
"Lama banget, sih! Katanya atasan kita ini orangnya tidak suka terlambat, ini kenapa jamnya semakin molor? Sudah setengah jam kita nunggu dan berdiri di sini, capek tahu nggak!" gerutu Reni yang hanya bisa didengar Dira.
"Sudah, kamu sabar saja. Kita sebagai karyawan hanya bisa menerima apa pun yang sudah menjadi keputusan atasan kita. Mungkin ada alasan kenapa dia terlambat, macet mungkin," sahut Dira santai meskipun dirinya juga capek, tetapi berusaha untuk tidak mengeluh.
"Alasan klasik. Kalau kita yang buat alasan seperti itu, pasti yang ada malah akan mendapat peringatan dan ada ceramah panjang lebar."
Dira terkekeh, sebenarnya dia juga berdiri setengah jam di sini. Namun, bisa apa jika dirinya hanyalah pegawai biasa. Semua orang pun juga tampak berbisik mengeluh karena keterlambatan atasannya. Namun, tidak ada yang berani bersuara, takut akan kehilangan pekerjaannya.
Tidak berapa lama tampak salah seorang petinggi yang memberi kode agar semua karyawan diam. Beberapa detik kemudian tampak beberapa orang berjalan memasuki ruangan. Dira dapat melihat seorang pria berjalan lebih dulu dengan gagahnya. Tatapan yang begitu tajam dan mengeluarkan aura kesombongan, membuat semua orang ngeri melihatnya.
Semoga saja itu hanya cover, seperti suaminya yang terlihat galak ternyata lembut. Dira berharap atasannya kali ini seperti Tuan William, yang baik pada semua karyawannya tanpa pandang bulu.
"Selamat pagi, semuanya."
"Selamat pagi."
"Maaf saya datang terlambat. Tadi ada sedikit diskusi dengan warna putih di perusahaan ini sempat terjadi berceritakan karena ada berselisih paham, tapi semua sudah diputuskan. Nama saya Alexander William, mulai hari ini saya akan memimpin perusahaan ini. Saya juga ada beberapa aturan baru yang akan diterapkan mulai hari ini juga."
__ADS_1
Seseorang yang berdiri di belakang Alex memberikan sebuah map kepada pria itu. Dia pun mulai membacanya satu persatu.
"Berikut adalah aturan yang akan saya tambahkan di perusahaan ini. Yang pertama, setiap karyawan harus selalu memakai pakaian yang rapi dan wangi, warna pun harus serasi, jangan tumpang tindih. Saya tidak suka melihat pakaian karyawan yang mencolok dan lecek. Kalian di sini digaji dengan tinggi, pasti akan sangat mampu memilah warna dan baju yang pas, juga pasti mampu membeli setrika jadi, luangkan waktu sejenak untuk menggosok baju kalian. Saya tidak ingin ada penampilan yang menyakitkan mata saya. Peraturan kedua, perusahaan melarang pasangan kekasih ataupun suami istri dalam satu perusahaan jadi, salah satu dari mereka harus mengundurkan diri. Saya tidak mau nanti mereka kurang fokus dalam pekerjaan, hanya mementingkan asmara dan membuat kinerja mereka menurun. Jika masih ada yang melanggar dan menjalin kasih dalam perusahaan ini, maka dengan terpaksa perusahaan akan memecat keduanya."
Sontak peraturan kedua itu membuat suasana menjadi heboh. Bagaimana tidak, di perusahaan ini ada beberapa yang memang sudah menikah dan dua-duanya masih bekerja di sini. Mereka bekerja juga demi menghidupi keluarga. Jika salah satu dipaksa berhenti maka sumber penghasilan pasti akan berkurang, sedangkan mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit.
Salah seorang pegawai mengangkat tangannya, ingin mengajukan keberatannya pada sang pemilik perusahaan. "Pak, apa aturan itu tidak bisa dirubah? Selama ini kami bekerja juga masih konsisten, tidak membuat rugi perusahaan. Kami sangat berharap perusahaan bisa memberi kebijakan agar kami masih bisa bekerja. Keluarga kami sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak. Saya mohon kemurahan hati Anda," ucapnya dengan menghiba.
"Maafkan saya, tapi keputusan ini sudah bulat dan saya tidak bisa mengubahnya," sahut Alex dengan tegas.
Dira bisa melihat wajah-wajah sedih di antara mereka. Dia tidak tahu betapa sulitnya hidup mereka yang menggantungkan pada pekerjaan ini, pasti akan sangat sulit untuk mencari pekerjaan lagi. Wanita itu hanya menggelengkan kepala melihat begitu angkuhnya atasan barunya itu.
"Baiklah, itu saja yang ingin saya sampaikan. Silakan kalian kembali ke ruangan masing-masing. Bagi yang termasuk dengan peraturan yang kedua silakan segera mengajukan surat pengunduran diri. Peraturan akan diberlakukan mulai besok. Saya juga akan menunggu sampai besok. Jika belum menyerahkan surat pengunduran diri maka saya akan memecat pasangan kekasih, baik laki-laki ataupun perempuan. Terima kasih." Alex pun segera turun dan berlalu menuju ruangannya.
"Kasihan sekali, teman-teman kita. Pasti banyak orang yang sedih setelah ini. Kalau masih kekasih tidak apa, mereka bisa putus. Bagaimana dengan yang sudah menikah? Mereka juga pasti memiliki kebutuhan yang banyak, entah itu untuk anak atau orang tuanya. Belum lagi kalau memiliki adik yang kuliah, pasti mereka benar-benar putus asa," ucap Reni sambil melihat ke arah teman-temannya yang terlihat lesu.
"Ya ... mau bagaimana lagi. Kita bekerja ikut dengan orang lain jadi harus mengikuti peraturannya juga. Meskipun itu juga tidak manusiawi, tapi kita bisa apa."
__ADS_1
"Mereka bekerja sudah lama, tapi sekarang dipaksa berhenti apa menurutmu perusahaan ini bisa maju seperti dulu?"
Dira mengerutkan kening menatap temannya itu. Bagaimana bisa Reni mengatakan hal sejauh itu. "Kenapa tidak? Bukankah perusahaan juga masih bekerja?"
"Bukan itu maksudku. Kalau pemimpinnya macam Pak Alex, aku tidak yakin perusahaan ini bisa bertahan lama. Aku semakin yakin kalau nantinya akan banyak tikus-tikus berkeliaran di perusahaan ini. Orang-orang juga tidak akan segan lagi padanya, berbeda dengan Pak William," ucap Reni dengan gaya sok tahunya.
"Jangan suka menyimpulkan sesuatu yang belum terjadi. Kita tidak tahu bagaimana cara Pak Alex dalam memimpin perusahaan. Sebuah peraturan tidak ada hubungannya dengan produksi perusahaan. Kita di sini juga digaji untuk bekerja, sebisa mungkin melakukan pekerjaan dengan baik. Mengenai hasilnya itu di luar kendali kita. Sudah, ayo kita kembali ke ruangan. Nanti kita malah kena tegur."
Dira dan Reni pun kembali ke ruangan. Keduanya terkejut saat salah satu temannya ada yang menangis di ruangan itu. Dira baru ingat jika wanita itu juga memiliki suami yang bekerja di perusahaan ini, juga memiliki orang tua yang sedang sakit.
"Dira, aku boleh minta tolong padamu nggak? Hanya kamu yang bisa menolongku," ucap wanita yang menangis tadi.
Dira menatap Reni seolah bertanya bantuan apa yang bisa dia berikan. Namun, sahabatnya itu malah mengangkat kedua bahunya karena memang tidak tahu apa-apa.
"Bantuan apa?"
"Suamimu 'kan pemilik perusahaan, tolong beri aku pekerjaan di sana. Aku sangat membutuhkan pekerjaan, orang tuaku sedang sakit. Aku butuh biaya untuk pengobatan mama."
__ADS_1