Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
106. Usai pesta


__ADS_3

Usai menggelar acara akad nikah, malam harinya pesta resepsi pernikahan Hasbi dan Dira digelar di gedung yang begitu sangat mewah. Kedua pasangan pengantin terlihat begitu bahagia, berdiri di panggung yang sudah disediakan. Hiasan gedung tersebut terlihat begitu mewah dan indah, membuat para tamu berdecak kagum dengan suasana pesta yang begitu nyaman dan terasa hangat.


Dalam hati Dita mengucapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar kepada mama dan kakak iparnya, yang sudah menyiapkan acara sedemikian rupa. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan acaranya bisa sebesar ini. Awalnya wanita itu mengira acaranya akan sederhana saja dengan keluarga terdekat yang datang, ternyata mamanya merencanakan pesta sampai sejauh ini.


Para tamu satu persatu bersalaman dengan pasangan pengantin dan juga kedua orang tua mereka. Bermacam-macam ucapan selamat dan juga doa semua orang sampaikan. Tidak lupa juga beberapa dari mereka memberi hadiah sebagai ungkapan rasa bahagianya karena keluarganya, juga sahabatnya telah berumah tangga.


Aji dan Asha juga memberikan hadiah, tidak lupa juga mengucapkan selamat dan mendoakan agar pernikahan adiknya langgeng selamanya. Bukan hadiah yang besar, hanya sebuah mobil keluaran terbaru yang sangat diinginkan Dira.


"Dira, maukah kamu berjanji satu hal padaku?" bisik Hasbi pada sang istri, membuat Dira menoleh ke arahnya.


"Berjanji apa?"


"Berjanjilah untuk tidak membawa laki-laki ataupun perempuan dalam rumah kita."


"Kenapa kamu bilang begitu? Kamu menuduhku selingkuh? Aku tidak mungkin melakukan hal itu," sahut Dira dengan kesal. Dia bukanlah orang yang bisa mempermainkan sebuah hubungan, tetapi kenapa sang suami berkata demikian.


"Bukan ... bukan itu maksudku. Maksudku begini, jika ada seseorang laki-laki atau perempuan yang meminta bantuan padamu dan ingin tinggal di rumah kita, kamu harus menolaknya. Meskipun orang itu orang terdekat kita dan dia bilang hanya sebentar, kamu harus tetap menolaknya, kamu harus tegas. Terserah mereka mengatakan jika kita orang jahat dan tidak berperasaan, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa rumah tangga kita. Apalagi sampai terjadi fitnah. Apa kamu mau berjanji?"


Dira masih terdiam, dia mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami itu demi kebaikan. Namun, yang tidak dimengerti kenapa sang suami bisa berpikir ke arah sana? Bagaimana jika di kemudian hari akan ada orang yang meminta bantuan padanya? Bukan apa-apa, dirinya paling tidak bisa mengatakan tidak pada siapa pun, apalagi pada orang yang dikenalnya, itu sangat sulit dilakukan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Tidak ada, aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu rumah tangga kita nantinya, itu saja tidak ada hal lain. Aku ingin mengantisipasinya saja jadi, berjanjilah kamu akan menepatinya."


"Baiklah, aku berjanji tidak akan membawa laki-laki maupun perempuan ke dalam rumah kita. Walaupun nantinya ada ikatan darah, aku tetap tidak akan membawanya ke rumah."


Hasbi tersenyum dengan lega. Entah kenapa ada ketakutan dalam dirinya tentang hal seperti itu, mengingat Dita memang orang yang baik. Setidaknya sekarang dia sudah mengantisipasinya. Kalaupun nanti sang istri tetap membawa seseorang ke dalam rumah, entah dengan alasan apa pun, dirinya harus menegur Dita dan mengingatkan janjinya.


Pesta telah usai, satu persatu tamu meninggalkan gedung pernikahan, hanya menyisakan keluarga inti saja. Semuanya akan menginap malam ini di kamar yang sudah disediakan. Di saat seperti ini tentu saja buat pasangan pengantin tidak tenang. Untuk pertama kalinya Hasbi dan Dita berada dalam satu ruangan tertutup dan hanya berdua saja.


Hasbi duduk di tepi ranjang, sementara Dira duduk di meja rias sambil melepaskan hiasan di kepala. Tangannya sedari tadi gemetar, antara gugup dan takut. Wanita itu juga bingung harus melakukan apa. Sedari tadi keduanya hanya diam, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


"I–iya, kamu benar. Kalau begitu aku mandi dulu."


Hasbi segera berlalu menuju kamar mandi. Tidak dipungkiri pria itu juga merasa gugup, dia sudah berusaha menutupinya, tetapi tetap saja ada perasaan aneh yang dirasakan. Padahal sebelumnya Hasbi juga pernah satu mobil dengan Dira dan rasanya juga biasa saja. Sekarang saat status mereka sudah sah, kenapa malah semakin membuatnya gugup?


Pria itu jadi membayangkan mungkinkah ini karena malam pertama bagi keduanya? Apakah dirinya harus melakukannya malam ini juga? Hasbi menggelengkan kepala dengan cepat. Bukan karena menolak kehadiran sang istri, hanya saja dia belum siap juga tidak tahu harus memulai semuanya dari mana.


Hasbi mengusap wajahnya kasar. Dulu setiap kali teman-temannya membahas soal pernikahan dan juga malam pertama, dia selalu saja menghindar karena merasa risih dan tidak nyaman. Sekarang pria itu tidak memiliki pengalaman apa pun. Kalau tahu begini, dulu Hasbi pasti akan mendengarkan cerita teman-temannya jadi, dia bisa tahu apa yang harus dilakukan di saat seperti ini.

__ADS_1


"Mas, apa sudah selesai? Kenapa lama sekali?" tanya Dira sambil mengetuk pintu kamar mandi, seketika membuat Hasbi gelagapan karena pria itu sama sekali belum mandi.


"I–iya, ini aku lagi sakit perut. Iya, sakit perut," sahut Hasbi beralasan.


"Oh ... ya sudah, aku pikir ada apa kok lama sekali." Dira pun kembali duduk di meja rias.


Hasbi sendiri segera membersihkan tubuhnya. Terlalu lama melamun hingga tidak sadar sudah berapa lama dia berada di kamar mandi. Setelah selesai mandi, Hasbi baru sadar jika dirinya tidak membawa pakaian. Di kamar mandi juga hanya ada handuk, rasanya sangat malu jika dirinya keluar hanya dengan menggunakan selembar handuk saja. Dia pun mondar-mandir di dalam sana, bingung harus melakukan apa.


Hingga akhirnya pria itu memberanikan diri membuka sedikit pintu untuk meminta bantuan pada sang istri. Meskipun malu, tetapi saat ini hanya Dira yang ada di sana.


"Dir, boleh aku minta bantuan?"


Dira yang sedang membersihkan make up pun menoleh ke arah sumber suara. "Iya, Mas. Minta tolong apa?"


"Tolong ambilkan aku kaos dan celana di dalam koper, aku lupa membawanya."


Dira pun mengangguk dan segera mencari apa yang diinginkan oleh sang suami. Saat membuka koper milik Hasbi, wanita itu segera mengambil kaos dan juga celana yang diinginkan oleh sang suami, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada ****** *****. Apakah mungkin dia harus mengambilkannya juga, tapi takut nanti dibilang lancang. Dira juga merasa malu jika harus menyentuhnya, tetapi bukankah sekarang dirinya dan sang suami sudah halal, kenapa harus malu? Ini juga bagian dari kewajibannya sebagai seorang istri.


Akhirnya dengan tangan gemetar di Dira pun mengambil ****** ***** tersebut dan menyatukannya dengan kaos milik Hasbi. Dia segera menyerahkan pada sang suami, Hasbi tentu saja sedikit terkejut, pria itu sampai lupa dengan ****** *****. Ada perasaan malu juga seperti yang dirasakan Dira, tapi mereka sudah sah suami istri, tidak ada salahnya dengan hal-hal seperti ini. Bahkan ke depannya nanti wanita itulah yang akan mencucinya.

__ADS_1


__ADS_2