
Seharian ini Aji sangat sibuk dengan berkas yang ada di depannya, sampai-sampai pria itu tidak memiliki waktu hanya untuk sekadar makan siang. Semua karena kemarin dia cuti selama dua hari untuk menyiapkan acara syukuran rumahnya dan sekarang Aji harus rela lembur. Pintu ruang kerjanya diketuk oleh seorang dari luar, pria itu pun meminta orang tersebut untuk masuk. Ternyata di sana ada Naura dengan membawa sebuah berkas
"Selamat siang, Pak. Saya datang ke sini ingin menyerahkan ini pada Anda," ucap Naura sambil meletakkan sebuah map di meja.
Aji pun segera meraihnya, dia segera membaca dengan saksama. Alangkah terkejutknya saat mengetahui jika isi amplop tersebut adalah sebuah surat pengunduran diri Naura dari perusahaan. Pria itu mengerutkan keningnya sambil menatap mantan sahabatnya itu. Aji merasa ada sesuatu yang sedang direncanakannya.
"Kamu jangan melihatku seperti itu. Aku tahu pasti kamu saat ini sedang berburuk sangka padaku, tapi percayalah, semua aku lakukan karena kamu adalah sahabatku. Dulu aku bertahan di perusahaan ini meski kamu tidak pernah mengakui keberadaanku, itu karena aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku ingin melihat bagaimana kamu melewati masa-masa sulit setelah perpisahan dengan istrimu. Aku ingin memberi dukungan dan sekarang Asha sudah kembali jadi, sebaiknya aku pergi karena tugasku sebagai seorang sahabat sudah selesai."
"Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak ingin lagi berteman denganmu?" tanya Aji datar. "Benar kata orang, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Selama ini aku selalu menampiknya, tapi setelah apa yang terjadi dalam hidupku aku sadar bahwa kata-kata itu memang benar. Seandainya saja aku mendengarkan kata-kata mereka, pasti aku sudah berbahagia dengan Asha, tapi sekarang aku harus memulainya dari awal lagi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan dan tidak akan membiarkan orang lain mengganggu kehidupan kami."
"Aku senang mendengarnya. Aku harap kamu bisa berbahagia dengan istrimu. Kalau begitu aku pamit undur diri, terima kasih sudah menerimaku bekerja di perusahaan ini, walaupun aku sudah membuat kehidupanmu hancur." Naura mencoba untuk tersenyum meski raut wajahnya tidak berbohong jika tengah bersedih.
"Kamu masuk ke perusahaan ini dengan kerja kerasmu sendiri, tidak ada sangkut pautnya denganku. Meskipun saat itu aku ingin sekali marah padamu, tetapi sebagai seorang pemimpin perusahaan aku harus bisa membedakan urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Aku akui kalau pekerjaanmu selama ini cukup bagus jadi, tidak sia-sia pihak HRD menerimamu saat itu."
"Jadi aku diterima bekerja di sini dulu karena kualitas kerjaku?" tanya Naura dengan nada tidak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja. Memang kamu kira aku kurang kerjaan hingga mengurusi pelamar pekerja?"
Naura memang berpikir demikian. Selama ini dia mengira jika Aji memang sengaja menerimanya karena masih menganggapnya sahabat. Namun, seiring berjalannya waktu pria itu memperlakukannya seperti karyawan yang lain. Hal tersebut tentu saja membuat Naura sadar jika dirinya sudah bukan siapa-siapa lagi, hanya orang asing yang kebetulan lewat.
"Maaf. Kalau begitu saya permisi, terima kasih selama ini sudah memperlakukanku dengan baik."
Naura akan beranjak dari sana. Namun, suara Aji lebih dulu membuat langkahnya terhenti. "Tidak seharusnya kamu menyerahkan surat ini padaku. Bawalah surat ini ke bagian HRD. mereka yang akan mengurusnya."
"Aku sudah membuat sebuah surat pengunduran diri. Satu sudah aku berikan pada HRD dan satu lagi sengaja aku berikan padamu karena sebagai orang yang saling mengenal dulu, aku perlu menyampaikan hal ini padamu. Meskipun sepertinya apa yang aku lakukan terasa sia-sia."
Naura pun berlalu dari sana. Sekarang dia lega, satu persatu beban yang selama ini ditanggungnya mulai lepas. Itu semua karena kehadiran Asha jika tidak entah berapa lama lagi Naura harus menahannya.
Sementara itu, Aji masih diam memperhatikan surat pengunduran diri yang diberikan oleh Naura tadi. Sejujurnya dia sangat menyayangkan kepergian mantan sahabatnya itu karena memang cara kerjanya selama ini juga sangat bagus. Namun, pria itu juga tidak bisa menahan, Naura juga punya kehidupan sendiri. Apalagi saat ini dia sudah memiliki seorang suami, sudah sepantasnya mengutamakan keluarga.
Mungkin juga suaminya ingin agar Naura bergabung dengan perusahaannya. Aji sangat tahu siapa suami Naura yang seorang pengusaha. Tidak mau terlalu memikirkan tentang Naura, Aji pun segera melanjutkan pekerjaannya. Tidak lupa juga dia menghubungi bagian HRD agar tidak mempersulit proses pengunduran diri Naura.
__ADS_1
Pihak HRD juga sebenarnya menyayangkan kepergian Naura, tetapi setelah atasannya berkata demikian mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya. Semoga nanti kedepannya ada seseorang yang bisa menggantikan pekerjaan wanita itu dan bisa menyelesaikannya dengan baik.
Pintu ruang kerja Aji kembali diketuk oleh seseorang dari luar. Pria itu pun segera memerintahkannya untuk masuk. Ternyata sekretarisnya yang datang.
"Maaf, Pak. Kata resepsionis di bawah ada seorang pria yang sedang mencari Anda dan ingin bertemu dengan Anda."
"Apa dia menyebutkan siapa namanya dan apa tujuannya?"
"Tidak, Pak, dia hanya mengatakan jika ingin berbicara dengan Anda dan ini berhubungan dengan Bu Asha."
Aji menaikkan kedua alisnya karena merasa aneh ada seorang pria yang datang ingin menemuinya, tetapi malah ingin membahas tentang istrinya. Akhirnya Aji pun mengangguk dan meminta tamu tersebut untuk masuk saja ke dalam ruangannya. Dalam hati pria itu bertanya-tanya, siapakah orang yang sudah lancang ingin membicarakan istrinya. Entah kejelekan apa yang ingin disampaikan orang tersebut.
Aji sekarang bukanlah seperti dulu yang mudah terpengaruh dengan apa pun. Semua akan pria itu pikirkan baik-baik tanpa menyakiti hati istrinya. Dia sangat percaya bahwa Asha tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk, mengingat betapa besar cinta wanita itu pada dirinya. Jika tidak mana mungkin mereka bisa bersama sekarang. Dari sorot mata Asha saja sudah terbaca.
Tidak berapa lama akhirnya orang yang dimaksud oleh sekretarisnya tadi masuk juga ke dalam ruangan. Alangkah terkejutnya Aji ternyata yang datang adalah Arvin, dia pun memutar bola matanya malas. Kalau tahu pria itu yang akan datang bertemu dengannya mana mungkin membiarkan masuk. Namun, semua sudah terlanjur, mengusir juga rasanya tidak sopan. Apalagi tamunya sudah masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Aji meminta Arvin untuk duduk. Tidak lupa juga menyuguhkan minuman yang sudah tersedia di lemari pendingin yang ada dalam ruangannya. Aji tidak ingin berbasa-basi, dia ingin tahu apa tujuan dari Arvin datang menemuinya setelah itu baru boleh pergi. Walaupun setelah berkata juga rasanya percuma, dia tidak akan terpengaruh sedikit pun.