Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
116. Teman Dira


__ADS_3

"Apa kamu tidak melihat grup karyawan? Semua orang sedang membahas tentang suamimu. Coba saja lihat sendiri," ucap Reni—salah satu rekan kerja Dira.


Dira mengabaikan para teman-temannya yang sedang mengelilinginya. Wanita itu pun segera melihat ponsel dan benar saja di sana semua orang membicarakan tentang sang suami. Ada pula foto yang memperlihatkan saat dirinya berpamitan pada Hasbi. Dia jadi kesal sendiri karena semua orang terlihat begitu kepo dengan urusan pribadinya. Padahal selama ini Dira juga tidak mau tahu tentang kehidupan mereka.


Mau marah pun juga percuma, dia tidak bisa membungkam mulut semua orang dalam satu waktu. Biarkan saja mereka, seiring berjalannya waktu juga pembicaraan ini pasti akan berlalu begitu saja. Hanya saja ada perasaan tidak nyaman saat mereka memuji sang suami dan menginginkan menjadi istrinya. Dira tahu itu sebuah candaan, tetapi tetap saja menyakitkan hati.


Namun, ada hal yang lebih mengejutkan. Di sana ada salah satu karyawan senior yang mengenali Hasbi yang ternyata seorang pengusaha. Teman-temannya pun menanyakan langsung pada dirinya mengenai kebenaran hal itu. Namun, Dira enggan menanggapi dan membiarkannya begitu saja. Dia pun menutup ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam tas.


"Dira, benar suami kamu seorang pengusaha?" tanya salah seorang temannya, yang juga ada di sana.


"Sudahlah, kalian kembali saja bekerja, tidak usah mengurusi kehidupanku. Nanti kalian bisa kena tegur," kilah Dira yang sengaja ingin mengalihkan perhatian.


"Jawab dulu pertanyaan kami. Apa benar suamimu itu seorang pengusaha?" timpal yang lainnya.


Dira juga sebenarnya sudah mengetahui tentang siapa sang suami sebenarnya. Namun, yang tidak dia tahu adalah seberapa hebat Hasbi di dunia bisnis jadi, wanita itu juga bingung harus menjawab seperti apa.

__ADS_1


"Mengenai hal itu aku tidak tahu. Aku juga belum begitu kenal dengan kehidupan suamiku. Kalian 'kan tahu kalau aku dan Hasbi itu dijodohkan jadi, kami masih menyesuaikan diri," jawab Dira dengan sedikit berbohong.


Lagi pula semua orang juga tahu jika dirinya dijodohkan. Lebih baik mengaku seperti itu saja demi menghindari pertanyaan teman-temannya juga. Jika dia hanya diam mereka akan tetap penasaran dan terus bertanya. Ternyata ada untungnya berita itu beredar.


"Masa kamu masih dalam perkenalan? Bukannya kalian sudah saling mengenal sebelum menikah?" tanya Reni yang merasa janggal dengan jawaban Dira.


"Ya ... mau bagaimana lagi, memang kenyataannya seperti itu. Sudah, jangan membahas tentangku terus. Sebaiknya kalian kembali ke meja masing-masing, ini sudah waktunya kerja!"


Semua orang pun kesal, tetapi tetap mengikuti perintah Dira. Sebelum kembali kerja, satu persatu dari mereka memberikan kado dan ucapan selamat untuk pengantin baru. Dira pun menerima dengan senang hati, berharap kado dari temannya bisa bermanfaat.


Dira mengembuskan napas lega, setidaknya untuk sekarang dia bisa lepas dari pertanyaan rekan kerjanya. Mengenai nanti Jika ditanya lagi itu urusan nanti, semoga saja dirinya bisa lolos dari pertanyaan mereka.


"Dira, selamat atas pernikahan kamu, maaf kemarin aku nggak bisa datang ke sana," ucap Mimi—teman Dira yang paling dekat di kantor ini. Gadis itu memberikan sekotak kado untuk temannya sebagai hadiah pernikahan.


"Oh, iya! Terima kasih, tidak apa-apa. Aku juga mengerti kenapa kamu tidak bisa datang."

__ADS_1


"Kamu sudah dengar tidak kalau Pak William masuk rumah sakit apa masuk ke rumah sakit! Aku tidak mendengarnya, kapan? Kenapa dia di rumah sakit?" tanya Dira dengan rasa cemasnya.


Pak William selama ini terkenal baik, karena itu semua karyawannya begitu menghormatinya. Bahkan terkadang atasannya itu juga suka membantu karyawannya yang sedang kesulitan. Entah itu urusan keluarga atau masalah ekonomi, beliau tidak pernah pandang bulu semua diperlakukan sama dan adil.


"Katanya kena serangan jantung dan besok perusahaan ini akan diambil alih oleh putranya katanya sih ini gara-gara rebutan warisan makanya Pak William terkena serangan jantung."


"Astaghfirullahaladzim! Pak William 'kan masih hidup, kenapa harus rebutan warisan? Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan Pak William?" tanya Dira dengan perasaan kesalnya.


"Ya ... begitulah orang kaya, bahkan tidak memikirkan keadaan orang yang saat ini sedang kritis."


Dira menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak-anak itu. Dia jadi memikirkan keadaan kedua orang tua yang ada di sana. Saat ini mereka hanya tinggal berdua meskipun memang sama saja seperti sebelumnya, tetapi rasanya berbeda. Entah kenapa kali ini dia lebih khawatir dengan keadaan kedua orang tuanya.


Meskipun setiap hari mereka melakukan komunikasi, tetap saja gadis itu terkadang merasa gelisah. Mama Tia dan Papa Harto juga terlihat begitu bahagia. Mereka senang karena akan memiliki cucu lagi. Hal itu juga yang membuat keduanya semakin bersemangat untuk sembuh.


"Kita doakan saja semoga Tuan William cepat sembuh. Anak-anaknya juga cepat sadar dan tidak lagi memikirkan harta, juga fokus pada kesembuhan orang tuanya," pungkas Dira yang diaminkan temannya.

__ADS_1


__ADS_2