa menanggapi perkataan supir barusan.
sang supir taxi hanya tersenyum.
setelah sampai di halaman rumahnya, Hilda turun dan berjalan dengan beban dihatinya
ia mengingat kilasan cerita cintanya, dimana ia pernah merasa mencintai Zetno namun pria itu menolaknya, dan disaat dia mencintai pria lain Zetno justru mengemis cintanya dan pria yang ia cintai justru tidak mencintainya.
Hilda membuka kunci rumahnya tanpa sadar sejak tadi seseorang telah menunggunya disana
damn
Hilda terjungkit
"Zetno?"
"aku merindukanmu" ucap Zetno tersenyum dengan tatapan teduh.
ia memang sudah mengikhlaskan Hilda untuk memperjuangkan perasaannya kepada Aldo, namun ia tidak bisa menolak rasa rindu yang datang tanpa undangan. (dilarang menyanyi)
"Zetno ak_" ucapan Hilda terputus saat pria tampan yang pernah membutakan hatinya itu langsung memeluknya.
"sebentar saja..." lirih Zetno saat ia merasa Hilda akan mendorongnya.
dan dengan berat hati Hilda membiarkannya sebentar.
Hilda kembali tersenyum getir..
ia benar benar merasa takdir sedang mengajaknya bercanda.
__ADS_1
seandainya Zetno seperti ini sebelum ia bertemu dengan Aldo ia pasti sudah menjadi wanita yang paling bahagia.
ia dengam refleks membalas pelukan itu
hingga tatapannya menangkap sosok Aldo yang juga menatapnya dengan tajam dari arah depan.
"Tuan Aldo" ucap Hilda langsung mendorong Zetno saat ia melihat Aldo hendak pergi.
Zetno yang ikut terkejut, melihat arah pandang Hilda..
"Bang_" Zetno langsung mengejar Aldo yang terlihat berjalan cepat menuju mobilnya yang baru saja tiba dan menyaksikan Zetno dan Hilda sedang berpelukan.
Hilda hanya diam, ia merutuki kebodohannya yang sempat merasa sedang kepergok selingkuh padahal ia sama sekali bukan siapa siapa untuk kedua pria dari kalangan atas itu.
ia langsung masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan kedua pria bersaudara itu yang terlihat bersitegang di depan rumahnya.
*
*
*
Hilda yang telah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya didalam kamar, keluar berjalan menuju dapur membawa cerek yang biasa ia isi air di taro di kamarnya.
"sudah selesai?"
damn
untuk yang kesekian kalinya hari ini Hilda kembali terkejut hingga cerek ditangannya ikut jatuh.
apa lagi saat ia mengingat saat ini ia hanya menggunakan baju kaos kebesaran dan celana sepaha.
ia langsung berlari menuju kamar saat ia melihat siapa pria yang sudah mengejutkannya namun tangannya langsung di cekal dan dalam hitungan tarikan nafas ia sudah berada dalam dekapan pria itu.
"lep_"
"diam!" ucap Aldo memotong ucapan Hilda.
jantungnya kini sedang berdegub sangat kencang ia sangat takut jika pria itu kembali memperlakukan dirinya dengan seenak jidatnya lagi.
"mari kita menikah!"
__ADS_1