
Di dalam kamar, Aji dan Khairi bercerita banyak hal. Dalam hati Aji merasa miris dengan kamar yang ditempati Asha dan sang putra, tetapi dia mencoba untuk terlihat biasa saja agar tidak menyakiti hati orang yang dicintainya. Kamar itu memang terlihat cukup bagus untuk ditempati, hanya saja sebagai seorang pengusaha seperti Aji, tentu saja kamar ini jauh dari apa yang diimpikannya. Kasur yang kecil serta kamar yang sempit, berukuran tiga kali tiga meter.
Untuk ukuran dirinya pasti tidak ada apa-apanya, berbeda dengan Asha dan Khairi yang menganggap jika rumah ini sudah sangat nyaman. Bagi mereka, tinggal di mana pun asal bisa bersama pasti menyenangkan. Saat ini kebahagiaanlah yang paling utama.
"Khairi bahagia nggak bisa bertemu sama Papa?" tanya Aji di sela pembicaraan mereka.
"Benarkah? Sebahagia apa?"
Khairi tampak berpikir dan berkata, "Selama ini aku selalu mengharapkan kehadiran Papa. Teman-teman semua selalu mengejekku karena tidak memiliki papa. Mama selalu bilang kalau Papa berada di luar kota sedang mencari uang untukku. Nanti saat uang Papa banyak, baru akan pulang. Sekarang Papa sudah pulang, nanti tidak usah pergi ke kota lagi, ya! Aku tidak akan meminta mainan lagi, asalkan Papa tidak pergi ke kota. Aku tidak apa-apa tidak punya mainan, asal bisa sama papa dan mama, bisa pergi bersama ke mana pun yang aku mau."
Hati Aji merasa tercubit, dirinya selama ini tidak pernah ada di samping sang istri dan putranya. Pasti sudah terlalu banyak kesulitan yang mereka hadapi. Sungguh dia merasa semakin bersalah. Seandainya pria itu mengikuti hatinya, semua ini tidak akan terjadi.
"Apa kamu tidak mau ikut bersama Papa ke kota? Kita tinggal di sana sama Oma Nisa, Opa Roni, Oma Tia dan Opa Harto. mereka semua pasti merindukan Khairi dan mama." Aji mencoba membujuk anaknya agar mau ikut bersama ke kota. Jika Khairi pergi, dia yakin Asha juga pasti mau ikut bersamanya.
"Apa mama juga akan ikut Papa ke kota?" tanya Khairi dengan polosnya.
__ADS_1
Sebagai seorang anak yang sudah terbiasa hidup dengan mamanya, pasti akan sulit bagi Khairi jika harus terpisah dengan sang Mama. Itulah kenapa dia bertanya lebih dulu. Kalau Asha tidak pergi, maka dia juga akan tinggal di sini dan meminta papanya untuk tidak lagi pergi ke kota untuk mencari uang. Anak itu berpikir jika di desa pun juga banyak laki-laki yang kerja apa adanya. Mamanya juga sudah memiliki banyak uang jadi, tidak perlu lagi pergi ke kota.
"Mama pasti akan menolak jadi, Khairi harus mau bantu Papa buat bujukin Mama. Mau, kan?"
Khairi hanya mengangguk, baginya asal bisa bersama dengan papa dan mamanya, akan dia lakukan meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya.
"Ya sudah, sekarang Khairi tidur dulu, mau Papa bacain dongeng?"
"Mau, Pa. Mama juga sering bacain cerita buat aku setiap mau tidur."
Aji pun akhirnya menceritakan sebuah kisah yang pernah dia denger juga saat malam masih kecil dulu. Setelah cukup lama, akhirnya sang putra tertidur juga. Dipandanginya wajah sang putra yang begitu polos dan lugu. Sudah berapa banyak waktu yang sudah dia lewatkan, tak terasa anaknya sudah sebesar ini.
Saat sedang larut dalam lamunannya, terdengar seseorang ingin membuka pintu. Segera Aji memejamkan matanya, dia ingin tahu siapa yang datang. Jika itu Asha, pasti nanti akan mengusirnya jadi, lebih baik berpura-pura tidur saja untuk saat ini. Lagi pula pria itu juga sudah sangat lelah dan ingin beristirahat lebih dulu.
Sementara itu, orang yang masuk ke dalam kamar tadi memang benar-benar Asha. Dia ingin melihat keadaan sang putra dan Aji, takut jika anaknya tidak nyaman. Saat melihat kedua orang itu terlelap sambil berpelukan, hati Asha merasa terenyuh. Selama ini Khairi hanya tidur dengannya, bahkan dengan Bik Ika anak itu selalu menolak.
__ADS_1
Khairi selalu bilang dia tidak bisa tidur jika tidak memeluk mamanya, tetapi lihatlah sekarang, bahkan anak itu terlelap dalam pelukan pria yang baru dikenalnya hari ini. Padahal mereka tidak ada ikatan darah setetes pun, tetapi kedekatan mereka seolah mengatakan jika mereka memang adalah papa dan anak. Asha tidak tahu bagaimana jika Khairi mengetahui kebenarannya suatu hari nanti, pasti anak itu akan kecewa.
Ini juga salahnya karena telah memberi harapan palsu pada Khairi. Seandainya sejak awal dia mengatakan jika papanya sudah meninggal, pasti anak itu juga tidak akan pernah berharap seperti ini. Sekarang jika mengatakan yang seperti itu pun rasanya sudah terlambat. Khairi pasti tidak akan percaya.
Apalagi interaksi anak itu tadi dengan Aji menandakan jika mereka saling mengenal. Pasti akan lebih menyakiti hati putranya jika dia berkata demikian. Pandangan Asha tertuju pada wajah Aji yang terlihat berkeringat, pasti pria itu tidak terbiasa di rumah ini. Di sini juga tidak ada AC, hanya ada kipas kecil yang mengurangi udara panas.
Asha pun berinisiatif untuk mengambilkan kipas yang lebih besar agar Aji tidak kepanasan. Tanpa disadari wanita itu, perhatiannya justru semakin membuat Aji tidak akan melepaskannya.
Sementara itu, di dapur Tiara menanyakan pada mamanya mengenai pria yang baru saja datang, apakah benar itu ayah dari Khairi atau bukan. Di sana juga ada Bik Ika.
"Mama juga tidak tahu, Mama 'kan nggak mengenal papanya Khairi ataupun keluarga yang lainnya," jawab Amira, kemudian melirik ke arah ibunya yang hanya diam dengan pandangan kosong.
Tiara pun memberi kode pada mamanya agar menanyakan pada sang nenek. Meski ragu, Amira tetap memberanikan diri bertanya, "Bu, apa benar itu ayahnya Khairi? Ibu pasti mengenalnya, kan? Karena sedari tadi ibu hanya diam saja saat pria itu memeluk Asha."
Bik Ika menoleh ke arah anak dan cucunya. Amira juga berhak tahu siapa sebenarnya Aji agar ke depannya mereka tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Den Aji memang suami Neng Asha, tapi Ibu tidak tahu mereka masih sah suami istri atau tidak karena sewaktu Neng Asha pergi, Den Aji sudah menceraikannya secara agama, tidak tahu kalau sejarah hukum."
Amira hanya mengangguk, itu juga bukan urusannya. Asha sudah bisa berpikir sendiri mengenai masa depannya, biarlah itu menjadi urusan mereka, tetapi yang jelas dia sudah tahu mereka memiliki hubungan apa.