
"Maaf, suamiku memang pemilik perusahaan, tapi dia juga tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Perusahaan itu memang milik keluarganya sendiri, tapi tetap ada peraturan juga yang harus dipenuhi. Semua ada prosedurnya, tidak bisa seenaknya mengambil keputusan. Kalau kamu ingin bekerja di sana, ajukan saja surat lamaran. Kalau kamu memang terpilih pasti perusahaan akan menerima kok," jawab Dira yang sebenarnya merasa tidak enak, tetapi mau bagaimana lagi.
"Jadi maksudmu kamu tidak bisa membantuku untuk bicara dengan suamimu?" tanya wanita tadi yang bernama Wulan.
"Seperti yang aku katakan tadi, semua ada proses dan aturannya, tidak bisa seenaknya sendiri."
"Kita ini 'kan teman, apa tidak bisa sedikit saja kamu membantuku?"
Reni yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka menjadi geram dan angkat bicara. "Di saat seperti ini saja kamu mengatakan kalau Dira ini teman, tapi kemarin ke mana saat semua orang menjelekkan Dira? Bahkan kamu juga ikut bagian dari mereka. Sekarang kamu mengatakan kalau Dira teman, pikir dulu sebelum berbicara. Kita satu tempat kerja, tapi kamu sama sekali tidak menganggap kita ini teman karena seorang teman, tidak akan mungkin menjelekkan temannya yang lain di depan banyak orang."
Dira menarik tangan Reni agar gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya. Namun, karena Reni yang dasar keras kepala, tidak mau mendengarkan apa kata sahabatnya itu dan kembali berkata, "Di mana-mana perusahaan itu memiliki aturan sendiri. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, sama seperti di sini ada aturan baru yang dibuat oleh atasan. Kita bisa apa selain menerima. Mau protes pun ujung-ujungnya akan dipecat."
"Sudah, Ren. nggak baik buat keributan di sini. Nanti yang ada malah kamu kena masalah. Sebaiknya kita kembali bekerja."
Dira pun menarik sahabatnya, yang lain juga kembali ke meja masing-masing. Semua orang yang ada di ruangan itu juga membenarkan apa yang dikatakan Dira. Perusahaan itu memang milik keluarga, tetapi ada badan-badan yang bekerja di bawahnya. Setiap ada keputusan pasti diambil bersama-sama.
Wulan berjalan gontai menuju kantin. Saat ini dia benar-benar sedang marah. Wanita itu tahu jika perusahaan pasti ada aturannya sendiri, tetapi tidak bisakah Dira mengatakan pada sang suami untuk menerimanya bekerja. Jika atasannya sendiri yang merekomendasikan, pasti akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Lagi pula dirinya sudah bekerja sangat lama di perusahaan ini, pasti pengalamannya juga cukup banyak. Wulan yakin perusahaan suami temannya juga tidak akan rugi. Justru akan semakin maju karena dirinya sudah berpengalaman dalam perusahaan.
Saat jam istirahat, Dira pergi ke kantin bersama dengan Reni, beberapa pasang mata melirik ke arah Dira membuat wanita itu tidak nyaman. Namun, sebisa mungkin bersikap biasa saja. Dia pun mulai menikmatinya makanannya meski selera makannya hampir hilang.
__ADS_1
"Dira, kamu merasa aneh nggak sih? Sepertinya semua orang ngelihatin ke arah kita?" tanya Reni sambil melihat ke sekeliling. Dira pun mengikuti arah pandangan Reni, tetapi sebisa mungkin mengacuhkannya.
"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Biarkan saja mungkin mereka iri lihat kecantikan kamu," jawab Dira yang sengaja tidak begitu menanggapi serius ucapan sahabatnya.
Reni mendengus dan memilih untuk menikmati makanannya, hingga tiba-tiba keduanya mendengar seseorang berbicara tentang Dira. Mungkin lebih tepatnya orang tersebut sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar.
"Oh, jadi itu yang namanya Dira, istri pemilik perusahaan yang tidak mau menolong temannya itu? Cantik sih, tapi sepertinya sombong."
Reni menatap ke arah Dira yang terdiam, dia jadi merasa kasihan pada temannya itu. Gadis itu pun berbisik, "Dir, sepertinya mereka sedang membicarakan kamu, pantas saja mereka dari tadi ngeliatin ke arah kita."
"Sudah, biarkan saja."
"Kenapa kamu diam saja? Ini pasti karena Wulan yang sudah menyebarkan semuanya tentang kamu tadi. Padahal kamu sudah menjelaskan semuanya, tapi dasar dianya yang egois."
Reni mengangguk, Dira memang dari dulu selalu baik, justru kebaikannya itulah yang kadang dimanfaatkan oleh orang yang sekitarnya. Saat sedang menikmati makan siangnya, ada sebuah pesan masuk dari Devi yang menanyakan kabarnya. Dira pun senang dan membalas pesan dari sahabatnya dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Devi mengajak sahabatnya itu untuk bertemu di restoran saat nanti pulang kerja. Dira awalnya ragu. Namun, setelah mengirim pesan pada Hasbi dan meminta izin kepada sang suami, pria itu pun mengizinkannya asal tidak pulang larut. Dira mengatakan pada Devi jika dia bisa bertemu, tetapi tidak bisa lama karena harus segera pulang, tidak enak jika aku meninggalkan suami di rumah terlalu lama. Apalagi dirinya juga tinggal satu atap dengan mertua.
***
"Maaf, telat," ucap Dira yang baru datang. Dia tadi terkena macet, hingga akhirnya dia sedikit telat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai. Kamu mau pesan apa?"
"Sama saja seperti yang kamu pesan."
Devi memanggil pelayan dan memesan makanan. Dira bisa melihat wajah sedih Devi, entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Dia pun memberanikan diri untuk menanyakannya. "Devi, kamu kenapa? Sepertinya pucat, apa kamu sakit?"
"I–iya, aku memang sedikit tidak enak badan, tapi kamu tenang saja. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu. Kamu pasti terlalu fokus kerjanya, jangan terlalu diforsir. Kamu harus jaga kesehatan juga, apalagi sekarang 'kan sudah ada yang nafkahin, bisa lebih santai lah. Sejak jamu dipindahin ke pusat kita juga jarang ngobrol. Angel juga sibuk sendiri sekarang," ujar Dira yang tanpa disadari sudah membuat ekspresi Devi berubah.
"Aku sudah nggak kerja, Dir. Aku di rumah saja," jawab Devi lesu.
Dira terkejut mendengarnya karena selama ini dia sangat mengenal sahabatnya yang sangat ambisius dalam urusan pekerjaan. Entah kenapa sekarang tiba-tiba berhenti. Bukankah Devi juga pernah mengatakan kalau nanti sudah memiliki suami dan anak, sahabatnya itu akan tetap bekerja mengembangkan karirnya. Dira melihat ada sebuah kejanggalan di sini, dia merasa kehidupan Devi sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu kenapa, Dev? Apa kamu tidak ingin cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kamu ingin mengembangkan potensi kamu dan ingin mengejar karir, tetapi kenapa sekarang berhenti? Padahal kamu pernah mengatakan kalau sebentar lagi ada promosi kenaikan jabatan."
"Iya, itu 'kan dulu. Setelah menikah aku berpikir bahwa aku ini seorang istri jadi, harus memerankan peranku dengan baik. Aku tidak ingin suamiku kelaparan dan merasa kesepian saat pulang kerja. Kamu 'kan tahu pekerjaanku tidak kenal waktu, bahkan pernah lembur sampai tengah malam. Mau jadi apa rumah tanggaku nanti kalau seperti itu."
Dira mengangguk sambil tersenyum. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh sahabatnya, tetapi wanita itu tidak mau terlalu ikut campur dalam urusannya. Jika Devi ingin bercerita, kapan pun dirinya akan mendengarkan.
"Iya, semua keputusan itu ada padamu. Semoga memang itu yang terbaik untuk rumah tanggamu," sahut Dira yang mencoba menanggapi agar tidak menimbulkan kecurigaan.
__ADS_1
"Kalau kamu sendiri masih bekerja?"
"Masih. Meski kadang suka malas pergi ke kantor," jawab Dira saat mengingat apa yang dikatakan sang suami tadi pagi. Dia jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Hasbi kalau seperti ini. Tanpa sadar wanita itu pun tersenyum.