
Malam ini Vania menginap di rumah Asha dan ajan tidur di kamar Khairi. Gadis itu bilang akan pulang besok. Tadi dia juga sudah bertanya banyak hal pada Aji mengenai perusahaan yang akan didatanginya besok.
"Kamu kenapa diam saja dari tadi?" tanya Aji saat dirinya dan sang istri hanya berdua di kamar dan bersiap untuk tidur.
"Tidak apa-apa, Mas," sahut Asha tanpa melihat ke arah sang suami.
"Kamu tidak bisa bohong padaku, memang apa yang mengganggu pikiranmu?"
Asha menatap sang suami dengan pandangan sedih. Ingin sekali dia memendam semuanya sendiri, tetapi rasanya tidak mungkin karena mereka sebelumnya sudah berjanji untuk saling terbuka, tidak akan ada rahasia apa pun.
"Mas, kenapa sampai sekarang aku belum juga hamil ya! Padahal kita menikah sudah beberapa bulan."
"Kenapa kamu berpikir ke arah sana? Apa ada seseorang yang sudah mengganggumu dan mengungkit soal kehamilan?" tanya Aji yang sedikit curiga, takut jika sang istri merasa tidak nyaman dengan rumah tangga ini.
"Bukan begitu, Mas. Seandainya aku hamil dan kita bisa memiliki anak, pasti hubungan kita akan semakin kuat."
Aji semakin mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh sang istri. Namun, pria itu mencoba untuk bicara dari hati ke hati, tidak ingin membuat wanita itu takut dan tidak nyaman padanya. Pasti nanti Asha ajan menceritakan semuanya.
"Katakan saja apa yang ada di hatimu saat ini. Aku tidak bisa menebaknya kalau kamu hanya memberikan kode-kode saja. Apa pun yang ada di hatimu keluarkan semuanya, jangan sampai ada yang mengganjal."
Asha menundukkan kepala dan berkata, "Aku hanya takut, diluar sana pasti banyak wanita-wanita cantik dan seksi yang kapan saja bisa datang merayumu, sementara aku di sini tidak bisa memberikan anak yang bisa mengikat ikatan kita."
__ADS_1
Aji menatap sayu ke arah sang istri, menggenggam telapak tangannya dan berkata, "Bukankah anak itu juga pemberian Tuhan? Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan memberi rezeki dan kapan Tuhan mengambilnya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya kuasa Sang Pencipta. Lagi pula kita sudah ada Khairi, dia juga anakku kalau kamu lupa. Sudah, tidak perlu dipikirkan. Lagi pula kalau kamu tidak hamil bukan kamu yang salah, akulah yang mungkin bermasalah. Buktinya kamu bisa hamil dan memiliki anak, sementara aku mungkin aku yang ...."
Belum selesai Aji melanjutkan kata-katanya Asha sudah menutupnya mulut pria itu dengan telapak tangannya. Dia tidak ingin mendengar sang suami merasa rendah diri. Kalau seperti ini pasti dirinya yang merasa bersalah karena sudah mengungkit hal yang bukan menjadi kuasa mereka.
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk menyalahkanmu. Aku hanya sedang dilema."
Aji mengangguk dan memeluk sang istri. "Sudah, tidak perlu membahas hal ini. Semuanya sudah kehendak Tuhan. Kita jalani semuanya sebagaimana mestinya."
Dalam pelukan Aji, Asha mengangguk. Wanita itu berjanji tidak akan membahas mengenai hal ini lagi. Bukan karena dia tidak ingin memiliki anak, hanya saja wanita itu tidak ingin menyakiti hati sang suami. Jika dirinya membahas anak pasti Aji yang merasa paling terluka jadi, lebih baik tidak dibahas dan mengikuti alur saja.
Keesokan paginya, seperti apa yang dikatakan oleh sang kakak ipar, Vania menyiapkan lamaran pekerjaan dan ditujukan pada salah satu perusahaan yang sedang membuka lowongan. Mama Nisa dan Papa Roni yang mendengar pun hanya menggelengkan kepala. Padahal mereka sudah merencanakan banyak hal untuk putrinya itu, tetapi malah lebih memilih mencari pekerjaan di luar.
Asha juga sama, tidak mau mengurus pekerjaan dan lebih memilih sebagai ibu rumah tangga, sekaligus memasarkan produk buatannya yang ada di kampung. Meskipun dia sudah tidak turun tangan dalam pembuatannya, tetapi ada masih aktif memasarkan dan semua pesanan masuk ke ponsel Tiara.
"Iya, Mbak. Saya mau melamar pekerjaan di sini. Saya dengar hari ini perusahaan mengadakan interview untuk pelamar," jawab Vania dengan sopan.
"Oh iya, kebetulan memang benar. Anda bisa masuk ke dalam lift naik ke lantai tiga, di sana sudah banyak orang yang sudah antre. Anda bisa daftar di sana sekalian."
"Terima kasih, Mbak. Kalau begitu saya permisi." Vania pun menuju tempat yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi.
Meskipun tangan gemetar, gadis itu tetap memberanikan diri mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Dia mendengar jika pemilik perusahaan sendiri yang akan menginterview mereka. Itu karena memang pemilik perusahaan juga sedang membutuhkan seorang sekretaris yang cekatan. Bosnya tidak percaya dengan orang lain dan lebih memilihnya secara langsung. Dia tidak ingin menimbulkan masalah di kemudian hari.
__ADS_1
Tentu saja berita itu membuat para pelamar begitu antusias. Mereka berharap mendapatkan pekerjaan itu, berbeda dengan Vania yang justru menginginkan jadi staf biasa saja.
Satu persatu persatu semua orang diwawancarai, kini giliran Vania yang harus masuk ke dalam ruangan. Tentu saja gadis itu merasa sangat gugup, apalagi ini pengalaman pertama baginya.
"Nona Vania, tolong perkenalkan nama Anda secara lengkap," ucap seorang wanita yang duduk di sana.
Perlahan Vania pun menjelaskan siapa dirinya dan apa yang menjadi tujuannya untuk bekerja di perusahaan ini. Tiga orang yang ada di sana mendengarkan dengan seksama. Sementara itu, Rendra, pria yang duduk di tengah-tengah yang tidak lain adalah pemimpin perusahaan mengerutkan keningnya, saat mengetahui siapa nama lengkap gadis yang ada di depannya. Dia merasa pernah mendengar nama itu, tetapi lupa di mana.
Rendra tidak mau ambil pusing, pria itu terus mendengar bagaimana Vania menjelaskan siapa dirinya dan apa saja yang dia bisa, membuat Rendra tertarik. Tanpa sadar dia menarik kedua ujung bibirnya. Namun, itu hanya sekilas, tidak ingin orang melihat hal tersebut.
"Baiklah, kamu diterima kerja di perusahaan ini. Besok kamu sudah mulai bisa bekerja sebagai sekretarisku," ucap Rendra dengan tegas.
Dua orang yang ada di sampingnya pun terkejut karena mereka sama sekali belum menguji kehebatan Vania, tetapi atasannya malah menerima begitu saja. Gadis itu juga masih belum memiliki pengalaman, mereka takut jika Vania akan membuat masalah nantinya. Namun, keduanya tidak berani berkata apa pun.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak suka diterima di perusahaan ini?" tanya Rendra yang masih dengan wajah dinginnya.
"Bu–bukan begitu, Pak. Saya ke sini hanya ingin melamar sebagai staf biasa, tapi kenapa saya diterima sebagai sekretaris? Apalagi saya juga tidak memiliki pengalaman sama sekali. Bagaimana jika saya membuat kesalahan yang nantinya malah akan membuat kerugian untuk Anda. Saya rasa masih banyak pelamar yang lebih hebat daripada saya jadi, kenapa Anda harus memilih saya sebagai sekretaris. Lebih baik saya di bagian staf biasa saja."
Rendra yang mendengar jawaban Vania pun jadi kesal, dia tidak suka orang lain malah mengguruinya. "Mengenai alasan saya kenapa memilih kamu, tidak perlu orang lain tahu. Kamu cukup jawab mau atau tidak. Jika mau kamu bisa bekerja besok. Jika tidak, kamu tidak usah lagi datang ke perusahaan ini."
Seketika Vania terlihat bingung, dia memang tidak menginginkan untuk jadi sekretaris, tapi gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan ini. Bagaimanapun Vania ingin membuktikan pada kedua orang tuanya jika dirinya mampu mencari pekerjaan di luaran sana, tanpa bantuan mereka. Akan tetapi bagaimana dia harus memulai pekerjaan jika tidak tahu apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
"Kenapa masih diam? Cepat jawab sekarang! Di luar masih banyak pelamar yang ingin diwawancarai, bukan cuma kamu saja!" hardik Rendra.