Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
21. Penjelasan untuk Naura


__ADS_3

"Makanlah!" perintah Aji dengan wajah dingin sambil menyerahkan sebungkus nasi.


Asha tersenyum menanggapinya, lalu memakan makanan itu. Ada nasi beserta Ayam dan sambalnya. Meskipun sebenarnya dia tidak begitu suka dengan ayam, tetapi karena yang membeli adalah Aji, wanita itu pun segera menikmatinya. Apa yang dibeli tidaklah penting, yang penting adalah perhatian sang suami itu saja sudah cukup.


Biarlah Asha dibilang kampungan karena memaksakan sesuatu kehendak yang tidak disukai. Baginya karena yang membelikan adalah orang yang dia cintai, itu terasa nikmat. Cintanya pada Aji semakin hari justru semakin bertambah. Meskipun selama ini pria itu tidak memperlakukan dia dengan baik, tetapi Asha benar-benar merasa jatuh hati. Bukankah Aji adalah suaminya jadi wajar bagi dia untuk jatuh cinta.


Saat akan tidur, ada seorang dokter yang memeriksanya dan mengatakan bahwa keadaan masyarakat sudah lebih baik. Besok wanita itu diperbolehkan pulang. Asha merasa lega karena tidak akan terlalu lama tinggal di rumah sakit. Dia tidak perlu juga berpindah ke rumah sakit seperti yang dikatakan Aji tadi. Wanita itu juga merasa kasihan saat melihat suaminya yang harus menjaganya seperti sekarang ini.


"Mas, terima kasih sudah peduli padaku dan juga sudah membawaku ke sini. Kalau tidak, entah apa yang terjadi padaku," ucap Asha setelah dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan itu.


"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Aku juga baik-baik saja, aku hanya menjalankan tugasku sebagai suami, tidak lebih. Aku juga tidak mau kedua orang tuaku curiga dengan kita. Lebih baik kamu sekarang tidur, aku juga lelah mau tidur." Aji segera beranjak menuju ranjang yang sudah disediakan untuk keluarga.


Dia tidur dengan membelakangi Asha. Namun, wanita itu terus yang melihat ke arah sang suami. Asha sungguh beruntung bisa memiliki suami seperti Aji. Jika orang lain pasti sudah meninggalkan dirinya tepat di malam pertama, terapi pria itu mau menerimanya. Meskipun harus dengan ancaman sekalipun.


***


"Pa, bagaimana sekarang? Bagaimana kita menjelaskannya pada Naura? Mama tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita, Pa?" tanya Winda saat mereka baru saja sampai di rumah.

__ADS_1


Keduanya saat ini sedang duduk di ruang tamu. Mau berbohong juga tidak bisa, takut jika Naura menghubungi Aji, mengingat tingkah anaknya yang terkadang konyol.


"Papa juga bingung mau berkata seperti apa, tapi bapak salut pada Aji yang begitu mencintai istrinya. Meskipun Naura adalah temannya, tapi tidak membuat hatinya menerima."


Mendengar sang suami memuji Aji membuat Winda mendengus kesal. Sang suami malah mendukung orang lain. Harusnya lebih peduli dengan nasib putrinya sendiri.


"Sebenarnya Mama juga bingung, apa juga yang spesial dari wanita itu dibandingkan dengan anak kita. Naura jauh lebih cantik, pendidikan juga, Mama rasa Naura lebih unggul daripada dia."


"Karena dia itu seorang istri yang baik dan patuh, itu sudah cukup. Papa juga sering menemui orang-orang seperti itu dan mereka terlihat sangat bahagia. Orang seperti Aji bukanlah orang yang bisa memilih wanita dengan seenaknya.


Winda hanya diam, dalam hati dia tetap meyakini bahwa sang putri lebih dari segalanya dibandingkan dengan Asha. Namun, dia juga tidak bisa memaksa Aji yang lebih memilih istrinya daripada Naura, yang notabene adalah temannya dari kecil.


"Semoga saja. Ya sudah, Mama mau istirahat." Wulan pun segera pergi menuju kamarnya.


Setelah kepergian sang istri, Harun menjadi tidak tenang. Dia benar-benar khawatir takut jika putrinya tidak bisa menerima penolakan Aji dan melakukan hal yang nekat lagi. Naura adalah putri satu-satunya, pria itu tidak akan mungkin tega melihat putrinya bersedih, apalagi sampai melakukan hal yang nekat. Harun tidak akan bisa menerima hal itu.


Keesokan paginya, Naura menunggu kedua orang tuanya di meja makan. Namun, mereka tak kunjung keluar membuat gadis itu gelisah. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, pasti ini berhubungan dengan Aji. Mungkin pria itu menolaknya, hingga membuat kedua orang tuanya tidak kunjung keluar.

__ADS_1


Naura yang kesel pun akhirnya mendatangi kedua orang tuanya di kamar. Pasti mereka sengaja menyembunyikan diri. Setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali, pintu akhirnya terbuka dan tampak sang mama yang sudah cantik. Begitu pula dengan papanya yang sudah siap untuk pergi ke kantor.


"Papa sama Mama kenapa lama sekali? Aku dari tadi nungguin di ruang makan," ucap Naura dengan kesal.


"Iya, ini juga baru mau turun. Sebaiknya kamu turun dulu, sebentar lagi kami juga turun."


"Aku mau nungguin Papa sama Mama saja, sekalian ada yang mau aku tanyakan juga mengenai kemarin. Bagaimana? Apa Aji mau menerimaku?" tanya Naura dengan penuh harap. Dia sudah terlalu banyak berkhayal bisa mendapatkan Aji, tidak mungkin semuanya harus terkubur begitu saja.


"Sayang, duduk dulu sini! Biar Papa yang jelaskan," ucap Papa Harun sambil menepuk sisi ranjang agar putrinya ikut duduk di sana.


Naura pun mengikuti perintah papanya, dia duduk di tepi ranjang milik kedua orang tuanya. Mama Wulan pun juga ikut duduk di sana. Wanita itu tidak ingin putrinya terkejut dan malah akan melakukan sesuatu seperti kemarin. Dia harus membantu sang suami untuk bicara dari hati ke hati.


"Begini, Sayang, Papa dan Mama kemarin sudah bicara sama Aji, tapi kamu 'kan tahu sendiri kalau dia sudah memiliki istri. Dia tidak bisa menerima kamu karena dia hanya menganggap kamu sebagai teman. Papa harap kamu bisa mengerti, cinta tidak bisa dipaksakan, begitu juga dengan Aji. Dia hanya mencintai istrinya dan tidak ingin menyakiti wanita itu. Sebagai sesama wanita, kamu harusnya mengerti."


Naura menggeleng dengan cepat, dia tidak percaya dengan apa yang papanya katakan. "Tidak! Papa pasti berbohong. Papa pasti nggak pergi ke sana, kan?"


"Papa sudah ke sana sama mamamu. Kalau kamu tidak percaya kalau bisa tanyakan pada Aji secara langsung."

__ADS_1


Naura terdiam, kalau memang Aji tidak menyukainya kenapa selama ini pria itu seolah memberi harapan padanya. Kenapa selama ini Aji juga selalu bersikap baik padanya. Berbeda saat dulu selalu dingin pada siapa pun, bahkan dengan tega menolak apa pun yang diinginkan oleh Naura. Namun, berbeda dengan akhir-akhir ini, pria itu selalu menerima perlakuannya, bahkan Aji juga begitu perhatian padanya dan menuruti keinginan wanita itu.


Kenapa sekarang di saat kedua orang tuanya mengajukan pernikahan, justru laki-laki itu menolak atau memang sang istri yang tidak mau dimadu? Padahal dirinya sudah rela untuk menjadi istri kedua. Sepertinya Naura memang harus berbicara dengan istri dari Aji secara langsung. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan sedikit pun. Terserah apa kata orang tentang dirinya.


__ADS_2