
Hari sudah menjelang sore. Namun, tidak ada tanda-tanda Aji akan keluar dari kamar. Asha tidak ingin nanti akan mendapat masalah dengan warga di kampung ini. Semua orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Padahal selama ini wanita itu sudah sangat mencoba untuk tidak membuat ulah, apalagi jika sampai terusir dari kampung ini, tetapi sekarang Aji sengaja berlama-lama di rumah tersebut.
Dikarenakan sudah tidak sabar lagi, akhirnya Asha terpaksa mengetuk pintu kamar agar pria itu terbangun. Hingga ketukan kedua akhirnya Aji membuka pintu dengan tubuh yang belum sepenuhnya sadar. Terlihat matanya yang masih merah, tanda pria itu masih sangat mengantuk. Sebenarnya Asha tidak tega, tetapi dia terpaksa melakukan hal tersebut karena sudah tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin juga wanita itu membiarkan Aji bermalam.
"Ada apa?" tanya Aji dengan mata yang sayu.
"Ini sudah sore, Mas. Tidak baik kalau kamu terus saja di sini, aku tidak ingin warga nanti berpikir yang tidak-tidak tentang kita jadi, lebih baik Mas sekarang pulang. Khairi juga sudah tidur," jawab Asha.
"Tapi aku sudah janji sama Khairi kalau aku nanti akan main lagi sama dia."
"Mas, kamu mengerti 'kan kalau kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi? Sebaiknya Mas segera pergi dari sini, aku tidak ingin mendapat masalah. Sudah cukup masa lalu yang sudah aku kubur selamanya."
"Aku hanya ...."
Ucapan Aji terhenti saat mendengar panggilan Khairi yang baru saja terbangun. Mungkin anak itu terganggu dengan pembicaraan kedua orang tuanya. Asha jadi merasa bersalah. Bukan bermaksudnya untuk membangunkan sang putra, hanya saja dia tidak ingin Aji terus di sini.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Aji sambil sejajarkan tubuhnya dengan sang putra.
Namun, Khairi justru menatap mamanya dengan pandangan tidak suka. "Kenapa Mama mengusir Papa? Papa sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi kenapa Mama begitu? Aku yang meminta Papa datang ke sini dan tidur dengan Papa jadi, Mama jangan mengusirnya."
Aji dan Asha saling berpandangan. Keduanya tidak menyangka jika sang putra telah mendengar pembicaraan mereka. Padahal Asha sudah berusaha untuk mengendalikan ucapannya agar tidak terdengar, tetapi tetap saja anak itu terbangun dan mendengar.
"Sayang, kamu harusnya paham kalau Papa dan Mama sudah lama tidak bertemu, rasanya sedikit aneh," jawab Ash dengan mencoba untuk mencari alasan, semoga saja Khairi mendukungnya. Namun, siapa sangka justru Anak itu tidak setuju dengan apa yang dikatakan mamanya.
Khairi menggeleng dengan tegas. "Mama harusnya berusaha untuk selalu dekat dengan Papa, pasti nanti akan selalu terbiasa. Jangan malah mengusir papa."
Aji tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban sang putra. Tidak sia-sia dia meracuni pikiran anak itu, dibilang memanfaatkan anaknya, dia tidak peduli. Asalkan bisa bersama Asha dan membuat putranya bahagia tidak masalah. Ini baru awal, masih panjang waktu yang akan datang.
Asha menghela napas panjang. Ternyata susah juga berbicara dengan seorang anak saat kekuatannya sudah ada di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan sang papa, pasti anak itu sudah memiliki keinginan bahwa kelak jika dewasa akan seperti papanya. Padahal tanpa diketahui anak itu mereka bukanlah siapa-siapa lagi.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus mengerti bagaimana posisi kita. Cobalah kamu mengerti keadaan Mama juga," ucap Asha mencoba memohon pada sang putra.
"Tapi aku masih mau sama papa, Ma. Semua papa teman-temanku selalu tinggal satu rumah dengan mereka, kenapa papa harus pergi?"
"Ada sesuatu yang tidak bisa Mama jelaskan saat ini. Suatu hari nanti saat kamu dewasa, pasti kamu akan mengerti jika apa yang dilakukan Mama juga untuk kamu."
Khairi tetap kekeh pada pendiriannya, bahkan sampai berteriak, "Tidak mau! Aku tidak mau Papa pergi!"
"Khairi!" bentak Asha tanpa sadar, hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu pun seketika terdiam, terutama Khairi.
Tadinya anak itu berpegangan pada telapak tangan papanya, tapi tiba-tiba saja terlepas begitu saja. Memang selama ini Asha tidak pernah membentaknya jadi, saat wanita itu berbicara keras tentu saja membuat Khairi terkejut. Bahkan saat sang putra merajuk pasti Asha dengan sabar membujuk dan memberi pengertian agar tidak anak itu tidak melakukan kesalahan yang sama, tetapi hari ini kesabarannya berada di ujung tanduk. Siapa yang bisa sabar dalam keadaan perasaan yang sedang tidak baik-baik saja. Entahlah apa yang harus dia lakukan kali ini.
Asha yang sadar dengan apa yang telah dia lakukan, ekspresinya segera berubah. Wanita itu benar-benar menyesal telah hilang kesabaran, bahkan sampai membuat putranya takut. Wanita itu mendekati dan mencoba untuk meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan.
"Maafkan Mama, Mama tidak bermaksud seperti itu. Tadi Mama hanya sedang emosi."
"Mama jahat. Aku tidak suka sama Mama," pekik Khairi yang segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Biarkan aku saja yang bicara dengannya, mudah-mudahan saja dia akan mengerti. Setelah Khairi tenang, aku janji akan segera pulang," ucap Aji pada Asha.
Dia kasihan melihat wajah wanita itu yang merasa sedih dengan tingkah putranya. Hal itulah yang membuat Aji merasa bersalah karena secara tidak langsung, kehadirannya telah melukai hati Asha yang selama ini sudah membesarkan Khairi seorang diri. Sekarang pria itu akan mengalah sementara waktu, saat semua sudah kembali kondusif, dia akan kembali melakukan keinginannya. Aji akan memberikan pengertian pada anak itu agar tidak lagi seperti ini.
Asha mengangguk dalam dan segera pergi dari sana. Kali ini dia mempercayakan Khairi pada Aji, semoga saja pria itu bisa diandalkan karena saat ini hanya dia yang bisa dipercaya. Setelah cukup lama akhirnya Aji dan Khairi keluar dari kamar anak itu. Wajah sang putra masih basah dengan air mata mungkin karena cukup lama dia menangis.
Aji juga bilang pada Asha kalau besok dia akan datang lagi karena sudah berjanji pada Khairi memberikan hadiah untuk anak itu. Wanita itu hanya diam saja, terserah pria itu mau apa. Jika dirinya melarang pun pasti Khairi akan marah jadi, lebih baik dia diam saja. Seiring berjalannya waktu Asha akan mencoba memberikan pengertian sedikit demi sedikit, pada anaknya agar mengerti bagaimana kondisi kedua orang tuanya.
"Anak Papa tidak boleh nakal, ya! Tidak boleh bikin mama sedih lagi. Khairi 'kan anak laki-laki, pasti harus lebih kuat agar bisa melindungi orang yang kita cintai. Papa pulang dulu, besok Papa akan ke sini lagi, kamu mau dibawain sesuatu?" tawar Aji dengan senyum mengambang.
Namun, segera ditolak oleh anak itu. Bagi Khairi saat ini yang terpenting adalah keberadaan sang papa, tidak ada lain-lain lagi yang dia inginkan. Aji yang mengerti pun tidak lagi memaksa sang putra. Besok dia akan membelikan sesuatu untuk anak itu. Meskipun Khairi tidak menginginkannya, tetapi sebagai seorang ayah tentu dia ingin memberikan hadiah.
__ADS_1
Aji pun akhirnya pamit pulang dan memeluk putranya sebentar. Setelah kepergian pria itu, semua orang pun masuk ke dalam rumah. Khairi juga memilih untuk membersihkan diri tanpa banyak berkata, hingga saat makan malam tiba, anak itu sama sekali tidak berbicara sama sekali jika tidak ditanya. Saat ditanya pun menjawab seadanya, bahkan hanya dengan gelengan dengan angkutan saja.
Hal itu tentu saja membuat Asha merasa sedih, tetapi semua ini dia lakukan juga demi sang putra. Dia yakin seiring berjalannya waktu Semua akan merasa terbiasa.
"Khairi lagi belajar apa?" tanya Aji yang mencoba untuk mencairkan suasana.
"Menggambar," jawab Khairi seadanya.
"Wah! Gambar apa ini? Cantik sekali, rumahnya bagus!" seru Asha yang hanya diangguki oleh Khairi, tanpa satu kata pun terucap dari bibirnya.
Asha tidak patah semangat, dia terus mengajak Khairi berbicara dengan tenang, hingga membuat anak itu memilih untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Bik Ika, Amira dan Tiara hanya diam memandangi apa yang dilakukan Asha. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi jadi, lebih baik diam saja. Meskipun mereka juga merasa kasihan pada Khairi yang harus menelan kekecewaan.
Tadi siang anak itu begitu bahagia bisa bertemu dengan papanya, tapi baru saja kenal sebentar saja sudah terpisah lagi.
"Bu, Apa aku salah telah mengusir Mas Aji dari rumah ini?" tanya Asha dengan perasaan sedih.
"Ibu juga tidak tahu apa yang benar dan tidak untuk Khairi dan kamu. Hanya saja sebagai seorang anak, pasti Khairi merasa sedih karena harus berpisah dengan papanya. Coba saja keadaan kamu saat menjadi seorang anak, bagaimana rasanya jika dipisahkan dengan salah satu orang tua, padahal kamu sangat membutuhkan kehadiran mereka berdua."
Asha menundukkan kepala, dia sangat tahu bagaimana rasanya berjauhan dengan papanya. Dia juga merasakan hal itu, hanya saja Asha berusaha untuk menutupi perasaannya agar tidak membuat orang yang selalu menemaninya merasa sedih.
"Apa aku harus membiarkan Mas Aji bersama dengan anakku, Bu? Bagaimana jika suatu hari nanti akhirnya Khairi tahu tentang kebenarannya, pasti dia akan merasa sedih."
"Kamu jangan terlalu cepat membuat keputusan. Jika memang Tuhan sudah saya menutup aib seluruh hidupmu," ucap Bik Ika yang sejak tadi mencoba bicara dari hati ke hati. "Ya sudah, biarkan saja, jangan lupa bersyukur dengan apa yang sudah terjadi. Jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya sekarang kamu istirahat, pasti kamu juga seharian menghawatirkan Khairi seperti itu."
Asha pun kembali ke kamarnya, dia melihat sang putra tidur dengan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Wanita itu tahu jika Khairi belum tidur, anak itu tidak akan bisa tidur sebelum dirinya memeluk dan memberikan ketenangan. Perlahan Asha naik ke atas ranjang dan memeluk putranya. Tidak ada perlawanan dari anak itu karena dia tahu saat ini hanya inilah yang dibutuhkannya.
"Maafkan Mama, ya, Sayang. Mama melakukan semua itu demi kamu, tapi jika hal itu sudah membuatmu terluka, Mama minta maaf. Mama tidak bermaksud untuk melakukan hal itu," gumam Asha dalam hati.
Sementara itu, di hotel Aji juga tidak bisa tidur, dia terus saja kepikiran mengenai Asha dan putranya. Hingga akhirnya pria itu menghubungi seseorang agar bisa mengawasi rumah istrinya. Jika ada orang yang berbuat jahat, mereka akan segera menyelamatkan penghuni rumah. Padahal selama ini tidak ada masalah apa pun saat mereka tinggal di perkampungan itu. Hanya saja Aji yang terlalu khawatir.
__ADS_1
Pria itu memandangi gambar yang ada di dalam ponselnya. Foto saat dirinya mengambil gambar Khairi dan Asha secara diam-diam. Jika istrinya tahu, pasti akan sangat marah besar. Namun, dia tidak peduli karena menurut pria itu dirinya masih memiliki hak atas istrinya. Meskipun wanita itu tidak pernah mengakui keberadaan dirinya. Mungkin karena Asha masih belum sadar jika dirinya masihlah seorang istri.