Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
125. Tuduhan


__ADS_3

Pagi ini Dira datang sedikit terlambat karena tadi dia terkena macet, ada kecelakaan di jalan. Begitu sampai di kantor, beberapa orang yang berpapasan dengannya melirik sinis. Dira yang tidak tahu apa-apa pun jadi bingung, tetapi tidak mau ambil pusing dan berlalu begitu saja. Entah apa yang terjadi di perusahaan ini, dia sama sekali tidak tahu.


Sampai di depan ruangannya pun masih tetap sama, mereka menatapnya sinis padahal dirinya saja tidak tahu kesalahannya apa. Tidak mau terlalu memikirkannya Dira berusaha untuk cuek dan tidak terpengaruh dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada manfaatnya, begitulah pikir jadi wanita itu. Hingga saat dia sampai di meja kerjanya, Reni datang mendekat dan ingin memberitahu sahabatnya apa yang terjadi.


"Dira, semua orang kantor membicarakan kamu yang tidak mau membantu Wulan untuk bekerja di perusahaan suamimu. Mereka bilang Wulan sangat membutuhkan pekerjaan demi keluarganya, tetapi kamu malah tidak mau membantu sama sekali. Mereka juga bilang jamu tidak punya rasa empati sama sekali."


Dira mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa mereka harus membicarakanku? Bukankah benar apa yang kau katakan kemarin, kalau aku tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan perusahaan suamiku. Lagipula semuanya juga ada prosedurnya, tidak bisa seenaknya saja. Suamiku juga tidak berhak merekrut pegawai asal, kecuali kalau memang ada alasan tertentu. Misalnya dia berpotensi untuk memajukan perusahaan atau lulusan terbaru dengan nilai terbaik, tentu mereka akan merekrutnya. Kalau dia 'kan hanya staf biasa, di luaran sana masih banyak. Bukan maksudku untuk meremehkan pekerjaannya, tapi kita semua 'kan sama juga profesinya. Di luaran sana juga sama-sama membutuhkan pekerjaan jadi, harus bersaing secara adil. Biarlah pihak perusahaan yang menilai tanpa campur tangan orang dalam."


"Iya, aku juga sudah berusaha menjelaskan kepada mereka, tapi tetap saja Wulan lebih pintar menghasut karyawan di sini."


"Sudah, tidak perlu ditanggapi. Terima kasih sudah membelaku, tapi nanti jika ada yang membicarakanku lagi diamkan saja. Kalau nanti lelah juga mereka akan diam. Aku sebenarnya juga bersyukur tidak merekomendasikannya ke Mas Hasbi. Sekarang saja dia sudah menjelekkanku padahal apa yang aku katakan benar, bagaimana nanti jika dia mendapat teguran di perusahaan suamiku, bisa-bisa akan lebih parah."


Reni mengangguk dan kembali ke meja kerjanya, sementara Dira sudah memulai pekerjaannya. Dulu dia sangat menyukai bekerja di perusahaan ini. Selain karena ini bidang yang disukai, ada juga Devi dan Reni yang menjadi tempatnya saling bercerita. Jika ada pekerjaan yang tidak dimengerti mereka akan saling bertanya.


Sekarang Devi sudah tidak bekerja lagi setelah dipindahkan dan sekarang berhenti. Hanya tinggal Reni yang jadi temannya. Teman satu ruangan juga tidak begitu peduli satu sama lain, tetapi saat ada masalah mereka paling terdepan untuk bergosip. Sebenarnya bukan hanya di ruangan ini, di tempat lain juga sepertinya sama saja.


Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, ada seorang datang yang dan mengatakan jika Pak Alex ingin bertemu. Dira tentu saja bingung, apa alasan dirinya dipanggil padahal ini masih pagi. Dia saja baru menyentuh berkasnya. Namun, wanita itu tetap pergi, Dira juga penasaran apa yang ingin dikatakan atasan barunya itu. Semoga saja bukan masalah yang serius.

__ADS_1


Seperti tadi pagi, saat dia berjalan keluar dari ruangan semua orang masih saja menatapnya. Tentu saja hal tersebut membuat Dira kesal, tapi memperdebatkan rasanya juga percuma. Apalagi dirinya juga bukan siapa-siapa di perusahaan ini.


"Permisi, tadi ada yang memanggilku, katanya Pak Alex ingin bertemu denganku," ucap Dira pada seorang asisten yang ada di depan ruangan Alex.


"Iya, Pak Alex menunggumu. Langsung masuk saja."


Dira mengangguk dia pun mengetuk pintu dan segera masuk setelah pemilik ruangan menjawab.


"Maaf, Pak. Apa Anda memanggil saya?"


"Iya, saya ingin menanyakan sesuatu yang penting padamu dan saya harap kamu menjawabnya dengan jujur."


"Apa benar kamu suami dari Hasbi, pemilik perusahaan yang saat ini sedang naik daun. Apa tujuan kamu bekerja di sini?" tanya Alex dengan menatap tajam ke arah Dira.


Wanita itu mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan atasannya. Dia pun balik bertanya, "Maksud Bapak apa? Tentu saja saya ingin bekerja dan menghasilkan uang. Bukankah perusahaan memang tempat untuk bekerja dan mencari nafkah?"


"Apa kamu tidak memiliki tujuan yang lain?"

__ADS_1


"Tujuan lain? Tujuan apa? Sebaiknya Anda katakan saja langsung pada intinya, tidak usah berbelit-belit."


"Baiklah! Saya dengar kamu adalah istri dari seorang pengusaha, apa kamu bukan mata-mata dari mereka?"


Dira terkekeh sambil menggelengkan kepala, kini dia mulai paham arah pembicaraan dari atasannya itu. Dia tidak menyangka jika Alex orang yang memiliki pikiran picik seperti itu. Padahal sebelumnya wanita itu sempat memuji ketegasannya dalam memimpin, tetapi sekarang ternyata tidak lebih baik dari Pak William.


"Mohon maaf, Pak Alex, tapi nda seorang pengusaha hebat, tentu Anda bisa berpikir dengan jernih. Perusahaan ini dan perusahaan suami saya bergerak di bidang yang berbeda, lalu di mana letak saya mata-mata dari perusahaan suami saya? Lagi pula saya lebih dulu bekerja di sini dan sebelum saya mengenal suami saya."


Alex terdiam, dia sendiri tidak tahu perusahaan suami Dira bergerak dibidang apa. Pria itu hanya mendengar dari para pegawai yang bergosip di luar sana. Namun, sebagai seorang atasan tentu saja Alex tidak ingin terlihat kalah dan berusaha untuk mengelak.


"Oh ya! Apa kata-katamu bisa dipercaya? Bukankah kamu baru bekerja di sini dan kamu juga baru menikah? Bisa saja kamu merencanakan semua itu dari jauh-jauh hari."


"Saya baru menikah satu minggu yang lalu dan saya mengenal suami saya melalui perjodohan. Apakah perlu saya katakan dengan rinci semuanya agar Anda paham, bahwa saya benar-benar bukan seperti orang yang anda tuduhkan tadi." Dira menatap tajam ke arah atasannya, dia sama sekali tidak merasa takut, justru geram dengan tuduhan itu.


"Tidak perlu, sekarang kamu keluarlah! Kembali ke meja kerjamu dan kerjakan saja tugasmu."


Dira masih kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya di sini hanyalah seorang pegawai, tidak mungkin menuntut atasannya untuk meminta maaf padanya. Lagipula dia juga bukan orang yang gila hormat. Wanita itu menarik napas dalam-dalam guna menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Baik, Pak, terima kasih. Saya hanya ingin mengatakan satu hal. Meminta maaf pada orang yang sudah Anda sakiti tidak akan menurunkan harga diri Anda. Ke depannya semoga Anda mengerti dan tidak bersikap seenaknya. Permisi"


Dira segera berlalu meninggalkan atasannya dengan kekesalan yang dia bawa. Sementara itu, Alex terkejut dengan apa yang dikatakan Dira. Apakah dia membuat kesalahan? Apa wanita itu tersakiti olehnya? Apa dirinya harus meminta maaf pada karyawannya itu? Rasanya tidak mungkin, itu akan membuat harga dirinya turun, tetapi Dira tadi mengatakan harga dirinya tidak akan turun hanya karena minta maaf. Alex menggelengkan kepala akan mencoba untuk menepis pikiran mengenai Dira dan kembali fokus pada pekerjaannya.


__ADS_2