
Lima tahun telah berlalu, kehidupan Asha di desa tempat di mana keluarga Bik Ika tinggal, semakin membaik. Wanita itu sekarang juga sudah memiliki usaha sendiri, yaitu mendaur ulang barang-barang bekas untuk menjadi kreasi dan bisa digunakan kembali. Seperti membuat tas ataupun hiasan-hiasan di dinding, serta bunga-bunga buatan yang indah. Dia sudah mengirimnya ke luar kota, juga mempromosi lewat sosial media miliknya dan Amira.
Asha sangat berterima kasih kepada keluarga Bik Ika, yang selama ini sudah mau menolongnya dan menampungnya di rumah. Sebenarnya uang Asha sangat cukup untuk membeli rumah sederhana di desa. Namun, wanita itu tidak mau. Dia masih ingin mengabdi pada keluarga Bik Ika yang sudah sangat berjasa padanya.
Bik Ika sendiri merasa tidak enak karena baik dirinya maupun Amira tidak lagi bekerja. Malah mereka mengandalkan hidup dari Asha. Meskipun sudah berkali-kali Asha mengatakan jika itu tidak masalah baginya. Lagi pula Amira juga bekerja padanya. Meskipun pekerjaannya tidak berat. Tiara sendiri saat ini masih kuliah, tetapi sesekali membantu Asha juga untuk membuat barang pesanan dan mengirimkannya.
"Ponakan Tante kenapa dari tadi cemberut terus? Buat tas dari tadi juga nggak selesai-selesai, padahal cuma satu. Ada apa?" tanya Asha yang baru saja duduk di samping Tiara.
Gadis itu sedari tadi cemberut terus, bahkan sesekali meluapkan kekesalannya pada hasil kerajinannya, hingga akhirnya tidak selesai-selesai. Asha yang melihat dari kejauhan pun mendekat, dia yakin pasti telah terjadi sesuatu pada keponakannya itu.
"Aku kesel sama Mama, masak aku deket sama temen cowok saja nggak boleh. Padahal kami cuman teman," jawab Tiara dengan cemberut.
"Yakin cuma teman? Kok Tante merasa ada bau-bau sesuatu?" Asha sengaja ingin menggoda keponakannya agar anak itu mau jujur.
"Bau-bau apa sih, Tante? Nggak ada," kilah Tiara mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia takut jika Asha bisa membaca ekspresi wajahnya.
"Kamu nggak usah bohong sama Tante. Tante juga pernah muda loh! Sebenarnya niat Mama kamu itu baik, dia tidak ingin kamu terjerat dalam pergaulan yang bebas. Zaman sekarang itu pergaulannya sangat miris, Tante saja sangat takut melihatnya. Jangan sampai kamu ikut-ikutan seperti mereka," ucap Asha dengan tersenyum teduh. "Dan jangan sampai kamu juga sama sepertiku," lanjutnya dalam hati.
Wanita itu sangat mengerti apa yang diinginkan Amira. Sebagai orang yang pernah melakukan kesalahan, tentu dia sangat tahu akibatnya dan Asha tidak ingin Tiara juga mendapatkan hal yang sama seperti yang dirasakannya. Meskipun apa yang dirinya alami tidak sepenuhnya salah dia karena memang itu adalah perbuatan orang-orang yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Namun, wanita itu mencoba untuk berdamai dengan keadaan.
__ADS_1
Meskipun dia tidak pernah tahu siapa ayah dari Khairi, itu tidak masalah karena baginya lebih baik tidak tahu daripada nantinya malah akan menyakiti hati anaknya. Lebih baik anak itu tahu jika ayahnya sudah meninggal, tetapi sejauh ini Asha selalu berkata pada jika papanya sedang bekerja di luar kota. Entah kenapa kata-kata itu yang meluncur di bibirnya. Padahal bisa saja dia mengatakan jika papanya sudah meninggal, itu akan lebih baik bagi Khairi dan tidak terlalu mengharapkan kedatangan papanya lagi.
"Tapi aku juga ingin seperti teman yang lain, Tante. Punya pacar dan bisa jalan-jalan ke mana saja dan dibeliin hadiah."
"Kamu 'kan sudah punya uang sendiri untuk beli apa pun yang kamu inginkan. Kamu juga dapat uang dari mamamu. Apa itu masih kurang?" tanya Asha karena memang Tiara selalu diberi gaji olehnya sesuai dengan pekerjaan gadis itu.
Dia tidak ingin memberi uang secara cuma-cuma pada Tiara karena tidak ingin anak itu nantinya menjadi manja dan tidak menghargai pekerjaan, tetapi bukan berarti wanita itu juga tidak pernah memberikan sesuatu. Asha akan memberikan sesuatu jika memang Tiara benar-benar membutuhkannya.
"Tapi 'kan beda, Tante. Aku inginnya pemberian dari orang yang paling spesial."
"Kalau begitu, ayo Tante belikan sesuatu. Kamu maunya apa?"
"Kenapa harus Tante sih! Ah, udahlah Tante sepertinya nggak akan mengerti bagaimana perasaanku," keluh Tiara.
"Apa salahnya? Memangnya Tante ini bukan orang yang spesial buat kamu?"
"Bukan kayak gitu, Tante!"
"Tadi kamu bilang kamu ingin seseorang yang spesial memberimu hadiah, kenapa sekarang nggak mau?"
__ADS_1
"Nggak gitu juga, Tante!"
"Iya, Iya, Tante tahu." Asha mengalihkan pandangannya ke depan. Tiara menunggu tantenya melanjutkan kata-katanya. "Nanti akan ada saatnya untuk kamu kalau ingin mendapatkan hadiah dari orang yang spesial. Kalau kamu memang sudah siap, kenapa kamu nggak nikah saja langsung? Itu akan menjauhkan kamu dari fitnah dan juga dosa."
"Tapi 'kan aku masih kuliah, lagi pula aku juga masih belum memikirkan soal pernikahan."
"Kalau begitu jauhkan dulu pikiran kamu mengenai hadiah dan laki-laki karena semua itu hanya akan merusak masa depanmu. Lebih baik saat ini pikirkan cita-citamu, raih setinggi mungkin. Wujudkan keinginan kamu dan buat kedua orang tuamu bangga. Meskipun ayahmu tidak bisa melihat di dunia ini, pasti di akhirat dia akan merasa senang melihat putrinya sukses meski tanpa kehadirannya."
Tiara merasa bersalah karena tadi dia sudah marah-marah pada sang mama. Kini kata-kata Asha menyadarkannya, bahwa apa yang dikatakan mamanya itu juga untuk masa depan agar lebih baik lagi. Hanya saja dirinya saja yang egois, terlalu mementingkan kesenangannya sesaat. Benar kata Asha, masa depannya masih sangat jauh. Tiara harus bisa membuat keluarganya bangga.
Gadis itu pun segera memeluk Asha. Kini dia sadar jika dirinya terlalu kekanakan karena iri terhadap teman yang sudah memiliki kasih. Sebenarnya itu juga tidak terlalu penting, masih banyak yang harus Tiara kejar. Bukan hanya kesenangan sesaat saja seperti yang tantenya katakan tadi.
"Terima kasih, Tante, sudah membuatku sadar kalau aku salah."
"Alhamdulillah, kalau memang kamu tahu tempatnya."
"Iya, Tante. Sekarang aku mau ketemu Mama dulu, aku mau minta maaf sama dia."
Asha mengganggu sebagai jawaban, Tiara pun segera mencari keberadaan mamanya. Asha sendiri memandangi kepergian keponakannya sambil tersenyum. Hingga dia dikagetkan dengan suara panggilan seorang anak kecil, yang selalu membuat harinya lebih berwarna.
__ADS_1
"Mama!" teriak anak kecil yang baru saja pulang bermain. Siapa lagi kalau bukan Khairi.