SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
EKSTRA PART


__ADS_3

Kiana menatap kakaknya dengan perasaan sedih dan iba..


baby Shanie mulai rewel dalam pangkuan Hilda, membuat wanita itu membawanya pada Kiana, hingga Balqis mengakhiri sesi curhatnya pada sang adik.


"Ki.. kayaknya baby Shanie lapar!"


Kiana merengkuh bayinya dengan senyum


"si cantik lapar yahh, nihh ne neng dulu yahh!" Kiana mengarahkan sang putri untuk menyusu.


Kiana menggunakan gaun di desain khusus untuk busui jadi ia bisa menyu sui sang putri tanpa harus takut kelihatan dadanya, hanya bagian yang akan di isap bayinya yang terbuka.


"mommy ini adek bayinya perempuan yah?" tanya Giano polos pada Balqis.


yah sejak kejadian itu, Gian memanggilnya mom dan Balqis sudah menceritakan semua pada Kiana sebelumnya melalui sambungan telfon jadi ia tidak kaget.


Balqis tersenyum dan sebelum menjawab Kiana lebih dulu menjawab nya.


"iya sayang, cantikkan? mau enggak onty jodohin Gian yang tampan sama baby Shanie yang cantik ini?" goda Kiana dengan bahasa yang di mengerti bocah itu.


sedangkan Hilda dan Balqis hanya tersenyum geli melihat Kiana mulai rese lagi


"onty bisa berbahasa itali?"


"onty bisa banyak bahasa! jadi bagaimana pertanyaan onty Gian mau tidak di jodohin dengan Shanie?"


dengan malu malu bocah aktif itu mengangguk


"hai lihat sejak kapan ia bisa dengan ekspresi malu begitu." tegur Balqis mencubit pipi Giano yang biasanya cerewet bawel ternyata bisa malu juga.


bagi Giano bayi cantik dan putih bening perawakan asia itu memang sangat imut daripada semua bayi yang pernah dilihat Giano.


apalagi ini bayi pertama yang Giano pegang, dan ajak bermain biasanya ia hanya melihat bayi di televisi, atau bayi yang lewat digendong oleh orang tuanya.


Ferrando selama ini sangat membatasi putranya dari kehidupan luar, dan kehadiran Balqis adalah kebebasan bagi Giano.


"kalau Gian dijodohin sama Shanie berarti Gian boleh bawa Shanie tinggal ke Mansion Daddykan?"


mata bocah tampan itu berbinar karena akan mendapat mainan baru, seperti itulah yang ia tangkap dari ucapan Kiana.

__ADS_1


jika Shanie di jodohkan dengannya maka Shanie menjadi miliknya seperti sebuah boneka atau robot mainannya dan ia bisa membawanya pulang dan menemaninya bermain sepanjang hari seperti mainannya yang lain.


Balqis, Hilda, Kiana hanya melongo salah paham mendengar ucapan Giano.


"Giano akan jadikan Shanie mainan yang paling Giano sayang dan meminta daddy membuang semua mainan yang Giano punya!" lanjut bocah itu membuat semua orang disana gepuk jidat, mengerti jika Gian ternyata menganggap Shanie adalah mainan.


.....


sore haripun tiba, Hilda sudah kembali di jemput oleh Aldo.


sedang Balqis yang berencana nginap di rumah besar Wiryawan untuk melepas rindu dengan Mami dan Papi masih menemani Kiana karena Devano lembur hari ini.


di tambah Giano yang tidak mau jauh jauh dari Shanie.


"kakak,, mas Devano katanya lembur sampai larut, gimana kalau kakak nginap disini aja lagian Gian kayaknya sudah betah tinggal dirumah calon mertuanya tuhh!"


ucap Kiana setelah menerima pesan di ponselnya, berusaha menahan Balqis padahal ia sudah biasa menunggu Devano bersama para pelayan saja.


lagian selama Kiana kembali kerumah mereka sendiri dua bulan lalu. Devano tidak pernah kerja lembur atau lebih memilih membawa pekerjaannya kembali kerumah.


Balqis tersenyum melihat Giano yang tidak bosan melihat Shanie walau bayi kecil itu sedang tidur pulas.


Balqis memang hanya dua hari di indonesia karena takut Erland tau kepulangannya.


itupun ia pulang karena Kiana mengiba mengatakan rindu dan memojokkan Balqis yang belum pernah menemuinya keponakannya.


setelah Balqis membersihkan diri dan mengganti pakaian ia kembali bergabung dengan Kiana.


"dimana anak anak?"


"bocah bule itali itu tidur dikamar ku kakak, ia sepertinya benar benar akan menjadi jodoh masa depan Shanie, lihat saja ia sudah tidak bisa dipisahkan!"


"kamu nihh ada ada saja!"


Balqis hanya terkekeh mendengar candaan Kiana yang sedari tadi menjodohkan bocah yang masih bau minyak telon itu.


ponsel Kiana kembali berdering tanda pesan masuk, ia hanya melihat sekilas isi pesan namun Kiana tidak langsung membalasnya.


ia kembali menatap Balqis yang juga sedang membalas pesan dari Ferrando yang menanyakan kabar putranya.

__ADS_1


"Kak Kia bisa minta tolong tidak?"


Kiana menggaruk tengkuknya menandakan ia sungkan


Balqis tersenyum dan kembali meletakkan ponselnya setelah menjawab pesan Ferrando, sudah lama ia tidak melihat wajah Kiana seperti itu jika ia menginginkan sesuatu darinya saat mereka masih gadis.


"katakan saja, apa yang tidak untuk adik kakak ini! tidak usa sungkan begitu!"


ucap Balqis seperti saat dulu Kiana sering meminta bantuannya walau dulu Balqis melakukan nya karena ada niat terselubung! tapi sekarang ia benar benar mengatakannya dengan tulus.


Kiana menatap wajah Balqis meski dulu Balqis sering mengucapkan kalimat itu padanya tapi entah kenapa kalimat itu sekarang justru lebih indah, mungkin karena sekarang Balqis mengatakan sesuai dengan isi hatinya.


maaf kak, saat kau sudah tulus padaku justru aku yang akan memanfaatkannya.


"emmm itu kk, aku ingin sekali makan chicken massaman curry!" Kiana menggaruk tengkuknya


"itu saja?" Balqis terkekeh ia sangat tau adiknya itu hanya bisa masak air.


Kiana mengangguk


"baiklah kakak akan masak makanan lezat thailand itu untuk makan malam kita!"


Kiana gelagapan ia lupa jika kakaknya itu jagonya masak memasak.


"kakak i i tu,, bahannya tidak ada!" ucap Kiana gelagapan


namun Balqis menangkap jika Kiana sungkan karena ia juga harus direpotkan mencari bahannya.


"yah sudah ini juga masih sorean kakak akan mencari bahannya diluar!" seolah Balqis lupa jika saat ini ia sedang bersembunyi dari incaran suaminya.


Kiana dengan cepat menggeleng lagi..


"Kak sebenarnya ada resto langganan kami yang menyediakan menu itu, tidak jauh dari sini hanya saja sekarang mereka tidak melayani pesan online... akan lebih menghemat waktu jika kita beli yang jadi saja!"


"yah sudah biar kakak yang ke sana mumpung Giano masih tidur!" Balqis fikir tidak apa apa keluar sebentar lagian kata Kiana tempatnya tidak jauh.


dan seperti prediksi Kiana, Balqis sangat peka dengan arah pembicaraannya dan ia akan menawarkan dirinya sendiri untuk ke resto yang Kiana maksud.


"oww baiklah kakak, kau memang yang terbaik aku akan meminta supir mengantarmu!"

__ADS_1


balas Kiana terkesan egois tapi Balqis tidak curiga karena dari dulu Kiana memang seperti itu jika meminta sesuatu darinya.


__ADS_2