
pagi hari seorang wanita muda telah berada di rumah besar Wiryawan dengan keadaan sedikit berantakan membuat seluruh penghuni rumah terperanga dan iba melihat keadaan wanita yang pernah menjadi bagian dari Wiryawan itu, bahkan bagi mereka ia masih bagian dari Wiryawan.
"maaf Tuan aku_"
"panggil Papi sayang! bagi kami kamu tetap putri kami.."
ucap Mami Ningrum menyela ucapan Balqis, yang terlihat masih sungkan kepada mereka atas apa yang telah ia lakukan pada keluarga itu
Balqis sontak memeluk Mami Ningrum tak kuasa dengan rasa haru dan sesal yang tidak pernah terhitung besarnya.
"ma..maafin Balqis Mi!" ucap Balqis tersendak sendak di sela tangisnya yang menyayak.
rasa sesak memenuhi rongga dadanya, ia tidak mengerti kenapa hidupnya penuh dengan penderitaan seperti ini, dan hanya ada satu keluarga yang tulus menyayangi nya namun ia sudah sangat kejam pada keluarga itu.
Kiana ikut nimbrung memeluk wanita yang dianggap kakaknya itu, yah walaupun ia pernah dicelakai namun stok maaf Kiana untuknya seakan overproduction.
Papi mengusap punggung wanita wanita yang disayanginya itu dengan haru, berdamai dengan masa lalu dan memaafkan semua yang telah Balqis lakukan.
ia hanya gadis kecil yang terjebak dengan keadaan, kesulitan hingga tumbuh dibutakan dengan rasa cemburu dan dendam.
setalah melalui proses melow, akhirnya Balqis menyampaikan maksud kedatangan nya ke kediaman Wiryawan sepagi itu.
bahkan pemilik rumah itu masih memakai piyama tidur mereka.
"apa kamu yakin dengan keputusan kamu nak?" ucap papi dengan nada bergetar setelah mendengar cerita Balqis
ia tidak menyangka anak angkatnya itu mendapat banyak penderitaan.
"Mami setuju dengan keputusan Balqis Pi,, pria seperti Erland tidak layak untuk diperjuangkan!" sela Mami bersungut sungut.
ia merasa miris, membayangkan bagaimana Balqis menjalani semua itu selama ini.
"aku sangat yakin Pi... maaf aku tidak punya siapa siapa untuk meminta bantuan selain keluarga Wiryawan.. jika tidak Erland akan menemukanku dan membawaku kembali untuk di tindas!" ucap Balqis sangat lirih masih dengan raut wajah sedih dan sungkan namun ia tidak punya pilihan.
setelah kehilangan janinnya membuat ia sangat terpukul dan putus asa hampir membuatnya bunuh diri, namun diwaktu yang bersamaan ia harus mempertanggung jawabkan kejahatannya..
__ADS_1
setelah melakukan pemulihan dengan benar di rumah sakit dan penebusan di kantor polisi Erland menantinya dan sudah menyiapkan nerakanya dengan logo pernikahan.
Erland tidak menyentuhnya kecuali hanya ingin menyiksa dan menyakitinya termaksud di atas ranjangnya.
melihat Balqis yang pasrah menerima hukumannya pria itu ternyata semakin menjadi jadi sampai ia tega membawa wanita bayaran setiap hari kembali kerumahnya hanya untuk menyakiti Balqis.
dan Balqis harus membersihkan sisa percintaan suaminya itu dengan wanita lain.
"apa perlu kia minta Mas Devano menghancurkan perusahannya lagi?" timpal Kia dengan nada kesal.
"jangan! tidak perlu.." potong Balqis cepat
"semua tidak akan selesai dengan cara balas membalas, lagi pula semua dimulai dari kakak jadi biar kakak yang mengakhiri semuanya.. dengan kakak pergi Erland akan memulai kehidupan barunya! terutama untuk kk juga, kk bisa memulai hidup menjadi orang yang baik tanpa dendam lagi" lirih Balqis, entah sampai kapan ia akan berhenti menyesal dan terus mengutuk kebodohannya selama ini.
"sudah sayang! jika kamu ingin memulai hidup yang baik, mami harap kamu bisa memaafkan dirimu sendiri terlebih dahulu berdamai dengan hatimu.."
"baiklah Papi akan meminta Bastian yang mengurus keberangkatan mu!"
ucap papi setelah menimbang nimbang semuanya.
dan papi sangat tidak pro dengan pria yang kasar secara fisik seperti Erland. apa lagi orang yang sudah dianggapnya sebagai anaklah yang menjadi korbannya terlepas dari semua kesalahan yang telah Balqis sesali.
kediaman Aldo
Aldo keluar dari kamar, ia mengingat kembali ketegangan semalam dengan Claudia.
ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia sepertinya harus tegas agar wanita itu berhenti mengharapkannya, dan tidak menjadi bumerang untuknya dimasa depan dengan Hilda.
"Bi.. kamu masak?" tanya Aldo pada pelayan yang memang ia sewa bekerja hanya pagi sampai sore untuk membersihkan rumah, cuci kain, dan memasak.
"ehh... ia nak Aldo, dokter Claudia sudah berangkat pagi pagi sekali dan tidak sempat masak buat nak Aldo."
Aldo mengernyit mendengar ucapan Bibi, ia ingin mengecek ke kamar Claudia wanita itu pergi sebentar atau memang sudah memutuskan untuk tidak tinggal disana lagi setelah penolakan Aldo semalam.
"Nak.. Dokter Claudia bilang ia tidak kembali kesini lagi, jika nak Aldo ingin menemuinya bisa langsung ke rumah sakit tempat ia bekerja!"
__ADS_1
ucap Bibi sesuai pesan Claudia, membuat langkah Aldo terhenti.
ia tersenyum samar
syukurlah kalau kau menyerah... aku harap kau dipertemukan pria baik yang mencintaimu dengan tulus Clau!
*
*
*
Rumah sakit
"jadi akhirnya kau nyerah juga?" goda Dok michael pada Clau yang terlihat murung, dengan tangan menopang kepalanya yang berbaring di atas meja sejak ia tiba.
Clau meluruskan kembali punggungnya dan menatap Michael yang terlihat senang dengan kegagalannya.
benar benar teman kerja luchnakkk
"aku mencintai dia dengan tulus mike! tapi dia menolakku secara langsung dan tegas sangat menyebalkan bukan!? tapi, aku bahagia jika dia memang bahagia."
"wah.. wah.. aku tidak menyangka jika partnership ku ini memiliki hati yang luas, seluas danau toba!" puji mike di ikuti kekehan.
membuat Clau mendengus kesal.
yah setelah berperang dengan perasaannya semalam suntuk, Clau memilih menyerah.
ia tidak akan bahagia, jikapun ia berhasil memaksa Aldo memilihnya namun apalah kata tanpa ada cinta.
Aldo memang sangat sulit jatuh cinta, jika bisa membuatnya jatuh cinta maka Aldo akan mencintainya sedari dulu mengingat semua hal yang telah ia lewati bersama.
namun sayang pria itu sama sekali tidak pernah melihatnya sebagai wanita.
"tapi aku akan mengambilnya kembali jika gadis labil itu berulah!" tukas Claudia berdiri sambil menarik jas kebesarannya meninggalkan Michael dengan segala pemikirannya.
__ADS_1