Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
86. Masalah Dira


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Asha sudah kedatangan tamu yang tidak lain adalah adik iparnya—Dira. Setahu dia gadis itu sedang berada di luar negeri untuk bekerja di sana. Sama seperti adiknya yang juga berada di luar negeri, bedanya Vania sedang kuliah di sana dan tahun ini tahun terakhir sekolahnya. Tiba-tiba saja wanita itu merindukan adik kandungnya, tapi untuk saat ini dia sangat penasaran kenapa adik iparnya itu tiba-tiba ada di sini.


Aji yang baru keluar dari kamar pun sama terkejutnya saat mendapati adiknya ada di ruang tamu. Pria itu pun duduk di sofa dan bersiap untuk mengintrogasi adiknya.


"Ada apa kamu ke sini? Pakai bawa koper segala," tanya Aji dengan menatap tajam ke arah adiknya.


"Kakak! Kita 'kan sudah lama tidak bertemu, seharusnya adiknya ini disayang-sayang, ini malah ditanya seperti itu. Memangnya Kakak nggak kangen sama aku?" tanya Dira balik yang sengaja agar kakaknya tidak marah.


Aji mencebikkan bibirnya. Adiknya ini selalu pandai bersilat lidah. "Halah! Alasan! Pasti kamu sedang ada masalah sama papa dan mama 'kan, sampai kamu pulang gara-gara ini. Bukannya ke rumah papa dan mama, malah datang ke sini. Kakak nggak mau kalau kamu bawa-bawa kakak dalam masalah kamu, ya!"


Dira cemberut tidak berani membalas kata-kata kakaknya, sementara Asha hanya diam memandangi kakak dan adik itu. Dia juga bingung harus berkata apa karena dirinya dan Dira juga tidak begitu dekat. Meskipun mereka dulu pernah saling mengenal, tetapi adik iparnya jarang sekali datang ke rumahnya yang dulu. Namun, sebagai seorang wanita Asha juga tidak tega melihat gadis itu dihakimi oleh Aji seperti itu.


"Sudah, Mas. Sebaiknya kita sarapan dulu," sela Asha yang kemudian menatap adik iparnya. "Dira, kamu belum sarapan, kan? Kita sarapan dulu, yuk!"


Dira tersenyum sumringah mendengar pembelaan Asha. "Duh ... Kakak iparku memang yang paling baik. Aku juga kebetulan belum sarapan. Kakak masak apa hari ini?"


Gadis itu pun dengan cepat mengikuti langkah kakak iparnya, yang berjalan lebih dulu masuk ke ruang makan. Aji yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepala. Mungkin sebentar lagi sang papa dan mama akan menghubunginya dan menanyakan tentang keberadaan putri kesayangannya itu.


"Kak, nanti tolong bujukin Kak Aji supaya bolehin aku nginep di sini, ya! Hanya untuk sementara kok," bisik Dira di sela langkahnya.

__ADS_1


Dia yakin jika Asha pasti bisa membantunya. Dira sudah banyak mendengar tentang cerita kakak dan kakak iparnya, pasti pengaruh Asha sangat besar di kehidupan Aji. Tak apalah memanfaatkan keberadaan iparnya, hanya kali ini juga.


"Aku tidak janji, nanti akan aku usahakan, tapi kamu harus cerita sama Kakak apa yang sudah terjadi. Apa benar kamu ada masalah dengan papa dan mama?" sahut Asha dengan berbisik juga.


"Kakak sama saja kayak Kak Aji, tapi Kakak jangan khawatir. Nanti aku akan ceritakan semuanya, aku percaya kalau Kakak bisa membantuku dan menjaga rahasia ini."


Asha tersenyum dan mengangguk, ternyata Dira tidak seburuk yang dia bayangkan. Tadi Dia mengira jika adik iparnya itu orang yang kaku dan tidak bisa diajak bicara. Ternyata itu salah, justru gadis itu mudah berbaur dengan orang yang baru. Bahkan dirinya saja tidak ada apa-apanya.


Di meja makan sudah ada Khairi. Anak itu sudah menunggu semua orang sedari tadi. Dia hanya diam saat melihat keberadaan Dira. Khairi memang sudah mengenal gadis itu sebelumnya. Saat di rumah omanya kemarin dia hanya berkenalan sebentar, setelah itu gadis itu kembali ke luar negeri dan baru sekarang bertemu kembali.


Tentu saja anak itu merasa asing karena belum begitu kenal dengan tantenya. Dira yang mengerti perasaan keponakannya pun mencoba untuk berbaur agar tidak ada kecanggungan. Untungnya Khairi pun tidak membatasi diri hingga tidak sulit untuk dekat dengan Dira. Saat mereka tengah asik menikmati makan siang, ponsel Aji berdering. Tertera nama sang papa di sana. Pria itu pun melirik ke arah adiknya dan tentu saja Dira pura-pura tidak melihat.


"Halo, assalamualaikum, Pa."


"Iya, Pa. Dia baru saja datang."


"Anak itu maunya apa sih! Suruh dia pulang, bisa-bisanya kabur begitu saja, seenaknya sendiri."


"Biarkan saja dia di sini sebentar, Pa. Besok aku yang akan mengantar dia pulang," sahut Aji membuat Dira melebarkan matanya.

__ADS_1


Gadis itu masih ingin beberapa hari di sini, tidak ingin bertemu dengan papa dan mamanya, tetapi sang kakak malah menjanjikan hal seperti itu pada papanya. Otomatis dirinya mau tidak mau harus pulang besok. Kalau tahu begini tadi pergi ke rumah temannya saja.


"Ya sudah, kalau begitu papa percaya padamu. Ingat besok ajak adikmu pulang. Dia sudah dewasa jangan lari begitu saja."


"Memang ada masalah apa sih, Pa? Sepertinya sangat serius sekali."


"Tanyakan saja pada adikmu, bisa-bisanya dia membuat malu keluarga."


"Baiklah, Pa. Biar nanti aku yang bicara sama dia. Papa jangan terlalu memikirkan masalah ini, jaga kesehatan Papa. Mama juga begitu, jangan sampai lupa minum vitaminnya," pungkas Aji yang tidak ingin sang ayah marah-marah.


"Iya, kamu juga hati-hati."


Aji pun memutuskan sambungan telepon dan menatap tajam ke arah sang adik. Pria itu menunggu sampai adiknya membuka suara. Dia yakin jika nanti adiknya akan bercerita sendiri.


"Kenapa Kakak malah bilang begitu sama papa? Aku 'kan masih ingin tinggal di sini. Aku masih ingin ngobrol sama Kakak, mau bermain juga sama ponakanku. Kenapa Kakak malah melarangku?"


"Kakak tidak akan melarangmu kalau kamu memang benar-benar ingin bermain di sini. Tidak membawa masalah dan membuat orang tua khawatir."


Dira diam dengan menundukkan kepala. Dia juga tidak berniat untuk menyusahkan orang tua, hanya saja dirinya tidak sengaja membuat masalah. Itu semua juga karena temannya. Andai saja dirinya tidak terlalu percaya pada orang lain, pasti tidak menimbulkan masalah seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Sekarang katakan, masalah apa yang sudah kamu buat hingga kamu lari ke sini?" tanya Aji dengan nada tegas, sedangkan Asha mencoba mengajak Khairi pergi dari sana agar sang putra tidak melihat perdebatan kakak beradik itu.


Entah masalah apa yang sudah dibuat oleh adik iparnya. Setahu dirinya, selama ini Dira bukanlah anak pembangkang, bagaimana mungkin bisa menciptakan masalah hingga berusaha menghindar seperti ini. Mudah-mudahan saja bukan masalah yang serius, kasihan mertua dan suaminya yang sudah terlalu banyak pikiran.


__ADS_2