Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
74. Ingin selalu bersama


__ADS_3

"Papa belum pulang, Ma?" tanya Khairi saat anak itu akan tidur.


"Papa lagi ada pekerjaan, Sayang. Nanti kalau sudah selesai juga pulang. Sekarang Khairi tidur dulu, sudah malam," jawab Asha sambil memperbaiki selimut putranya.


"Tapi Papa beneran pulang ke sini, kan, Ma?"


"Iya, dong, Sayang. Memang pulang ke mana lagi."


Khairi akhirnya mengangguk dan memejamkan matanya. Dalam hati Asha merasa sedih karena sampai saat ini, sang putra masih saja merasa takut jika papanya tidak pulang ke rumah. Padahal Asha dan Aji sudah memberi pengertian, bahwa papanya tidak akan pergi kemana-mana lagi. Akan tetapi, mungkin merasa takut dalam diri anak itu sudah mendarah daging jadi, setiap kali papanya telat pulang pasti akan selalu ditanya seperti itu.


Asha sendiri saat ini sedang khawatir karena sang suami belum juga pulang. Tadi sore memang Aji mengabarkan kalau malam ini dia mungkin pulang larut malam. Ada satu pekerja yang harus menjalani operasi malam ini dan dia harus menemani keluarga. Pria itu tidak mungkin lepas tanggung jawab begitu saja.


Asha yang mengerti pun hanya bisa menerima dan juga mendoakan, supaya operasi itu berjalan lancar dan pekerja itu bisa sembuh seperti sedia kala. Tidak ada yang menginginkan musibah ini, semua terjadi begitu saja.


Setelah memastikan sang putra terlelap, Asha bangun dari tidurnya menuju ruang tamu sambil membawa ponsel. Dia ingin bertanya pada sang suami apakah operasinya sudah selesai apa belum. Namun, sayang pesannya sama sekali tidak dibalas bahkan hanya centang satu. Mungkin ponsel Aji kehabisan baterai.


Pukul 11.00 malam akhirnya Aji pulang juga. Tampak wajah laki-laki itu sangat lelah. "Kenapa nggak tidur, Sayang? Kamu nungguin aku dari tadi?" tanya Aji saat sang istri membukakan pintu.


"Aku mana bisa tidur kalau nggak ada kabar dari kamu, Mas."


"Bukankah tadi sore aku sudah kirim pesan sama kamu, kalau aku pulang telat."


"Iya, makanya aku nggak bisa tenang. Sekarang sebaiknya kamu bersihkan tubuh kamu dulu, setelah itu baru istirahat. Kamu juga terlihat sangat lelah."

__ADS_1


Aji mengangguk dan beranjak ke kamar mandi yang ada di belakang karena memang di rumah ini hanya ada satu kamar mandi. Asha sendiri pergi ke kamar untuk mengambil handuk dan memberikannya pada sang suami.


"Kamu sudah makan? Biar aku siapin makan malam dulu," tanya Asha sebelum sang suami masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak perlu, aku tadi sudah makan di rumah sakit. Sebaiknya kamu istirahat saja."


Asha mengangguk dan pergi ke kamar. Bukannya tidur wanita itu malah memainkan ponsel. Meskipun diusahakan tidur juga tidak akan bisa memejamkan mata karena masih kepikiran mengenai masalah sang suami. Sebelum mendengarkan cerita pria itu, pasti tidak bisa tenang.


Hingga tidak berapa lama sang suami pun akhirnya masuk ke dalam kamar. Pria itu mengerutkan kenangnya saat mendapati sang istri masih terjaga. Padahal sedari tadi dia sudah meminta Asha tidur. Apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur?


"Kenapa belum tidur? Jangan bilang kalau kamu nggak bisa tidur kalau belum aku peluk?" tanya Aji yang sengaja ingin menggoda istrinya.


"Ih, kamu ada-ada saja," sahut Asha dengan wajah yang memerah. Dia benar-benar malu dengan kalimat yang diucapkan oleh Aji, biasanya pria itu terlihat kalem, kenapa sekarang seperti orang lain.


"Ya sudah, ayo tidur! Kamu pasti lelah seharian mengkhawatirkanku," ucap Aji, membuat sang istri menundukkan kepala karena ketahuan keresahannya.


"Bukannya kamu yang lelah, Mas? Seharian pasti sibuk di rumah sakit mengurus berbagai macam keperluan perawatan untuk para pekerja."


"Tidak apa-apa, itu juga tanggung jawabku."


Aji pun mengajak sang istri tidur. Keduanya merebahkan tubuhnya di ranjang, di samping sang putra. Anak itu terlihat terlelap, tampak tidak terganggu sedikitpun oleh apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Asha bertanya mengenai kejadian hari ini pada sang suami, dia juga ingin tahu sudah sejauh mana perkembangan keadaan para pekerja.


Aji pun menjelaskan semuanya tanpa dia tutup-tutupi karena memang semua keadaan sudah membaik. Operasi juga berjalan lancar, hanya saja memang menunggu masa pemulihan. Mungkin juga memerlukan waktu untuk pemulihan.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kamu kembali ke kota lebih dulu? Khairi juga harus sekolah, aku sudah mendaftarkannya sekolah di sana. Kalau menunggu aku selesai dengan pekerjaanku, pasti akan terlalu lama."


Sejak tadi pria itu juga memikirkan masalah ini. Tidak mungkin dia menahan sang istri di sini. Masih banyak hal yang harus Asha dan Khairi lakukan. Apalagi putranya juga harus sekolah, akhirnya terpaksa pria itu memberi jalan keluar ini.


"Mengapa harus terpisah, Mas? Khairi pasti akan merasa sedih jika kembali terpisah. Dia tidak siap menerima hal itu. Tadi saja dia mengira kamu akan meninggalkan dia lagi. Tadi saja waktu kamu tidak juga pulang, dia sedih dan bertanya apakah kamu akan pulang ke rumah ini atau tidak. Dia masih trauma dengan kehilangan seorang ayah. Tidak mungkin juga aku kembali ke kota sendiri Apa tidak sebaiknya kita sekolahkan saja di sini dulu? Nanti kalau semua urusan kamu sudah selesai, baru kita pindah sama-sama ke kota."


"Apa kamu tidak merindukan kedua orang tuamu? Aku terkadang merasa tidak enak karena seolah menguasai dirimu sendiri, padahal aku tahu Mama Nisa juga begitu merindukanmu. Aku juga tahu bagaimana penyesalannya selama ini."


"Mama dan Papa juga pasti akan mengerti. Lagipula zaman sekarang sudah berbeda. Aku juga bisa melakukan video call kapan pun kalau memang kangen sama Mama."


"Baiklah, nanti aku bicarakan dulu mengenai masalah ini dengan papa dan mama. Aku tidak bisa mengambil keputusan semuanya sendiri. Bagaimanapun juga perusahaan itu adalah milik papa, aku hanya sebagai operatornya saja."


Asha ikut saja bagaimana baiknya. Keduanya pun berbincang hingga akhirnya mereka terlelap karena rasa lelah yang hari ini dirasakan. Aji bersyukur di tengah masalah yang dihadapi, ada seorang wanita yang mendukungnya. Jika tidak, entah siapa yang akan dia jadikan sandaran.


"Baiklah, ayo kita tidur!" ajak Asha. Namun, Aji malah menatapnya. "Kenapa, Mas?"


"Kita sudah suami istri, kita juga belum merasakan malam pertama. Apa aku boleh meminta hakku?"


Seketika Asha menjadi gugup, tetapi tetap menganggukkan kepalanya. "Tapi di sini ada Khairi, Mas."


"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja."


Hingga akhirnya malam yang mereka tunggu terlaksana juga. Aji pria normal, tentu saja tidak bisa menahan diri saat tidur satu ranjang dengan wanita yang dicintainya. Malam yang tadinya dingin kini terasa hangat dan memabukkan. Keduanya menikmati setiap sentuhan dan gerakan nalurinya. Sampai mereka mencapai kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2