
HAPPY READING
JANGAN LUPA BAGI VOTE YAH KAKAK 😘😘😘
.
.
.
.
.
Devano tersenyum bangga menatap wanita dalam pelukannya itu..
namun juga tersenyum geli membayangkan mulut pedas istrinya yang biasa mengumpatnya habis habisan itu entah kenapa tadi seperti kesurupan dan minta di pepet terus...
"Mas.. Kia lapar..." lirih Kiana manja masih dengan mata terpejam..
"mau disuap?" tanya Devano menggoda, ia yakin Kiana akan menolak dan mengumpatnya.
"eeemm" ternyata Kiana mengangguk masih menutup matanya malas.. membuat mata Devano membulat.
"siap My Queen.." Devano berdiri dan segera menggunakan boxernya.
mengambil makanan dilevery yang sudah dingin itu..
ia menggaruk tengkuknya kemudian mendekati Kiana yang masih baring..
"Sayang.. makanannya sudah dingin, dipanasin atau aku pesan yang baru saja yah??!" kebetulan rumah baru mereka itu tidak jauh dari sebuah restoran ternama.
Kiana langsung membuka matanya dan menatap Devano kesal.
"enggak usa aku sudah lapar!"
dengan tubuh yang terasa remuk ia mencoba untuk bangun menyandarkan tubuhnya.
"o.. oke..."
"suap!" perintah Kiana dengan ketus..
Devano mengangguk dan segera melakukan keinginan sang istri, memang itulah keinginan Devano.. namun
dalam hatinya Devano bertanya tanya kenapa istrinya bertingkah aneh seharian ini.. membuat bulukuduk Devano meramang
__ADS_1
Kiana makan seperti anak kecil dan begitu lahap membuat Devano menelang salivanya melihat bibir mungil itu mengunya dengan lahapnya..
dengan telaten Devano menyuapnya hingga makanan itu bersih tak tersisa dari piring.
"mau lagi?" tanya Devano
"emang Masih ada??"
"enggak ada!"
"terus ngapain nanya?? sengaja mau ledekin??" ketus Kiana..
Devano menelan salivanya lagi kasar..
yahh ampunn ini bini aku kerasukan apa sihh?? atau dia sengaja mau buat aku kesal agar mau menceraikannya.. Devano menggeleng kuat.
Devano meletakkan piring diatas nakas
"mas balik yukk uda sorean!" ajak Kiana masih dengan nada ketusnya
"enggak... kita akan tinggal disini yah Ki, rumah kita ini lebih dekat dari kantor aku.."
"itu derita kamu mas, kalau kamu mau kamu aja yang tinggal disini aku mau balik kerumah Papi!"
"oke.. balik aja.... emang kamu punya baju?"
Kiana melihat badannya yang hanya tertutup selimut, kemudian melihat kain yang sudah robek tergeletak dilantai ia seperti baru menyadari apa yang sudah terjadi.
refleks kiana langsung menutup wajahnya karena malu..
baru tadi pagi ia berkoar koar meminta cerai, sekarang ia sudah terkapar ditempat tidur karena ulah suaminya..
bahkan ia mengingat sepanjang permainan ia meminta suaminya untuk tidak berhenti..
"haii sayang kenapa kamu bersembunyi apa kamu malu??"Devano terbahak bahak melihat tingkah Kiana
detik berikutnya.
"hikz.. hikz.. hikz.."
Kiana menangis??
"hai sayang kenapa menangis?"
"kamu jahat! kamu membawaku kesini untuk memperkossaku secara brutallkan??!"
__ADS_1
Devano membulatkan matanya, iya sangat yakin tidak ada paksaan sepanjang permainan tadi bahkan istrinya meracu meminta untuk digempur terus!
o.. Tuhan!! ada apa dengan istriku ini?? sejak kapan orang diperkosa meminta lebih?? Batin Devano menjerit frustasi.
"o... oke sayang.... oke maafkan aku yahh.. iya.. iya.. aku yang salah maafkan aku!" Devano memeluk sang istri untuk menenangkan.
"iya kamu memang salah!" teriak Kiana lagi
"okee...iya aku salah sayang!! sekarang kamu mau mandi atau tidur?"
"mau mandi!"
"mau dimandiin?"
"tidak aku bisa sendiri!!!"
dengan langkah seperti bebek keseleo Kiana masuk keruangan yang diyakininya kamar mandi.
Devano hanya menatapnya sambil meringis namun tidak berani mengucapkan kalimat atau mendekati istrinya yang mood mood tan itu!
❤
dan akhirnya kedua insan itu menghabiskan waktu sore bersama dengan penuh Drama dirumah baru yang mewah itu..
hingga saat menjelang magrib, Aldo membawa pakaian untuk mereka dan juga beberapa bahan masakan.
"Dev,,, Balqis ternyata sudah meninggalkan apartemen, aku sudah melaporkan hal ini juga pada Uncle Danu dan Daddy,, sepertinya wanita itu tau malu juga!"
Devano memang meminta Aldo untuk menlihat kondisi Balqis.
"yah sudah jika itu keputusannya, minimal dia tidak menjadi duri dalam rumah tanggaku, dan pastikan dia tidak akan mengancam keselematan keluarga dan istriku Do!" ucap Devano khawatir
meski wanita itu terlihat kalem dan lembut, tapi Devano hanya ingin siaga apalagi mengingat perbuatan Balqis. meski wanita itu belum memberi klarifikasi memuaskan..
Aldo mengangguk paham!
"apa perlu aku mencari tahu siapa ayah dari anaknya?"
"terserah kamu saja! jika menurut kamu harus, lakukan saja!"
"aku hanya khawatir,,, lagian kita belum tahu apa motifnya melakukan ini semua, ada baiknya kita menyelidiki semuanya biar tuntas Van!"
Devano mengangguk, ia juga tidak bisa tenang tanpa kejelasan motif Balqis..
apalagi mengingat sebelum pingsan Wanita itu mengakui kebenciannya pada Papi dan kecemburuannya pada Kiana.
__ADS_1