
Saat tengah malam, ponsel Vania berdering, tertera nama atasannya di sana. Tentu saja hal itu membuat dia kesal, tidak cukup di kantor saja, sekarang sudah selesai jam kerjanya. Namun, Rendra masih saja menghubunginya. Tidak ingin mengangkat, tetapi takut jika ada hal yang penting jadi, mau tidak mau gadis itu pun akhirnya mengangkat.
Begitu tersambung, ternyata bukan Rendra yang menghubungi, tetapi orang lain dan orang itu mengatakan saat ini atasannya sedang berada di klub malam dan keadaannya sedang mabuk. Vania kesal bukan main, dia bingung harus bagaimana. Dirinya tidak pernah datang ke tempat seperti itu, gadis itu juga yakin jika kedua orang tuanya tidak akan mengizinkan keluar di tengah malam seperti ini. Namun, Vania juga tidak tega membiarkan atasannya sendiri di klub malam.
Hingga akhirnya dia pun memberanikan diri untuk menemui kedua orang tuanya di kamar mereka untuk pamit. Entah diizinkan atau tidak, setidaknya Vania berusaha untuk menolong orang. Meskipun orang itu menyebalkan sebelumnya.
"Apa! Klub malam! Tidak. Mama tidak setuju kalau kamu pergi ke sana. Itu tempat tidak baik, apalagi di tengah malam seperti ini. Biarkan saja atasanmu itu di sana, salah sendiri pakai mabuk segala," tolak Mama Nisa.
"Tapi, Ma, kasihan Pak Rendra kalau nggak ada yang jemput."
"Itu bukan urusan kamu. Urusan kamu itu hanya soal pekerjaan, tidak ada urusan di luar kantor, apalagi harus ke tempat seperti itu."
"Kalau bukan aku yang ke sana siapa lagi? Pak Rendra tinggal di sini juga sendirian, kedua orang tuanya ada di luar negeri."
"Dia juga pasti punya pembantu atau yang lainnya, pokoknya biarkan saja."
"Ma, Vania 'kan berniat untuk menolong orang, kenapa dilarang?" sela Papa Harto yang membuat Mama Nisa melototkan mata.
__ADS_1
Bisa-bisanya sang suami malah mendukung putrinya untuk datang ke tempat seperti itu. "Papa ini bagaimana sih! Putrinya mau ke tempat seperti itu malah dibolehin."
"Memangnya kenapa, Ma? Lagi pula Vania juga nggak sendiri, biar Papa temani dia. Papa juga nggak mungkin membiarkan putri Papa ini ke sana sendirian."
Vania dan Mama Nisa pun menatap pria itu dengan saksama. Papa Harto pun menjelaskan jika tidak ada salahnya untuk saling membantu sesama manusia. Siapa tahu suatu hari nanti mereka juga membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada yang tahu nasib manusia.
Akhirnya Mama Nisa pun mengizinkan, tentu saja dengan ditemani Pak Harto. Vania pun tidak keberatan, justru dia senang jika ada yang menemani. Gadis itu sendiri tidak pernah datang ke tempat seperti itu, entah bagaimana suasana di sana.
Begitu sampai di tempat yang di tuju, keduanya langsung masuk ke tempat tersebut. Suara musik memekakkan telinga, membuat keduanya sesekali menutup telinga. Vania yang takut dengan keadaan sekitar memilih memegang erat lengan sang papa, khawatir nanti terpisah. Semua orang di sana juga menatapnya dengan tatapan mesum, membuat gadis itu begidik ngeri.
Entah apa yang ada di kepala para pria itu. Namun, Vania enggan menatapnya, takut nanti malah akan semakin menimbulkan masalah. Saat ini fokusnya hanya menelusuri tempat tersebut, mencari keberadaan atasannya. Papa Harto pun bertanya pada sang putri, kira-kira di mana pria yang dicari.
"Benar ini atasanmu?" tanya Papa Harto sambil menunjuk Rendra yang sudah tidak sadarkan diri. Vania hanya mengangguk tanpa suara, walaupun berbicara juga pasti dirinya harus berteriak.
Tanpa banyak berkata, Papa Harto pun segera membawa Rendra keluar dengan dibantu oleh Vania. Keduanya terpaksa membawa pria itu dengan menggunakan mobilnya karena tidak tahu yang mana mobil Rendra. Biarlah itu menjadi urusan besok, salah sendiri merepotkan orang lain.
"Pa, mau bawa ke mana Pak Rendra-nya? Aku nggak tahu di mana rumah Pak Rendra," tanya Vania saat mereka sedang dalam perjalanan.
__ADS_1
"Papa juga tidak mungkin membawanya pulang. Bukan apa-apa, Papa nggak mau nanti ada warga yang fitnah kamu yang tidak tidak karena membawa pulang laki-laki meskipun bersama Papa. Kita bawa ke apartemen Papa saja, nanti kita tuliskan pesan di kertas saat meninggalkannya."
Vania pun menurut saja karena saat ini dia juga tidak memiliki ide mau dibawa ke mana atasannya itu. Hingga tidak berapa lama mereka akhirnya sampai juga di apartemen. Papa Harto meninggalkan Rendra sendiri di apartemennya, tidak lupa juga meninggalkan selembar kertas di atas meja.
***
Sinar matahari memasuki ruang apartemen yang saat ini ditempati oleh Rendra. Pria itu mencoba untuk membuka mata dan melihat sekeliling. Dia merasa asing dengan ruangan itu dan mencoba membuka mata. Benar saja, Rendra tidak mengenali tempat ini.
"Aku ada di mana," gumamnya sambil mengingat-ingat kejadian semalam.
Ingatannya tertuju saat dia datang ke apartemen sang kekasih dan mendapati kekasihnya tengah memadu kasih dengan pria lain. Sebagai seorang laki-laki, tentu saja Rendra sangat marah karena sudah dikhianati. Dia juga merasa harga dirinya diinjak-injak. Padahal sebelumnya apa pun keinginan wanita itu sebisa mungkin Rendra memenuhinya, tetapi tetap saja dikhianati.
Untuk meluapkan amarah serta rasa sakit hatinya, Rendra pergi ke tempat hiburan malam dan menenggak minuman yang selama ini tidak pernah dia sentuh. Entah apa yang ada di kepalanya. Saat itu yang dipikirkan hanta bagaimana cara untuk meluapkan amarahnya, tanpa menyakiti siapa pun.
Padahal ingin sekali Rendra menghajar sang kekasih dan selingkuhannya itu. Namun, dia masih tetap waras dan tidak ingin mengotori tangannya karena penghianat itu. Setidaknya pria itu merasa lega karena tahu dari sekarang, sebelum semuanya terlambat. Sebelumnya Rendra sudah berniat untuk melamar sang kekasih dan sekarang semuanya hanya tinggal keinginan saja.
Pandangan Rendra tertuju pada sebuah kertas yang ada di meja pria itu pun segera mengambil dan membacanya. Dia cukup terkejut karena asistennya yang sudah membantu bersama dengan papanya. Hal tersebut tentu saja membuat dirinya merasa malu karena harus merepotkan orang lain. Jika itu hanya Vania sendiri mungkin perasaannya tidak seperti ini. Sekarang sudah merepotkan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
Rendra segera mencari ponselnya, untung saja masih ada di dalam saku. Dia segera menghubungi Vania, untuk menanyakan kejadian semalam. Jujur saja pria itu sama sekali tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai di gedung ini. Semoga saja dirinya tidak membuat ulah dan semakin merepotkan orang yang menolongnya.