Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
105. Pernikahan


__ADS_3

Kata sah menggema di ruang tamu di rumah di kediaman Papa Harto. Perasaan haru menyelimuti ruangan tersebut. Beberapa orang bahkan sampai meneteskan air mata, menjadi saksi di mana kedua pasangan pengantin kini telah menjadi pasangan halal. Tidak hentinya para keluarga juga mengucap rasa syukur karena semuanya berjalan lancar.


Dita dan Hasbi pun akhirnya telah sah dan tidak ada lagi yang menghalangi mereka bersama. Meskipun nantinya jalan yang mereka lalui sangat sulit, tetapi semua orang berharap agar rumah tangga mereka menjadi sempurna, saling melengkapi satu sama lain dan saling mengerti. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun, sebagai manusia tentu saja kita harus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Apalagi jika dipersembahkan untuk pasangan halal kita.


Doa dibacakan oleh seorang ustaz agar pernikahan mereka sakinah mawadah warohmah dan diberi keberkahan dalam kehidupannya, serta anak cucu yang sholeh sholehah nantinya. Juga untuk kebaikan-kebaikan lain yang semoga selalu mengikuti perjalanan keduanya.


Mama Tia sedari tadi sudah meneteskan air mata haru. Tidak menyangka jika putrinya akhirnya menjadi seorang istri, padahal seperti baru kemarin dia menggendong gadis itu. Papa Harto yang tadi menikahkan sang anak secara langsung ikut meneteskan air mata. Kini tanggung jawabnya telah beralih pada pria yang ada di depannya, berharap pria itu bisa membahagiakan sang Putri.


"Selamat ya, Sayang. Semoga kalian sehat, selalu bahagia setiap saat. Apa pun nanti cobaan yang datang, hadapilah dengan tenang, jangan mudah emosi. Sebagai seorang istri kamu juga harus bijak dalam menanggapi masalah yang ada. Kamu wajib mengikuti perintah suamimu, kecuali kalau memang apa yang dia perintahkan telah melanggar syariat, kamu boleh menegurnya. Jika masih tidak bisa kamu boleh menentangnya, tapi selama perkataannya itu benar, jangan sekali-kali kamu menentangnya" ujar Mama Tia sendu dengan menggenggam kedua telapak tangan putrinya.


"Aku akan selalu ingat pesan Mama. Doakan kami agar kami selalu bahagia."


"Tentu."


Kini giliran Papa Harto yang memberi wejangan pada menantunya. "Jaga putri kami, jangan sampai kamu menyakitinya. Dia memang sedikit manja karena memang dari dulu apa pun yang menjadi keinginannya selalu kami turuti, tapi percayalah jika dia pasti bisa menjadi istri yang berbakti. Jangan sekali-kali kamu memukulnya kecuali jika dia telah melanggar syariat. Jika suatu hari nanti kamu tidak lagi mencintainya, jangan pernah menyakitinya. Cukup kembalikan dia pada Papa dengan baik, Papa akan selalu menerimanya dengan tangan terbuka."


"Itu tidak akan terjadi, Pa. Insya Allah apa pun yang akan terjadi dalam rumah tangga kami, aku akan berusaha untuk selalu menjaga Dira dan rumah tangga jami. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, tapi aku akan berusaha memenuhinya. Seperti kata Dira, kami hanya membutuhkan doa dari Papa dan Mama agar kehidupan rumah tangga kami diberi kelancaran dan kemudahan dalam menghadapi masalah, serta selalu diberi keberkahan."

__ADS_1


"Amin."


Sementara itu, di sudut sana Vania terus saja memperhatikan pasangan pengantin baru dengan begitu intens, hingga tidak sadar jika Asha melihat itu dan mencoba mendekatinya.


"Kenapa lihat pengantin sampai sebegitunya? Apa kamu juga ingin menyusul Dira naik pelaminan?" tanya Asha.


Vania seketika terkejut, dia tadi tidak menyadari keberadaan sang kakak, tahu-tahu sudah ada di sampingnya saja. Gadis itu sampai mengusap dadanya pelan.


"Kakak ini! Tadi 'kan nggak ada, kenapa tiba-tiba muncul? Kayak hantu saja!" sungutnya


"Lagian kamu saking fokusnya sama pengantin sampai nggak sadar dengan orang yang sekeliling. Kalau kamu sudah mau menikah bilang saja sama Papa dan Mama, pasti langsung dinikahin. Mau sama siapa? Sama atasan kamu itu atau ada pria lain?" tanya Asha dengan Menaik turunkan alisnya, sengaja menggoda adiknya.


"Iya, dia memang baik karena itu keluarga juga setuju, tapi tidak semua orang sama. Semua yang terlihat baik juga belum tentu dalamnya baik, begitu pun sebaliknya yang terlihat jelek di depan di belakang belum tentu jadi, jangan mudah menilai seseorang dari sampulnya saja."


"Kalau menurut Kakak, Pak Rendra itu bagaimana ?"


Seketika Asha menatap adiknya sambil tersenyum. "Tuh 'kan benar kata Kakak. Kamu ada perasaan 'kan sama dia?"

__ADS_1


"Nggak lah! Aku cuma nanya, kalau kakak nggak mau jawab juga nggak apa-apa," sahut Vania dengan cemberut. Entah kenapa tiba-tiba saja dia menanyakan tentang atasannya. Padahal selama ini berpikir tentang pria itu pun tidak pernah.


"Kalau dari yang Kakak lihat sebenarnya Rendra itu bukan pria yang baik, tapi dia masih bisa diarahkan."


"Maksud, Kakak?"


"Terkadang orang bisa menjadi baik karena lingkungan dan orang-orang yang mendukungnya, begitu juga Rendra. Kakak yakin suatu hari nanti dia bisa jadi orang baik asal dia bergaul dengan orang yang baik juga atau kamu mau merubahnya? Begitu juga boleh. Kalau dia berubah jadi baik dan nantinya bisa menjadi suamimu, bukankah pekerjaanmu tidak sia-sia karena hasil usahamu telah menjadi milikmu."


"Ih, apaan sih, Kakak! Malah bermain teka-teki. Sudahlah, lebih baik cari mama saja daripada di sini ngobrol sama Kakak semakin tidak jelas."


Vania segera pergi meninggalkan kakaknya yang hanya menahan tawa. Sebenarnya Asha juga tidak berniat apa-apa, hanya suka menggoda adiknya saja. Dia sendiri tidak tahu siapa itu Rendra dan bagaimana kepribadiannya. Saat bertemu kemarin di rumah sakit, pria itu sangat sopan, hanya saja terlihat begitu kaku.


"Ada apa sih, Sayang? Sepertinya Vania terlihat kesal begitu sama kamu. Kamu sengaja membuatnya kesal?" tanya Aji sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Aku hanya sedikit menggodanya saja. Mas ada apa mencariku? Bukannya tadi lagi ada rekan Mas?"


"Tidak ada apa-apa. Aku sudah selesai bicara dengan mereka."

__ADS_1


Asha mengangguk, dia teringat sesuatu dan menanyakannya pada sang suami. "Oh ya, Mas, mengenai atasan Vania, apa kamu mengetahui tentangnya? Bukankah kemarin kalian berencana untuk bekerja sama?"


"Iya, itu memang benar. Hanya saja bidang kami berbeda jadi agak sulit kalau bekerja sama, tapi nggak tahu lah nanti apa ada pembicaraan selanjutnya atau enggak. Aku masih menunggu Rendra menghubungiku lagi. Kemarin juga kami bicara tentang pekerjaan saja, sama sekali tidak menyinggung hal pribadi, tapi dari cara bicaranya dia sepertinya orang baik. Memang ada apa?"


__ADS_2