
Orang tua Asha dan Aji sudah pulang beberapa menit yang lalu. Saat ini di apartemen hanya tinggal Asha, Aji dan juga Bik Ika. Wanita paruh baya itu masih menunggu perintah dari kedua majikannya. Dia juga tidak tahu akan tinggal di mana.
"Bik, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan dan aku harap Bibi mendengarkannya dengan baik," ucap Aji mengawali pembicaraan.
Bik Ika merasakan ada sebuah rahasia yang ingin disampaikan oleh majikannya. Dia hanya bisa diam mendengarkan. Melihat wajah Asha saat ini, sepertinya wanita itu tidak bahagia dengan pernikahannya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan di apartemen ini. Namun, dirinya sadar jika hanya seorang pembantu, tidak seharusnya terlalu ikut campur.
"Bibi tidak boleh mencampuri urusanku dengan Asha. Kamarku ada di atas dan kamar Asha ada di bawah. Pasti Bibi cukup mengerti akan hal itu tanpa banyak penjelasan lagi. Kamar Bibi ada di belakang, di samping dapur. Aku tidak akan menjelaskan apa pun tentang kondisi rumah tanggaku dan Bibi tidak perlu tahu karena di sini Bibi hanya perlu bekerja dan bekerja. Tidak perlu mencampuri urusan yang bukan urusan Bibi. Kalau Bibi tidak suka, bisa pergi dari apartemen ini dan kembali ke rumah Mama Nisa. Nanti jika Mama Nisa bertanya katakan saja kalau kami sudah menemukan orang yang akan bekerja di apartemen ini."
Bik Ika sudah menyangka apa yang dikatakan oleh majikannya. Dari awal wanita itu masuk apartemen, dia seperti merasakan hawa yang begitu dingin di tempat ini. Hanya saja Bik Ika tidak berani berbicara dan hanya bisa melihatnya saja. Apalagi saat melihat wajah Asha yang sedih, dia semakin tidak tega karena dulu dirinyalah yang merawat wanita itu dari kecil.
Asia menatap Bik Ika, jujur dalam hati wanita itu berharap agar wanita itu mau bertahan di apartemen ini agar dirinya memiliki teman. Namun, dia juga tidak bisa memaksakan karena dirinya sangat tahu bagaimana tersiksanya di tempat yang tidak ada cinta di dalamnya. Meski ada juga rasa malu yang dirasakannya karena rumah tangga ini. Dari kecil Asha sudah terbiasa dimanja dan dituruti apa pun keinginannya.
Namun, di tempat ini semuanya jauh berbeda. Asha harus menerimanya karena semua ini dia dapat juga karena kesalahannya. Andai saja ... andai saja ... kata itu selalu saja terngiang di telinga. Semua itu justru semakin menambah luka di dalam hatinya. Wanita itu tidak mau lagi menatap ke belakang, saat ini yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan rumah tangganya dan juga anak yang ada dalam kandungannya.
Meskipun bukan Aji ayah dari bayinya, tetapi dia masih berharap agar pria itu menyayangi anak ini meski tanpa ikatan darah. Banyak sekali mimpi yang sudah Asha bayangkan. Wanita itu hanya ingin yang terbaik untuk janinnya, terlepas bagaimana perlakuan sang suami padanya, asalkan anaknya bahagia.
"Saya tetap akan bekerja di sini. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan mengatakan apa pun pada orang di luar sana. Pekerjaan saya di sini hanya untuk mendampingi Neng Asha, tidak ada tujuan lain. Anda bisa pegang kata-kata saya. Saya sudah sangat lama ikut bersama dengan Nyonya Nisa, saya bisa menjaga rahasia ini," ucap Bik Ika dengan mantap.
"Baguslah, kalau begitu. Apa saja yang Bibi butuhkan tanyakan saja pada Asha, tidak perlu bertanya padaku. Apa saja yang Bibi masak terserah, aku juga bukan orang yang pemilih soal makanan. Silakan beristirahat."
Aji pun berlalu dari sana menuju lantai atas di mana kamarnya berada, sementara di ruang keluarga Asha tersenyum pada Bik Ika. Dia bersyukur wanita itu masih mau bertahan di apartemen ini. Meskipun tempat ini terasa dingin tanpa adanya kasih sayang.
"Terima kasih Bibi mau menemaniku," ucap Asha dengan menggenggam telapak tangan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Neng Asha bilang apa, Bibi yang sudah menemani Eneng saat masih dari kecil. Bibi sangat tahu bagaimana perasaan Eneng saat ini karena itu Bibi tetap mau di sini bagaimana pun keadaannya."
Asha merasa sangat senang karena Bik Ika mengerti bagaimana keadaannya. Sejujurnya dia hanya ingin berdua saja dengan Aji agar bisa membuat hati pria itu luluh padanya. Namun, dokter menyarankan dirinya untuk banyak beristirahat. Apartemen ini juga cukup besar jika dirinya sendiri yang membersihkannya.
Mungkin nanti Asha bisa meminta bibi untuk melakukan pekerjaan yang lainnya saja. Yang berhubungan dengan Aji dirinya sendiri yang akan melakukannya, termasuk membuatkan teh atau makanan. Dia juga mulai terbiasa melakukan tugas seorang istri. Segala pekerjaan di rumah bisa dilakukannya dengan baik.
"Ya sudah, Bik. Ayo, aku antarkan Bibi ke kamar! Aku juga akan memperlihatkan dapur dan yang lainnya." Bik Ika pun mengangguk dan mengikuti Asha.
Sementara itu, Aji yang berada di dalam kamar mendapat telepon dari Naura. Awalnya pria itu mengabaikannya, tetapi ponselnya terus saja berdering, hingga akhirnya diangkat juga. Gadis itu mengatakan ingin bertemu Aji karena ingin meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Pria itu pun mengatakan sudah memaafkannya tanpa harus bertemu.
Namun, Naura tetap mengatakan ingin mengatakan semuanya secara langsung. Sebenarnya Aji enggan untuk bertemu, dia tidak ingin memberikan harapan palsu pada temannya itu. Akan tetapi, gadis itu terus saja memaksa agar mau menemuinya. Berbagai rayuan dia ucapkan bahkan berpura-pura menangis, hingga akhirnya pria itu mengalah dan mau menerima ajakan Naura.
Mereka akan bertemu saat jam makan malam. Naura mengajaknya makan malam di sebuah kafe tempat biasa keduanya bertemu. Aji pun menyetujuinya tanpa bertanya dulu pada Asha. Padahal saat ini wanita itu sedang memasak di dapur dengan dibantu oleh Bik Ika, lebih tepatnya Asha yang membantu.
Wanita itu ingin memasak spesial untuk sang suami. Tadinya Bik Ika melarang karena keadaan Asha yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, wanita itu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja karena tadi hanya kram biasa. Bik Ika pun tidak bisa memaksa dan membiarkan majikannya itu untuk membantunya memasak. Asalkan Asha membantu yang ringan saja, seperti memotong sayur dan bumbu lainnya, itu pun sambil duduk.
Dia tadinya ingin mengambil air minum. Namun, justru melihat istrinya tengah sibuk di sana. Pria itu jadi kesal sendiri karena Asha sangat sulit untuk diberi tahu.
"Aku tidak apa-apa, hanya membantu sedikit."
"Kandunganmu sedang tidak baik-baik saja, tidak bisakah kamu menjaganya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anakmu? Nanti yang ada semua orang akan menyalahkanku karena menjadi suami yang tidak berguna."
Bik Ika tertegun, kenapa Aji mengatakan jika anak yang ada dalam kandungan Asha adalah 'anakmu' bukan anak kita. Namun, wanita itu segera menggelengkan kepala. Mungkin saja tadi Aji hanya sedang kesal jadi mengatakan 'anakmu' pada Asha. Bukankah wajar jika hal seperti itu terjadi.
__ADS_1
"Aku hanya sedang memasak untukmu," jawab Asha dengan menundukkan kepalanya.
Bukan maksudnya untuk mencelakai diri sendiri dan calon anaknya, dia hanya ingin menjadi istri yang baik tanpa menyakiti siapa pun. Siapa sangka jika yang dilakukan justru disalah artikan oleh Aji. Seperti biasa Asha hanya bisa diam saat pria itu memarahinya karena memang dirinya lah yang salah. Aji yang melihat sang istri menunduk pun merasa bersalah.
Apalagi wanita itu sudah berusaha menyiapkan makan malam untuk dirinya. Padahal keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi dirinya kini juga sudah terlanjur membuat janji dengan Naura untuk bertemu, semakin bertambah pula rasa bersalahnya. Jika Aji membatalkan janji, rasanya tidak enak juga pada temannya itu. Apalagi tadi Naura sampai memohon dan menangis.
"Tidak usah memasak untukku Aku ada janji dengan Naura di luar," jawab Aji membuat Asha mendongakkan kepalanya.
Bukankah sang suami sudah menolak lamaran Naura, kenapa mereka tetap harus bertemu? Apakah benar yang dipikirkan Asha selama ini jika Aji menolak hanya untuk sementara saja. Nanti saat mereka berpisah pria itu akan kembali bersama dengan Naura.
"Aku hanya akan bertemu saja, dia bilang ingin meminta maaf dan ada sesuatu yang ingin dibicarakan, itu saja. Tidak ada hal yang penting," ucap Aji yang seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Asha.
Entahlah kenapa tiba-tiba dia ingin menjelaskan sesuatu pada Asha, yang seharusnya tidak dia lakukan. Apa pun kebenarannya, tidak ada kaitannya juga dengan sang istri. Mau bertemu dengan siapa pun juga itu urusan Aji. Bukankah itu juga tertera dalam surat perjanjian pernikahan mereka?
Aji segera menggelengkan kepala dan kembali ke kamarnya. Dia harus bersiap untuk pergi menemui Naura. Apa pun yang ada di dalam kepalanya, pria itu harus mengenyahkannya.
Sementara itu, di dapur Asha masih menundukkan kepala karena sedih. Namun, sebisa mungkin dia berusaha untuk terlihat biasa saja. Bik Ika yang melihatnya jadi prihatin. Meskipun tidak diberitahu siapa itu Naura, tetapi melihat reaksinya Asha, wanita itu sedikit paham jika Naura bisa jadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Entahlah kenapa Aji membiarkan hal itu terjadi.
"Neng Asha, tidak apa-apa?" tanya Bik Ika dengan menatap majikannya itu.
Asha tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa, Bik. Bibi dilanjutkan saja masaknya, tapi porsinya dikurangin, takutnya nanti mubazir."
"Iya, Neng. Sebaiknya Eneng istirahat saja di kamar. Nanti kalau masaknya sudah selesai, Bibi panggilin."
__ADS_1
"Iya, Bik." Asha mengangguk dan berlalu dari dapur. Dia menuju kamarnya dan menumpahkan kesedihannya di sana.
Bik Ika memandang punggung Asha dengan pandangan sedih. Dia tidak menyangka majikannya akan menjalani rumah tangga yang seperti ini.