
"Untuk apa lagi kamu menghubungiku. Sudah aku katakan terakhir kali kalau kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi jadi, jangan menghubungiku lagi," ucap Rendra pada Angel yang saat ini berada di seberang telepon.
Tadinya dia malas untuk mengangkatnya, tetapi ponselnya terus saja berdering dan terpaksa pria itu mengangkatnya. Masih teringat jelas rasa sakit karena pengkhianatan yang dilakukan sang kekasih.
"Rendra, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Kamu hanya salah paham. Aku dan Niko dijebak oleh seseorang. Dia menginginkan hubungan kita berakhir dan sekarang ternyata dia berhasil. Kamu harus percaya padaku," ucap Angel dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.
"Kamu tidak usah terlalu banyak membual. Siapa juga yang ingin menjebak kamu dan Niko. Lagi pula mana ada orang yang dijebak, tapi menikmati juga. Aku mengenal wanita sepertimu yang pandai bersilat lidah. Selama ini ternyata aku sudah dibutakan oleh omong kosongmu. Sekarang tidak lagi. Aku sudah tidak percaya dengan apa pun yang kamu katakan. Jangan lagi menghubungiku, aku sudah muak mendengar omong kosongmu." Rendra pun segera mengakhiri panggilan.
Semakin lama berbicara dengan Angel semakin membuat darahnya naik. Dia sudah mencoba untuk melupakan kekasihnya, tetapi wanita itu sepertinya tidak akan menyerah, mengingat dirinya yang selalu memanjakannya dalam segala hal. Sementara itu, Niko hanyalah pegawai biasa mana mungkin bisa menuruti keinginan Angel yang suka menghambur-hamburkan uang, sangat berbeda dengan dirinya. Entah apa yang membuat sang kekasih selingkuh.
Bagi Rendra uang bisa dicari, dia bisa menyenangkan kekasihnya dengan apa pun yang dia punya. Namun, sekali berkhianat pria itu tidak akan pernah memaafkannya. Rendra masih berbaik hati dengan tidak mengusik kehidupan Angel, tetapi jika mereka masih saja mengganggunya, jangan salahkan jika dia sedikit bermain-main dengan kehidupan mereka.
Rendra yang mood-nya sudah buruk pun memutuskan untuk pulang saja. Mengenai pekerjaan yang belum selesai bisa dikerjakan besok lagi, daripada nanti pekerjaannya jadi berantakan. Saat pria itu keluar dari perusahaan, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada Vania yang sedang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya gadis itu tengah menunggu taksi.
Rendra berusaha bersikap acuh. Dia memalingkan wajahnya dan berjalan menuju di mana mobilnya terparkir dan segera menyalakannya. Saat akan melewati Vania, tiba-tiba terbesit rasa kasihan dalam hatinya. Kemarin dirinya yang dalam keadaan mabuk telah ditolong oleh gadis itu. Sekarang saat Vania sedang mengalami kesusahan bagaimana mungkin dia begitu tega meninggalkannya begitu saja.
Akhirnya terpaksa pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan Vania. Rendra menurunkan kaca jendelanya untuk meminta Vania agar masuk ke dalam mobil dan akan mengantarnya.
"Tidak usah, Pak. Saya sudah memesan taksi," tolak Vania yang tidak mau nantinya akan menjadi gosip, apalagi ini masih wilayah kantor.
"Ini jam pulang kerja pasti sudah cari taksi, kamu mau menunggu sampai berapa lama? Apa kamu tidak takut jika ada orang yang ingin mencelakai kamu? Sudah, masuk saja. Kamu bisa membatalkan pesanan taksi kamu. Semua orang kantor juga sudah pulang. Lagipula taksinya juga belum datang. Mungkin juga sudah tertidur."
Saat akan kembali menolak perintah Rendra, ada pesan masuk dalam ponselnya dari sebuah aplikasi. Ternyata sopir taksi mengatakan tidak bisa datang karena mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba mogok? Kenapa tidak dari tadi saja," gumam Vania yang masih bisa didengar oleh Rendra.
"Sudah, masuk saja. Ini sudah larut kalau kamu pesan taksi online lagi belum tentu dapat juga."
Akhirnya Vania pun mengangguk. Dia juga takut sendirian di tepi jalan seperti ini. Meskipun jalanan ramai, tetapi tidak menutup kemungkinan jika kejahatan akan mengusiknya. Apalagi zaman sekarang jarang sekali orang yang mau ikut campur dengan urusan orang lain.
Begitu Vania memasuki mobil, Rendra segera melajukan mobilnya. Dia sudah tahu di mana rumah asistennya jadi, tidak perlu bertanya lagi pada gadis itu.
"Biasanya kamu 'kan bawa mobil, kenapa sekarang pakai taksi?" tanya Rendra memecahkannya kesunyian.
"Tadi pagi bannya kempes, sementara aku juga harus terburu-buru karena sudah siang jadi, terpaksa tadi minta antar papa ke kantor," jawab Vania yang sibuk dengan ponselnya karena berkirim pesan dengan mamanya.
"Oh ya! Mengenai tadi pagi aku minta maaf jika kata-kataku menyakitimu. Sungguh aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ... hanya ...."
Tadi dia juga berpikir jika dirinya terlalu berlebihan menanggapi perkataan Rendra. Seharusnya Vania mendengarkan secara detail dulu dan mengerti posisi atasannya, bukan marah begitu saja.
"Syukurlah kalau begitu. Sedari tadi aku merasa tidak enak karena sudah menyakiti perasaanmu. Padahal kamu dan papamu sudah sangat baik menolongku. Kalian bisa saja membiarkan aku di sana, tapi kalian lebih memilih menolongku."
"Iya, Anda benar, tapi sebagai sesama manusia rasanya saya tidak tega meninggalkan Anda sendiri dan saya bersyukur karena papa juga mau menemani. Lagian kenapa Anda tidak memakai sopir saja? Kan lebih enak agar Anda tidak lelah juga."
"Dulu aku pernah punya sopir, tapi ternyata dia orang jahat yang sengaja dikirim oleh seseorang agar mencelakaiku. Biasa, musuhku dalam bisnis. Untungnya saat itu aku bisa selamat dan aku tidak mau kejadian seperti itu terjadi lagi. Seorang pengusaha pasti banyak sekali orang yang iri dan tidak suka. Apalagi mereka juga mengenalku sebagai pengusaha yang sombong, pasti semakin membuat rasa benci itu semakin besar."
Vania menganggukkan kepala. Jangankan orang yang kasar seperti Rendra, Papa Roni yang bersikap lemah lembut saja memiliki musuh. Gadis itu sudah lama hidup dalam lingkungan yang seperti itu jadi, sudah tidak heran lagi dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Tapi, Pak, tidak semua orang memiliki sifat yang sama. Sebagai seorang pengusaha, Anda juga terkadang perlu seseorang yang bisa dipercaya agar bisa menemani Anda dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Karena sejatinya setiap manusia juga pasti akan membutuhkan pertolongan orang lain."
Rendra mengangguk, dia juga merasa seperti itu. "Apa kamu punya rekomendasi seseorang yang bisa dipercaya? Jujur saja aku merasa trauma, takut jika nanti pilihanku salah lagi."
"Kalau mengenai hal itu aku tidak bisa memilihkan, Pak, karena pasti selera Anda dan saya juga berbeda."
"Dalam urusan pekerjaan siapa pun bisa bekerja asalkan dia bisa profesional dan bisa setia jadi, tidak perlu memadupadankan selera. Jika kamu ada seseorang, kamu bisa memperkenalkannya padaku. Biar nanti aku juga menilainya sendiri, dia cocok atau tidak menjadi sopir pribadiku."
"Baiklah, kebetulan saya memang ada seseorang. Dia juga baik, tapi tidak tahu nanti cocok atau tidak dengan Anda. Nanti akan saya coba menghubunginya, semoga saja dia belum bekerja."
Tidak berapa lama mobil yang dikendarai Rendra sampai juga di depan rumah Vania. Gadis itu menawarkan pada atasannya untuk mampir sejenak. Namun, pria itu menolak karena harus segera pulang. Sudah dari tadi mamanya terus menghubunginya dan meminta untuk cepat pulang. Vania pun mengerti dan membiarkan atasannya itu pergi begitu saja.
Saat Vania memasuki gerbang, terlihat Mama Nisa yang sudah berdiri di depan pintu. Sepertinya tadi mamanya melihat dia yang diantara oleh atasannya. Semoga saja wanita itu tidak berpikir yang macam-macam.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Vania sambil mencium punggung tangan sang mama.
"Waalaikumsalam. Tadi kamu diantar siapa? Kenapa tidak mampir dulu?" tanya Mama Nisa.
"Oh, itu! Tadi Pak Rendra, kebetulan beliau juga akan pulang dan menawarkan tumpangan. Tadinya aku mau nolak, tapi karena taksi yang aku pesan mogok dan aku juga tidak mendapatkan taksi jadinya aku menerima tawaran Pak Rendra."
"Jangan terlalu dekat dengan laki-laki sekalipun itu atasan kamu. Ingat! Kalau laki-laki dan perempuan berduaan, orang ketiganya itu setan. Takutnya kalian khilaf meski hanya sesaat.
"Iya, Ma. Aku dan Pak Rendra juga cuma ngobrol saja," sahut Vania dengan menundukkan kepala. Dia tahu saat ini mamanya sedang marah karena tidak suka melihat putrinya dekat dengan pria.
__ADS_1
"Pertama memang ngobrol, tapi nggak tahu selanjutnya. Sudah kamu masuk sana dan bersihkan tubuh kamu!" Vania pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah.