
Aji mengajak Khairi duduk di taman setelah tadi lelah berkeliling dengan menggunakan mobil. Anak itu terlihat sedih, saat ditawari mau pergi ke mana, Khairi tidak menjawab dan hanya diam dengan pandangan kosong ke depan. Entah apa yang ada di kepalanya, padahal dia masih anak kecil, tetapi seolah banyak sekali beban yang dihadapi.
"Masih belum mau bicara?" tanya Aji memecah keheningan membuat Khairi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Aku tidak mau sekolah di sana lagi. Mereka jahat sama mama, aku mau pindah sekolah saja," jawab Khairi tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Kalau mengenai hal itu, kamu harus tanya sama kedua orang tua kamu. Kamu nggak bisa ambil keputusan sendiri. Coba bicara dengan mama dan papamu pelan-pelan, pasti mereka akan mengerti. Tidak ada orang tua yang rela melihat anaknya diperlakukan seperti tadi. Om juga tidak kenal dengan orang tua kamu."
"Om, nanti tolong bantu aku untuk bicara dengan mama, ya?"
Melihat wajah sedih Khairi, Aji hanya bisa mengangguk, dia juga tidak tahu orang tua Khairi itu seperti apa. Entah bisa diajak negosiasi atau tidak karena dia tahu, setiap orang pasti punya karakter sendiri-sendiri.
"Tadi kamu bilang kalau Om harus bantu kamu bicara sama mama kamu, memangnya papa kamu nggak perlu diajak bicara?"
"Papa nggak ada di rumah, Om. Dia pergi kerja ke tempat yang jauh. Kata mama, sekarang papa masih belum bisa pulang, padahal aku sangat ingin papa di rumah saja. Tidak usah bekerja jauh-jauh."
Aji mengangguk, dalam pikirannya pasti papa anak ini bekerja di luar kota. Seketika perasaannya jadi sedih, angan-angan jika Khairi anaknya pupus begitu saja.
"Kamu tinggal sama mama saja? Tidak ada orang lain?"
"Aku tinggal sama nenek, kakak dan juga tante."
__ADS_1
Keraguan Aji semakin besar, apakah Khairi putranya atau tidak. Apalagi saat ini ada orang lain juga yang tinggal bersamanya atau mungkin itu adalah orang yang menolong mereka saat pergi dari rumah. Pria itu mencoba berpikir apa yang harus dia tanyakan lagi tanpa membuat Khairi tertekan.
"Boleh Om tanya siapa nama lengkap kamu?" tanya Aji dengan jantung yang berdebar lebih cepat. Sungguh dia takut mendengar jawaban dari anak itu.
Khairi segera menolehkan kepalanya. "Memang kenapa, Om ingin tahu nama lengkap aku?"
"Om hanya ingin tahu saja dan ingin memastikan sesuatu."
Kening Khairi mengerut, tidak mengerti apa maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Aji. Namun, karena tadi pria itu sudah membantunya, anak itu pun menyebutkan nama panjangnya.
"Namaku Ahmad Khairi Al Fatih."
Seketika Aji mematung, dia menahan napas dan bertanya lagi. "Kalau nama mama kamu siapa?"
"Farasha Nur Apriyanti?" tanya Aji yang diangguki Khairi dengan ragu karena tidak menyangka jika pria itu tahu nama lengkap mamanya.
Benar apa yang menjadi firasat Aji, ternyata apa yang dia rasakan saat pertama kali bertemu Khairi memang benar kenyataannya. Jantung pria itu berhenti berdetak sejenak, tanpa saja sadar air mata mengalir di pipinya membuat anak itu heran, apakah jawabannya telah melukai hati pria yang sudah menolongnya? Rasanya dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh dan hanya menyebutkan mamanya saja. Itu pun karena Aji yang bertanya.
"Om kenapa menangis? Apa ada masalah?"
"Benar itu nama ibumu?" tanya Aji lagi tanpa menjawab pertanyaan Khairi dan lagi-lagi anak itu hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Tanpa banyak berkata lagi Aji segera memeluk Khairi. Dia terisak dalam pelukan anak yang selama ini dicari. Setelah sekian lama akhirnya anak itu ada di depan mata. Selama ini Aji mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari keberadaan mereka. Namun, siapa sangka jika takdir berkata lain.
Justru dirinyalah yang lebih dulu menemukan sang putra dibandingkan orang-orang hebat yang selama ini dia bayar. Khairi yang berada dalam pelukan Aji merasa bingung, mengapa tiba-tiba dirinya dipeluk oleh pria itu sambil menangis. Apalagi ucapan maaf yang terus saja terucap dari bibir Aji semakin membuat Khairi bingung. Meskipun dia masih anak-anak, tetapi sangat pintar dalam berurusan dengan orang dewasa dan kata maaf tidak mungkin diucapkan begitu saja tanpa sebab.
"Om kenapa menangis? Kenapa minta maaf? Kita 'kan nggak pernah kenal jadi, Om juga nggak ada salah sama aku," ujar Khairi dengan wajah bingungnya.
Aji mengurai pelukan dan menatap Khairi dalam-dalam. "Om akan cerita sesuatu sama kamu dan kamu tidak boleh menyelanya sebelum selesai cerita. Setelah semua Om ceritakan sama kamu, terserah kamu mau marah atau tidak, tapi janji untuk mendengarkan cerita dari Om."
Meskipun Khairi ragu, tetapi tetap menganggukkan kepalanya. Anak itu terus menatap wajah pria di depannya, segala pertanyaan yang ada di kepalanya dia coba untuk tahan.
"Apa kamu percaya jika Om ini adalah papa kamu?"
Seketika Khairi melotot, dia tidak menyangka dengan pertanyaan dari pria itu. Selama ini dirinya memang menunggu kedatangan sang papa, tetapi saat Aji mengatakan hal itu, entah kenapa ada rasa ingin menolaknya. Dia merasa papanya tidak menginginkan keberadaannya karena tidak pulang ke rumah. Mamanya pernah berkata jika papanya sedang pergi jauh, sementara orang yang ada di depannya malah berada di sini dalam keadaan sehat, bahkan terbilang memiliki banyak uang.
"Tidak mungkin! Om pasti berbohong, papaku pergi untuk bekerja dan mama bilang papa janji akan pulang setelah banyak uang. Tidak mungkin Om adalah papaku. Kalau Om adalah papaku, tidak mungkin papa meninggalkan aku begitu saja dan bertemu di sekolah. Apalagi Om juga kaya, pasti akan mencariku di rumah," ucap Khairi membuat Aji bingung harus bagaimana menjelaskan pada anak itu.
Dia tidak menyalahkan Asha atas jawaban yang diberikan pada sang putra. Justru pria itu senang karena sang istri masih menganggap keberadaan dirinya. Bisa saja wanita itu mengatakan jika papa Khairi telah meninggal dunia, tetapi itu tidak dilakukan, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Ada sesuatu yang tidak bisa Papa jelaskan, tapi kalau kamu mau Papa akan menjelaskannya dan Papa harap kamu mau mendengarkan semuanya hingga selesai."
Khairi sebenarnya ragu mau mendengarkannya atau tidak. Dalam hati ada sisi yang lain ingin mendengarkan penjelasan Aji. Namun, sisi lainnya menolak karena merasa tidak diinginkan oleh sang papa. Dia takut jika pria itu berbohong mengenai apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tidak ada salahnya jika mendengarkan penjelasan dari Aji. Tidak merugikan dirinya juga.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mendengarkannya. Asal Om berkata jujur."
Sejenak Aji terperangah dengan jawaban anak itu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu memiliki jawaban sedemikian rupa. Namun, dia bangga memiliki anak seperti Khairi.