
Hari ini Aji membawa istri dan anaknya untuk kembali ke kota. Mengenai urusan proyek sudah ada orang yang menggantikannya di sini. Itu karena desakan dari Mama Tia yang memaksa sang suami agar mengirim orang lain saja, yang bertanggung jawab di sana. Dia sudah sangat merindukan cucunya dan ingin kembali bersama anak dan cucunya.
Akhirnya dengan terpaksa Papa Roni pun mengirim orang, yang tentu saja bisa dia percaya. Bagaimanapun juga pria itu juga sebenarnya sama seperti sang istri yang merindukanmu cucunya. Apalagi Khairi terlihat begitu menggemaskan. Mereka sudah tidak peduli lagi anak siapa dia. Meskipun tidak memiliki ikatan darah, tapi keduanya sudah menganggap Khairi seperti cucu mereka sendiri.
Aji sudah memutuskan untuk membawa istri dan anaknya ke rumah Mama Nisa dan Papa Harto terlebih dahulu karena bagaimanapun juga mereka adalah kedua orang tua Asha, pasti mereka lebih merindukan putrinya. Papa Roni dan Mama Tia juga sengaja datang ke sana untuk menunggu kedatangan anak-anaknya.
"Assalamualaikum," ucap Aji bersama istri dan anaknya saat mereka memasuki rumah.
Tampak semua orang sudah menunggunya di ruang tamu sambil menjawab salam. Mama Nisa langsung saja memeluk sang Putri, dia sudah sangat merindukan putrinya itu. Padahal baru beberapa hari mereka bertemu, tetapi entah kenapa rasanya tidak cukup. Entah saat nanti tinggal di rumah suaminya mungkin dia akan datang berkunjung setiap hari. Mudah-mudahan saja Aji tidak keberatan dengan hal tersebut.
Mereka semua saling bersalaman dan berpelukan, sementara Khairi sejak tadi sudah berada di pangkuan Papa Harto. Pria itu sejak kedatangan cucunya sama sekali tidak memperhatikan yang lainnya, hanya sang cucu yang menjadi pusat perhatiannya.
"Mama kira kamu akan datang siang tadi, makanya Mama ke sini dari siang. Tahunya sekarang sampai sini malah malam hari," ujar Mama Tia.
"Iya, Ma, tadi ada urusan sebentar sebelum kami pergi," sahut Aji.
Mama Nisa tampak celingukan mencari seseorang. Namun, tidak menemukannya. Dia pun bertanya pada putrinya. "Oh iya, Bik Ika nggak ikut sama kalian? Mama kemarin sempat nawarin dia untuk ikut kembali ke kota, apa Bik Ika tidak bilang?" tanya Mama Nisa.
"Bu Ika menolak, Ma. Dia sudah betah tinggal di desa, lagi pula sekarang juga sudah ada penghasilan tetap jadi, Bu Ika lebih memilih tinggal di desa bersama dengan anak dan cucunya. Tadi aku juga sudah meminta beliau untuk ikut, tapi dia sendiri yang menolak. Aku juga tidak mau memaksa."
Sebenarnya Asha juga berat meninggalkan desa itu. Lima tahun baginya itu sangat berarti, saat semua orang tidak ada yang menerimanya, di sanalah dia mendapatkan segalanya. Akan tetapi, wanita itu sadar jika dirinya masih memiliki keluarga. Apalagi sekarang kembali memiliki suami, sudah menjadi tanggung jawabnya berbakti pada sang suami.
"Ya sudah kalau begitu, Mama harap setelah ini tidak ada lagi masalah yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Mama akan selalu berdoa agar kalian selalu baik-baik saja."
__ADS_1
"Amin, tentunya aku juga ingin yang terbaik dalam kehidupanku kali ini. Mulai hari ini tidak akan ada lagi kebohongan sekecil apa pun di antara kita semuanya. Dimulai saat akad nikah kemarin."
"Iya, itu juga perlu karena belajar dari pengalaman, bahwa kebohongan hanya akan menambah masalah."
Mereka pun berbincang banyak hal. Khairi sudah merasa mengantuk, Harto pun membawa sang cucu pergi ke kamar yang sudah dia sediakan. Asha meminta pada orang tuanya agar Khairi tidur bersama dirinya saja. Putranya belum terbiasa tidur sendiri, pasti nanti akan menangis mencarinya di tengah malam.
Namun, Papa Harto mengatakan jika nanti dirinya lah yang akan menemani cucunya. Mungkin dengan cara perlahan pasti nanti juga Khairi akan terbiasa. Aji pun mencoba untuk memberi pengertian kepada sang istri, bahwa apa yang dilakukan papanya itu tidak salah, seiring berjalannya waktu putranya juga pasti akan terbiasa dengan semua ini.
***
Pagi ini semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semalam Mama Tia dan Papa Roni juga pulang setelah makan malam. Padahal Mama Nisa sudah memintanya untuk menginap, tetapi mereka menolak dan berkata akan berkunjung lagi nanti. Keduanya tidak ingin merepotkan besannya.
Khairi juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini anak itu untuk pertama kalinya pergi ke sekolah. Aji dan Asha sepakat untuk mengantarkan anak itu sekolah bersama. Aji juga sudah pamit pada papanya kalau nanti dia akan datang terlambat. Papa Roni yang mengerti pun mengangguk saja. Baginya asal pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik, apa pun yang dilakukan sang putra tidak masalah.
"Tentu. Apa Khairi suka?" tanya Aji yang segera diangguki oleh anak itu.
"Suka, Pa. Suka sekali. Nanti aku akan punya banyak teman, kan?"
"Jika Khairi mau berbaur dengan baik dan tidak menyakiti teman pasti mereka juga mau berteman dengan Khairi. Ingat, ya! Khairi tidak boleh pilih-pilih teman, semuanya sama," sela Asha seraya memberikan pengertian pada putrinya.
"Iya, Ma. Aku tidak akan pilih-pilih teman, semua akan jadi temanku nanti."
"Ini baru jagoan Papa. Ayo sekarang kita masuk, kamu pasti sudah tidak sabar ingin melihat di mana ruang kelas kamu, kan?"
__ADS_1
Khairi mengangguk dengan begitu antusias. Segera anak itu menggandeng tangan orang tuanya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Siapa yang tidak mengenal Aji di kota ini, semua pun tahu. Tentu saja kepala sekolah menyambut baik kedatangan mereka.
Aji sudah memberi pesan pada kepala sekolah untuk tidak membeda-bedakan Khairi dengan anak-anak lainnya. Dia ingin putranya menikmati masa sekolah dengan baik tanpa beri beda-bedakan. Pria itu tahu bagaimana orang-orang disekitarnya bersikap, itu semua tidak lepas dari apa yang dimilikinya dan Aji tidak ingin itu terjadi pada putranya. Biarlah semua berjalan semestinya.
Setelah berbincang panjang lebar dengan kepala sekolah, Aji pamit bersama dengan Asha. Nanti saat pulang Khairi akan dijemput oleh sopir. Aji juga menunjukkan foto sopirnya agar pihak sekolah tidak salah menilai orang.
"Mas, kita mau ke mana? Kamu nggak nganterin aku pulang?" tanya Aji saat mereka sedang dalam perjalanan menuju perusahaan.
Meskipun sudah lima tahun tidak melewati jalan ini dan sudah banyak sekali yang berubah, tetapi Asha masih sangat ingat jalan ini karena ini juga menuju apartemen tempat tinggal mereka dulu.
"Kita ke perusahaan saja ya, Sayang. Kamu di rumah juga nggak ngapa-ngapain, kan?"
"Mas, aku belum bilang sama mama, pasti nanti nungguin aku," jawab Asha karena tadi mamanya berencana ingin pergi bersama dengan dirinya. Entah itu berbelanja atau hanya sekadar jalan-jalan saja, tapi sekarang rencananya itu harus batal gara-gara sang suami yang mengajaknya ke kantor.
"Bilang saja kalau kamu ikut aku ke perusahaan, Mama juga pasti akan mengerti."
Asha memutar bola matanya malas, entah sejak kapan suaminya jadi seperti ini. Padahal dulu sangat dingin. Jangankan diajak ke perusahaan, untuk keluar sebentar saja tidak pernah, selalu saja beralasan.
"Kamu itu suka seenaknya sendiri si, Mas. Padahal dulu kamu nggak gini. Nanti kalau mama marah bagaimana?"
"Nggak akan. Mama justru senang, pasti mereka juga tidak sabar ingin memiliki cucu baru," sahut Aji yang mendapat pelototan dari Asha, membuat pria itu terkekeh.
Apa salahnya juga jika dirinya ingin memiliki anak. Mereka juga sudah sah suami istri, umur Khairi pun sudah cukup untuk memiliki adik. Mau tidak mau akhirnya Asha pun menuruti keinginan Aji. Dia mengirim pesan kepada mamanya bahwa tidak bisa pergi hari ini karena Aji memaksanya untuk ikut.
__ADS_1
Sebenarnya Asha juga ingin tahu bagaimana lingkungan kerja sang suami. Dalam hati ada rasa takut jika Aji dikelilingi wanita cantik dan seksi, bukankah wajar jika dia takut.