
HAPPY READING
MAAF KAKAK VIE SLOW RESPON KARENA VIE SUDAH MULAI AKTIF DENGAN RUTINITAS HARIAN VIEE 😘
TAPI VIE AKAN CRAZY UP LAGI SAAT WAKTU VIE LOWONG YAHH KAK 😘😘😘😘😘😘
.
.
.
.
.
"kak Hilda ini kakak tiri aku sayang!" lanjut gadis modis itu mendayut manja dilengang Zetno..
"kakak tiri?"
Zetno mengerutkan alisnya i belum paham sepenuhnya, karena memang Zetno selama ini tidak peduli dengan kehidupan Hilda seperti apa..
namun Kiana sendiri sekarang sudah paham karena Hilda sudah bercerita bahwa Mama Hilda menikah lagi dengan seorang duda anak dua dari kalangan atas.
Hilda tidak pernah bertemu dengan kakak lelaki Dianra yang entah dimana, sedangkan Dianra yang ada didepan mereka ikut dengan Mamanya.
"Mamah Tari itu ibu kandungnya kak Hilda sayang!"
Zetno menatap Hilda yang hanya diam, ia mulai paham maksud Dianra kekasih barunya itu..
ia karena Zetno hanya berpacaran dengan gadis gadis cantik dan modis seperti Dianra paling lama 1 sampai 2 bulan.
"Di gimana kabar Mamah?" ucap Hilda berusaha bersikap ramah, meski ia tahu gadis didepannya itu selalu menyindir, meremehkan dan merendahkannya.
"kamu enggak usa khawatir kak,, pasti Mamah akan bahagia, dan baik baik saja jika bersama kami." ucap Dianra mengambangkan senyumnya.
Tari memang terlihat lebih bahagia dan menyayangi Dianra yang Mamahnya kandungnya sudah tiada.
"oww tentu saja!"
Hilda hanya tersenyum getir, ia sudah tahu jawaban yang sering dilontarkan Dianra padanya.. lagian iapun hanya bertanya basa basi agar tidak terlalu terlihat menyedihkan.
diam diam Zetno menatap Hilda, entah apa yang dipikirkannya tentang gadis yang sudah tergila gila padanya sejak dibangku SMA itu.
__ADS_1
namun sekarang Hilda terlihat tidak peduli lagi dengannya bahkan untuk menatapnya saja Hilda sudah tidak ada keinginan, itu dimulai sejak Zetno mempermalukannya beberapa bulan lalu dikampus.
Kiana sangat tahu jika Hilda tidak suka berada berlama lama diantara pasangan yang memamerkan kemesraan ini.
"kita duluan yahh..
Hil, jalan yuk gue uda pegal!"
Kianapun menarik lengang Hilda
"Ki.. kapan kamu balik dari singapura?" Tanya Zetno menghentikan langkah mereka..
yah tentu saja Zetno tahu hal yang berhubungan dengan Kiana karena ia saudara sepupu Devano.
tidak bisa dipungkiri dada Hilda terasa teriris ia ingat bagaimana Zetno sangat mengagumi Kiana selama ini dan sekarang Zetno bersama seorang wanita cantik dan modis yang tidak lain adalah adik tirinya.
"belum lama..." ucap Kiana singkat sebelum benar benar pergi menarik Hilda..
Kiana tidak ingin terlalu banyak berbicara dengan pria yang sudah menyakiti sahabatnya itu.
perjalanan menuju perkampungan kumuh
Hilda lebih banyak diam.
"hemmm?" Hilda yang sedari tadi diam bertanya dengan bergumam
"iya gue enggak mau kalau dia besar kepala!!! gue sih enggak nyuruh lo nyerah ataupun lo tetap mau ngejar cinta lo, tapi sekarang gue mau lo buat si Zetno sok kecakepan itu sadar bahwa ia sudah salah menyia nyiakan berlian langkah kayak sahabat gue ini!"
Hilda tersenyum getir!
"ngaur.. mana ada berlian kayak gue Ki?? lo jangan buat Zetno tambah jijik dehh... yah ada Zetno lihatnya gue itu cuman kotoran"
Hilda menertawakan dirinya sendiri membuat Kiana berdecak kesal
"ck.. berlian itu emang asalnya dari tempat yang kotor Hilda, ia hanya ditemukan ditempat yang bersembunyi di kedalaman tanah, dan lumpur... ia juga harus melewati proses dan penggesekan agar bisa terlihat semakin indah dan berkilau... jadi jika ingin menyamakan berlian dengan sosok manusia, itu sangat cocok untukmu!"
jelas Kiana panjang lebar, membuat Hilda terenyuh ia sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Kiana yang meski memiliki sagalanya namun ia sangat menghargai orang biasa seperti Hilda.
"hemm,, lo tiap hari dikasih vitamin apa sama laki loo?? kok makin hari makin enggak bisa terkalahkan yah??" goda Hilda
"nanti gue kasi tahu vitaminnya, makanya lo harus semangat dan buktiin kalau lo bukan orang yang pantas disakiti atau disia siakan sama si batu bernafas itu!"
Hilda mengangguk, untuk saat ini memang ucapan Kiana ada benarnya.
__ADS_1
entah kenapa ucapan Kiana benar benar berpengaruh difikiran Hilda, sepertinya iya memang harus membalaskan rasa sakit hatinya pada manusia batu yang tidak berperasaan itu..
minimal ia bisa membuka mata Zetno untuk menghargai perasaan orang lain, dan tidak memandang rendah orang dari fisik dan materinya.
💚💚💚
setelah menyerahkan beberapa hadiah dan paket kepada masyarakat dan anak anak di perkampungan kumuh itu
kini Kiana menuju sebuah tempat setelah mengantar Hilda.
ia penasaran ada apa suami tercintanya itu mengirim alamat dan memintanya bertemu disana.
******
kediaman Kiana dan Devano
hari ini Devano kembali lebih cepat, perasaan gelisa dan tidak enak menyelimuti fikirannya.
"Nak Vano makanannya sudah ibu siapkan yah, ibu kembali dulu!"
ucap pelayan saat Devano baru memasuki rumah.
yah Devano meminta pelayan paruh baya itu untuk memanggilnya seperti itu.
Devano mengangguk tersenyum pada wanita paruh baya itu, sebelum bertanya..
"Bu... istri saya sudah kembali belum?"
"nak Kia, sedari tadi belum pulang nak!"
Devano kembali mengangguk sedangkan pelayan itupun meninggalkan rumah mewah itu..
Devano segera menghubungi nomor istri tercinta..
1 panggilan lolos..
2 panggilanpun lolos..
dan beberapa panggilan seterusnya pun lolos..
jantung Devano mulai maraton.. rasa khawatir dan takut mulai menghantui, apalagi saat ia menelfon sang supir yang membawa istrinya pun tidak bisa dihubungi..
BANTU KASI JUDUL BAB INI DONK KAKAK 😁😘😘
__ADS_1