SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
MENUNGGU ALDO SADAR


__ADS_3

rumah sakit


setiap selesai jam kuliah Hilda selalu kembali ke rumah sakit melihat keadaan Aldo yang belum juga memperlihatkan tanda tanda akan sadar meski dari fisik dan luka bekas operasi sudah mengering dan tidak menggunakan perban lagi.


Hilda lebih banyak menghabiskan waktunya disana bersama mam Sandra juga papah Lukman dan Zetno yang kadang datang sekali kali jika kerjaan tidak terlalu padat.


meski Mam Sandra sudah meminta gadis cantik dengan tampilan sederhana itu untuk beristahat namun Hilda bersikeras menemaninya, hal itu membuat mam Sandra dan juga Papa Lukman merasa bahagia sekaligus terenyuh dan kasihan kepada Hilda apalagi keadaan Aldo yang masih belum jelas apa mampu bangun dari masa masa komanya.


"Clau sampai kapan Aldo akan tidur seperti itu?" tanya Mam Sandra entah sudah yang keberapa kalinya pada Dokter cantik yang juga sudah lama menyimpan rasa kepada Aldo itu.


mata Clau yang sedari tadi menatap Hilda langsung beralih menatap Mam Sandra yang bertanya padanya sambil melihat lurus kearah ruangan Aldo


"maaf Tan, kami belum bisa memastikan untuk itu namun kalian tidak perlu terlalu cemas karena kasus seperti ini memang sering terjadi. bahkan kami pernah menangani pasien yang koma hingga berbulan bulan pasca oprasi dan sekarang mereka sudah kembali sehat dan melakukan aktifitas seperti biasa." jelas Clau menyampaikan kemungkinanterbaik yang bisa terjadi tanpa menucapkan kemungkinan terburuknya karena ia tidak ingin membuat keluarga Aldo semakin cemas.


Mam Sandra hanya diam mengangguki, disisi lainnya Hilda hanya menyimak tanpa ikut menimpali, karena ia tahu Dokter cantik itu seperti menaruh dendam pribadi dengannya.


*


*


*


ICU


Hilda menunggu Aldo sendiri di ruangan ICU, karena mam Sandra tadi pamit untuk membeli sesuatu

__ADS_1


Hilda menatap lekat wajah pria tampan beketuruan filipina yang sedang tertidur dalam koma itu.


tanpa sadar tangannya terulur mengusap rahang yang ditumbuhi bulu halus, hingga tatapannya menatap bibir tebal yang terhalang dengan alat bantu pernafasan


bibir yang pernah menciumnya dengan sangat panas membuat detak jantung Hilda saat ini terasa ingin melompat dari tempatnya.


otakku benar benar sudah dinodai Kiana, gumamnya tersenyum geli, sempat sempatnya ia memikirkan bagaimana nikmatnya ciuman yang diberikan Aldo saat itu


dan ini apa penyakit jantungnya sekarang menular padaku.. gumamnya lagi tak lepas memandang wajah tampan itu sambil memegang dadanya.


lalu membuang nafasnya agar tidak gugup dihadapan orang sebenarnya tidak sadarkan diri itu.


"gugup?? kenapa aku sebodoh ini gugup dihadapan orang yang tidak sadarkan diri!" Hilda kembali menertawai kebodohannya.


"Hai... selamat malam tuan sombong" ucap Hilda kepada Aldo untuk pertama kalinya setelah pria itu tidak sadarkan diri.


namun setelah melihat Aldo dari atas sampai bawah ia yakin pria itu pasti masih sibuk bernegosi dengan malaikat maut, mana mungkin ia mendengar ucapan Hilda apalagi mau memperhatikan tingkah gadis itu yang tiba tiba menjadi aneh.


hingga gadis duduk dibangku dengan memberanikan diri kembali bersuara


"Tuan sombong apa kau sangat menikmati tidur lelapmu disini? padahal aku belum sempat memita kompensasi atas hilangnya keperawanan bibirku saat itu!" ucap Hilda berdecak diantara rasa sedih dan kesal karena pria yang sudah mencuri hati dan ciuman pertamanya itu tidak mau bangun bangun.


mengingat kembali kejadian itu pipi putihnya memerah dan otak sangkeknya menerawang jauh.


hingga tanpa sadar ia berucap

__ADS_1


"apa setelah dia menciumku dan.... " Hilda tak melanjutkan ucapannya hanya mengangkat tangannya memegang dua gundukan yang pernah menjadi tempat Aldo berkarya disana menggunakan bibirnya.


"apa aku masih layak dikatakan perawan?" sambungnya lagi dengan wajah yang tampak berfikir entah ia bertanya pada siapa, karena disana hanya ada dia dan pria yang sedang koma


"aghhh apa masih ada pria lain yang mau menerima aku setelah tau kalau aku _ "


"tidak ada!" selah seseorang dengan suara dingin dan datar menjawab pertanyan Hilda tapi gadis itu yang belum keluar dari demensi lain tidak sadar sama sekali


"hah?? lalu kalau Tuan sombong mati siapa yang akan bertanggung jawab padaku? masa aku jomblo seumur hidup, mana aku belum minta kompensasi sebagai bekal masa depan kejombloanku dan_


"kau meminta aku mati?" sarkas dengan suara yang lirih dan begitu lemah dari bangkar didepannya.


"ti_"


Hilda yang masih sempat ingin menimpali lansung terkejut


otak Hilda mendadak Zonk setelah sadar dan keluar dari dimensi lain


"Tu.. Tuan.. kau sudah sadar?" pekik Hilda diantara terkejut dan bahagia saat melihat mata Aldo sudah terbuka dan menatapnya dengan tajam.


"aku akan memberi tahu Dokter!" ucap Hilda tanpa menyadari tatapan mengintimidasi Aldo sakin bahagianya.


ia berlari keluar dari ruangan itu mencari dokter Claudia atau Dok Michael.


"dasar gadis bodoh!" lirih Aldo dengan suara lemah menatap tombol nurse call yang menggantung di samping bangkarnya.

__ADS_1


bisa bisanya gadis itu lupa jika disana ada bell pemanggil perawat.


🌺ternyata Hilda aslinya ceroboh, dan sangkek juga yah saat berurusan dengan pria yang dicintainya🤭 kak Vie kira Hilda ini orangnya pintar dan sangat teliti 🤧🤧🤧


__ADS_2