
Asha dan Aji masih diam duduk di teras. Setelah perdebatan tadi wanita itu jadi merasa bersalah pada sang putra karena harus meninggikan suaranya di depannya. Padahal selama ini dia sudah sangat berusaha agar bersikap baik pada putranya, tetapi entah kenapa hari ini wanita itu bisa lepas kendali. Itu semua juga karena kehadiran Aji dalam hidupnya padahal selama ini dia baik-baik saja.
"Kenapa diam? Bukankah kamu tadi ingin bicara?" tanya Aji membuat Asha memutar bola matanya malas.
Dia sudah tidak mood untuk mengatakan keinginannya, tetapi dalam hati wanita itu masih sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tadi. Akhirnya Asha pun membuka suara. "Apa yang kamu katakan tadi, Mas? Bukankah kita sudah pisah dari lima tahun yang lalu. Kenapa kamu bicara seperti itu pada mereka? Apa kamu ingin membohongi mereka?"
"Aku tidak berbohong, apa yang aku katakan memanglah sesungguhnya. Untuk apa juga aku berbohong," jawab Aji membuat wanita itu menatap pria di sampingnya.
Rasanya tidak mungkin jika dirinya saat ini masihlah seorang istri. Mengingat perpisahan mereka sudah sangat lama, juga meninggalkan kesan yang tidak baik. Aji pun ikut menatap Asha, terlihat sekali kebingungan di wajah wanita itu.
"Mungkin apa yang aku katakan terdengar tidak masuk akal, tapi inilah kenyataannya. Aku sama sekali tidak pernah mendaftarkan perceraian kita ke kantor urusan agama. Kamu masih secara hukum sebagai istriku dan otomatis Khairi juga anakku."
Asha menggeleng pelan, rasanya sangat sulit dipercaya. "Tidak! Itu tidak mungkin, kita sudah cukup lama berpisah. Kamu jangan bohongin aku, Mas."
"Sudah aku katakan kalau aku tidak berbohong. Apakah aku saat ini terlihat sedang bercanda? Kamu tahu sendiri kalau aku bukan orang yang suka bercanda."
Asha terdiam, menatap wajah pria itu. Memang benar, Aji terlihat sangat serius kali ini dan itu membuat dia bingung harus bagaimana. Jujur dalam hati Asha merasa bahagia karena sampai saat ini ternyata dia masih istri Aji. Namun, wanita itu tidak mau terlalu berharap, takut semuanya hanya sia-sia saja, tang ternyata pria itu hanya ingin menunggunya untuk bercerai.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan istri dan anakmu? Apa istrimu tidak marah kamu belum menceraikanku?"
"Istri dan anak yang mana?" tanya Aji dengan wajah bingungnya.
"Naura," jawab Asha pelan karena selama ini dia meyakini jika Aji telah menikah dengan wanita itu.
"Kamu dapat berita itu dari mana kalau aku menikah dengan Naura?"
Asha diam, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika mendengar berita itu dari Bik Ika. Memang dulu sebelum ke wanita itu pulang ke desa sempat mendengar cerita dari Mama Nisa, bahwa Aji telah dilamar oleh keluarga Naura. Berita tersebut didengar dari teman-teman arisannya.
Aji meraih tangan Asha dan menggenggamnya dengan erat. Wanita itu mencoba untuk menariknya. Namun, sang suami yang keras kepala tentu saja tidak mau melepaskannya. Pria itu ingin semuanya jelas hari ini, tidak ingin berlarut-larut yang ada nanti akan membuat salah paham yang berkepanjangan.
"Dengarkan aku! Sampai detik ini aku tidak pernah menikah lagi, istriku hanya kamu. Meskipun kita sudah bukan lagi suami istri secara agama, tapi kamu tetap istriku dan aku tidak pernah berniat untuk menceraikanmu. Dalam hatiku hanya ada namamu. Mana mungkin aku menikah dengan orang lain saat hati ini sepenuhnya sudah berisi tentang dirimu."
Asha menutup mulutnya dengan tidak percaya, rasanya sangat tidak mungkin mendengar pengakuan cinta dari pria itu. Bahkan saat dulu mereka menjadi suami istri saja, Aji sama sekali tidak pernah mengatakannya. Ini rasanya seperti mimpi.
"Mas, kamu bicara apa? Kamu tidak mungkin 'kan? Aku ...."
__ADS_1
Asha tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, terlalu takut dengan kenyataan yang nantinya malah akan berbeda.
"Kenapa tidak mungkin? Apa aku tidak pantas mencintaimu? Aku memang mencintaimu, Asha. Sejak kepergianmu dari rumah, semuanya terasa hampa. Aku mulai sadar jika aku telah jatuh cinta sama kamu. Kebaikan dan perhatianmu selama ini telah meluluhkan hatiku. Tanpa aku sadari aku sudah terlalu nyaman dengan keberadaanmu di sisiku. Bahkan aku juga sudah mencintai Khairi padahal aku hanya bersamanya beberapa hari saja, tapi dia mampu mengalihkan seluruh perhatianku. Kepergian kalian berdua mengubah segala hal tentangmu. Aku sudah berusaha mencari kalian berdua, tapi tidak pernah ketemu. Bahkan detektif yang aku sewa pun tidak mampu menemukan kalian, ternyata kalian ada di sebuah desa. Pantas saja sulit ditemukan."
Air mata mengalir di kedua pipi Asha, rasanya begitu bahagia. Kalimat yang dari dulu dia tunggu akhirnya keluar juga dari mulut sang suami. Sama seperti Aji, wanita itu juga memendam rasa cinta itu dalam hatinya selama ini. Ketika cinta bersambut, tentu sangat membahagiakan.
Asha menunduk dan menangis terisak. "Kenapa baru sekarang, Mas? Saat semua rasa sakit telah aku rasakan. Setiap hari aku selalu menunggumu datang menjemputku dan membawaku keluar dari rasa sakit ini, tapi kamu tidak kunjung datang. Setiap hari aku harus selalu mendengar pertanyaan dari orang-orang, ke mana suamiku pergi, ke mana ayah Khairi saat ini, kenapa tidak datang menjemput. Aku memang bod*h karena mengatakan pada mereka bahwa suamiku telah pergi ke luar kota, padahal sudah jelas kamu mengusirku dari rumah."
Melihat Asha yang begitu terpukul membuat Aji juga ikut menangis dan memeluk wanita itu. Dia ikut merasakan bagaimana perihnya perjalanan kehidupan sang istri. Bisa dipastikan banyak sekali air mata yang sudah Asha tumpahkan demi membesarkan sang buah hati. Betapa tidak tahu malunya Aji yang datang begitu saja dalam kehidupan mereka, tetapi pria itu tidak peduli.
Saat ini yang terpenting adalah asalkan bisa bersama dengan Asha dan Khairi, apa pun akan Aji lakukan. Pria itu akan menembus semua waktu yang terenggut dan akan mengembalikan mereka ke tempat yang seharusnya.
"Maafkan aku karena terlambat menemukanmu," bisiknya tepat di telinga Asha. Aji mengurai pelukan dan menatap wajah sang istri. "Bukan aku mau membela diri, tapi setiap awal bulan aku akan pergi mencarimu dengan hanya berbekal dengan informasi dari orang suruhanku. Mereka bilang melihat orang yang sangat mirip denganmu, tapi ternyata mereka salah. Maafkan aku."
"Kamu tidak salah. Mungkin ini memang takdir yang harus kita jalani."
"Apa kamu mau kembali denganku?"
__ADS_1