
Happy Reading
Bantu like, comen, vote, dan ratenya kakak biar othornya semangat up 😚
.
.
.
.
Kiana berjalan menuju meja makan bersama Devano, disana sudah ada mami Ningrum menata makanan sambil menunggunya.
"maaf Mi, Kia enggak bantuin.. tadi Kia harus mengemas barang Kia"
Devano menarik kursi untuk Kia dudukki, mami tersenyum melihatnya.
"dasar modus!" gerutu Kiana.
"tidak apa apa sayang, kita tidak ke kurangan pelayan!" selama ini Kiana memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah..
namun wanita muda itu ingin belajar mulai sekarang!
"Papi belum balik Mi?" tanya Devano, bersamaan Papi datang menghampiri meja makan itu.
Kiana menatap pria paruh baya yang menjadi cinta pertamanya itu, ada rasa rindu namun juga sangat takut.
"malam Pi, apa kabar?" sapa Devano
"malam.. seperti yang kamu lihat Van, kamu apa kabar?" Papi duduk di antara mereka menatap Kiana yang seperti menekan perasaannya, dan tidak tahu harus menyapa atau minta maaf seperti apa kepada Papinya
__ADS_1
"Pi anak kita sudah balik!" ucap Mami Ningrum tersenyum membuat Kiana memberanikan diri menatap Papi kembali.
"3 bulan di Singapore apa ia lupa dengan bahasa indonesia?" Papi menatap anaknya yang hanya diam dengan datar, membuat nyali Kiana semakin ciuut..
namun jika diperhatikan Papi sedikit kurusan dengan kantong mata yang hitam.
Devano tersenyum melihat tingkah Kiana yang terlihat mati kutu dihadapan Papinya, padahal mulut istrinya itu seperti mercon saat bersamanya.
"Pi, Kia.. Kia minta maaf sudah membuat kekacauan! Kia janji akan menebus dan menerima hukumannya dan juga tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Kiana terbata bata ingin rasanya ia menangis..
"sudahlah kita bicarakan itu setelah makan malam ini" papi tidak ingin merusak mala ini.
Kiana mengangguk dan langsung mengambil alih pekerjaan yang biasa mami lakukan ia menyendok makanan ke semua piring orang yang ada dimeja makan itu, membuat Mami tersenyum.
"Mi kok rasa makanan ini lebih enak dari kemarin kemarin, papi sudah lama tidak merasakan nikmatnya makanan ini!" ucap papi disela mengunya makanannya.
Devano dan Kia juga terlihat makan begitu lahap, lidahnya tidak bisa berbohong ia sangat merindukan masakan rumahnya.
ucap Mami membuat hati Kiana tersentuh, Kiana memeng sangat merindukan masakan Mami yang sudah menjadi kesukaan Kia sedari kecil.
"ma kasih yah Mi."
******
Devano meminta izin ke kamar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang di kirim asistennya tadi sore.
sedang Kiana, setelah melepas rindu dengan Mami ia keluar dan duduk di ayunan yang berada dipinggir kolam yang ada di teras samping rumah itu.
Kia melihat lihat pekarangan samping rumah yang terlihat banyak tanaman hias yang tingginya melebihi tinggi tubuh Kiana tertaman dengan rapi dan beberapa tanaman kerdil hijau lainnya membuat suasana rumah itu terasa teduh meski berada ditengah kota.
Kiana tersenyum saat mengingat beberapa tanaman hias disana ditanam olehnya bersama Papi saat ia masih berusia sekitar 10 tahunan atau di bawahnya, namun Kiana sudah ingat bagaimana Papi mengajarinya untuk menanam pohon itu.. Papi bahkan memberinya hadia ciuman dan pelukan saat ia berhasil melakukannya.
__ADS_1
dengan rasa bangga papi menggendongnya masuk untuk mandi bersama, bersamaan Mami yang teriak histeris karena mendapatkan Kiana dan Papi sangat kotor berada ditengah rumah.
akhirnya mereka di usir mami, dan mereka mandi di kolam yang sekarang ada didepan Kiana.
"enggak takut masuk angin!" Papi melempar sebuah jaket pada Kiana, membuat Kia ingin teriak karena terkejut.
"Papi.."
Papi duduk disampingnya, Kiana mengenakan Jaket itu.
Hening....
Kiana menatap lurus pada tanaman hias yang sedari tadi dilihatnya.
"tidak terasa pohon itu tumbuh sudah 12 tahun!" ucap Papi
Kiana menoleh menatap Papi yang juga melihat ke tanaman hias itu.
"enggak Pi, itu sudah 13 atau 14 tahun!"
ucap Kia kembali menatap tanaman itu.
"baru 12 tahun kia, Papi ingat kita menanamnya saat sepekan sebelum kita merayakan ulang tahunmu yang ke 8!"
kiana tampak berfikir sejenak..
"oww.. iya, papi ingatannya bagus yah!" Kiana tersenyum senang ada rasa yang tidak bisa dijelaskan menghangat dirongga dadanya.
"Papi ingat semua yang berhubungan denganmu, kamu besar dan tumbuh tidak lepas dari pengawasan papi, hingga...." ucap papi mengambang, ada kesedihan diujung kalimatnya namum ia tersenyum..
Kiana sudah sangat jarang melihat papi tersenyum seperti itu, hingga sebuah dorongan kuat dihatinya ia langsung memeluk papi dengan erat..
__ADS_1