
Setelah selesai makan siang, Aji dan Asha memutuskan untuk pulang. Di kantor juga pekerjaan sudah selesai. Begitu sampai di rumah keduanya disambut sang putra dengan begitu ceria. Aji pun segera menggendong anak itu dan mencium pipinya beberapa kali. Baru setengah hari berpisah rasa rindu begitu besar.
"Anak Papa tadi sekolahnya bagaimana? Suka?"
"Suka. Sekolahnya bagus, gurunya juga baik-baik. Banyak sekali teman di sana, tapi aku masih belum kenal, hanya beberapa saja," jawab anak itu dengan begitu antusias.
"Iya, nanti lama-lama juga kenal, semuanya memang butuh waktu, harus perlahan."
"Iya, Pa," sahutnya dengan menganggukkan kepala, kemudian bertanya saat teringat sesuatu. "Papa kemarin bilang katanya kalau sudah di kota mau ajak aku jalan-jalan, kapan?"
"Ini kan belum hari libur, Sayang. Hari Minggu saja, memangnya Khairi maunya ke mana?"
"Kenapa tidak sekarang saja, Pa. Sekarang 'kan Papa sudah pulang kerja, Mama juga di rumah. Aku ingin main sama papa," pinta Khairi dengan memelas
Aji menatap ke arah sang istri, sepertinya Asha juga tidak keberatan. Akhirnya Aji pun mengiyakan permintaan sang putra dan mengajak Asha dan Khairi bersiap untuk pergi ke mall. Anak itu terlihat begitu bahagia, hingga melompat sambil berlari menuju kamarnya.
"Mas, apa kamu nggak lelah? Dari pagi kamu sudah kerja, kapan-kapan saja kita pergi. Jangan selalu menuruti keinginan Khairi, takutnya nanti anak itu akan semakin manja," ucap Asha saat sang putra sudah pergi bersiap untuk jalan-jalan sesuai perintah Aji.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sesekali aku juga ingin membahagiakan Khairi, kita juga sudah lama tidak pergi bersama. Aku ingin membuat kenangan baru untuk kita, hanya sebentar saja tidak masalah. Aku akan bahagia asal bisa membuat Khairi dan kamu bahagia."
Asha pun mengangguk saja dan menuruti perintah sang suami. Dua senang karena merasa menjadi istri yang paling diperhatikan. Keduanya pergi ke kamar untuk bersiap.
***
"Wah! Mall di sini besar sekali, Pa," ucap Khairi yang begitu takjub dengan mall yang baru saja dia masuki. Biasanya kalau di tempat tinggalnya ada mall tapi tidak sebesar dan seluas mall ini.
"Tentu saja, Sayang. Tempat ini memang mall terbesar di kota ini, kamu di sini boleh meminta apa pun yang kamu inginkan. Kamu mau beli sesuatu?"
"Tidak, Pa. Aku hanya ingin bermain sama Papa saja."
__ADS_1
Aji pun mengangguk dan mengajak Khairi ke sebuah wahana permainan tempat anak-anak. Asha hanya mengikutinya dari belakang, sesekali dia ikut bergabung bermain dengan mereka, hingga akhirnya Aji dan Khairi bermain berdua saja. Sementara itu, Asha yang tidak bisa menahan hajat pun pamit untuk pergi ke toilet.
Siapa yang menyangka jika kepergian wanita itu membuat Asha bertemu dengan seseorang yang tidak diharapkan. Sudah lama mereka tidak bertatap muka, Asha pun sudah mengubur perasaannya dari dulu, tidak ada setitik pun yang tersisa.
"Wah! Asha, tidak menyangka aku bisa bertemu dengan kamu di sini, apa kabar?" sapa seorang pria membuat Asha terkejut.
Jantungnya berdebar tidak karuan, bukan karena jatuh cinta, lebih tepatnya takut. Entah kenapa dia merasa aura orang tersebut berbeda. Tanpa sadar wanita itu mengepalkan tangannya, teringat kenangan dulu saat dirinya ditinggal begitu saja. Meskipun kejadian itu sudah sangat lama, tetap saja masih teringat jelas semuanya.
"Aku baik, semoga kamu juga begitu," ucap Asha yang mencoba untuk terlihat biasa saja.
Wanita itu tidak ingin pria yang ada di depannya tahu jika dirinya saat ini sedang gelisah. Orang itu yang tidak lain adalah Arvin—mantan kekasih Asha. Pria yang meninggalkan dirinya saat sedang hamil. Namun, itu memang pantas dilakukan karena memang bukan Arvin pelakunya.
Hanya pria itu yang tahu jika Asha hamil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Saat ini Asha merasa jika dirinya sedang dalam masalah, dia takut Arvin akan membahas masalah itu kembali.
"Aku lihat kamu tadi datang bersama dengan pria dan seorang anak, apa anak itu adalah anak yang dulu kamu kandung?"
"Sepertinya kita sudah tidak sedekat hingga aku harus menjelaskan tentang keluargaku dan orang-orang di sekitarku. Sepertinya aku harus pergi, aku tidak ingin membuat keluargaku terlalu lama menunggu."
"Tunggu dulu dong, Asha. Aku belum selesai berbicara kamu mau pergi begitu saja, kenapa buru-buru sekali? Apa kamu tidak ingin nostalgia bersamaku?" tanya pria itu dengan nada menggoda.
Asha hanya menggelengkan kepala, dia berniat untuk kembali. Namun, langkahnya dihadang oleh Arvin. Pria itu sama sekali tidak membiarkannya pergi, entah apalagi yang diinginkan.
"Apakah anak itu adalah anak yang kamu kandung saat dulu masih bersamaku?" tanya Arvin membuat tubuh Asha menegang, tidak menyangka jika pria itu akan bertanya tentang masa lalu yang sudah dia kubur.
Asha masih diam, tidak ingin membahas masa lalu, hingga akhirnya Arvin pun kembali berkata, "Aku tidak menyangka kalau kamu bisa seperti ini. Apa kamu menjebak laki-laki itu untuk menikahimu agar kamu bisa mendapatkan status seorang istri dan mendapatkan ayah untuk anakmu itu? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa seperti ini. Kamu menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginanmu, padahal sebelumnya aku sudah menawarkan untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandunganmu. Setelah itu kita bisa bersama kembali. Aku juga memaafkanmu yang sudah tidak suci lagi, tapi kamu malah menolak dan berkata sok suci."
Arvin menatap sinis ke arah mantan kekasihnya. Dia pikir jika Asha telah menjebak pria untuk menikahinya dan mengatakan hamil anak pria itu. Meskipun awalnya memang benar seperti itu, tetapi tidak sekarang. Aji sudah benar-benar menyayangi anak itu walaupun tidak ada ikatan darah.
"Maaf, Arvin. Aku saat ini sedang tidak ingin membahas masa lalu. Bagiku semua sudah lewat dan tidak seharusnya kita membahas hal itu lagi. Lebih baik kita hidup di jalan masing-masing dengan tenang. Aku tidak akan mengganggumu, begitu pun juga kamu. Aku tidak ingin kamu ikut campur dalam urusan keluargaku, biarlah itu semua menjadi urusanku sendiri."
__ADS_1
Arvin menatap Asha dengan sorot mata yang begitu tajam. Bertahun-tahun pria itu berusaha melupakan wanita itu. Namun, tidak semudah yang dia bayangkan karena bayangan sang mantan kekasih terus saja menghantuinya. Apalagi kebaikan yang Asha berikan sungguh mengganggu ketenangan, hingga laki-laki itu pun memutuskan untuk kembali dengan wanita itu.
Saat kembali justru yang menemukan bahwa Asha sudah menikah dengan pria lain. Padahal sebelumnya dia meyakini bahwa tidak akan ada pria yang mau menerima wanita yang hamil. Zaman sekarang memang sudah banyak gadis yang sudah tidak suci lagi, tetapi sebagai pria tentu ingin yang terbaik untuk dijadikan istri. Meskipun dirinya juga bukan orang yang baik.
Akhirnya Arvin berpikir jika Asha telah melakukan kecurangan, hingga membuat pria itu menerimanya. Arvin pun menatap mantan kekasihnya dan menyeringai. Dia mencurigai wanita itu telah menjebak suaminya.
"Kira-kira bagaimana jadinya jika orang di luaran sana tahu jika anak yang kamu kandung bukanlah anak dari suamimu, apakah keluarga suamimu masih mau menerimamu atau tidak? Aku jadi penasaran bagaimana hasilnya."
"Apa maksudmu?" tanya Asha dengan wajah pucat pasi.
Dia tahu jika keluarga Aji telah menerima keadaan dirinya, tapi bagaimana jika seluruh masyarakat mengetahui hal itu? Asha tidak ingin mempermalukan keluarganya dan keluarga mertuanya. Mereka sama-sama orang terpandang, bagaimana nanti jika ada orang yang menghinanya? Wanita itu tidak ingin menjadi penyebab kehancuran keluarganya.
Arvin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Asha yang terlihat ketakutan. Dia jadi semakin yakin jika akan membongkar mengenai asal usul dari anak itu.
"Kamu tenang saja, aku punya penawaran padamu. Aku tidak akan membongkar rahasia ini, tentunya dengan syarat."
"Syarat? Syarat apa?"
"Kamu harus menceraikan suamimu dan kembali padaku. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Aku juga akan menerima anakmu, aku akan menyayangimu seperti anakku sendiri, bagaimana?"
Asha menggerakkan giginya, menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Dulu pria itu yang meninggalkan dirinya, tetapi kini malah ingin kembali. Dia bukan mainan yang seenaknya dibuang dan dipungut kembali. Apalagi sekarang sudah memiliki keluarga yang sangat bahagia.
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah mau melakukannya."
"Apa kamu yakin? Tidak ingin berpikir dulu? Sampai kamu menyesal nanti."
Asha menatap tajam ke arah Arvin tanpa menjawab satu kata pun. Sungguh dia merasa amarahnya begitu besar, tidak menyangka jika pria itu bisa berpikir ke arah sana.
"Baiklah kalau begitu, itu artinya kamu sudah siap jika rahasiamu akan aku bongkar."
__ADS_1
Asha mengepalkan tangannya sambil memejamkan matanya dengan kuat. Tidak mungkin dirinya rela jika melepaskan sang suami. Akan tetapi sekarang nama baik keluarga dipertaruhkan. Rasanya sungguh dia tidak sanggup untuk berpisah dengan Aji.
Namun, untuk bersama dengan Arvin juga tidak mau, dia ingin memiliki keluarga yang bahagia dan penuh cinta. Tidak seperti bersama Alvin yang penuh dengan tekanan dan keterpaksaan. Meskipun dulu mereka pernah bersama, tetapi cinta itu sudah pudar.