Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
90. Ungkapan hati saudara


__ADS_3

"Pak Harto, terima kasih sudah menerima lamaran putra kami," ucap Edo—ayah Hasbi.


"Sama-sama, Pak. Justru sebenarnya kamilah yang harus minta maaf pada keluarga Bapak. Gara-gara putri kami Anda sekeluarga sudah menanggung malu. Pasti banyak yang menjelekkan Anda. Maaf atas tindakan sembrono putri kami hingga membuat rencana perjodohan putra bapak dan Devi jadi batal," sahut Papa Harto yang merasa bersalah karena gagal mendidik anak.


"Sebenarnya kalau boleh saya jujur saya justru lebih senang kalau putra saya menjadi menantu Anda. Meskipun awalnya memang dimulai dengan masalah, tapi saya yakin bahwa mereka nanti akan bahagia."


"Amin, semoga saja. Kita sebagai para orang tua hanya bisa mendoakan, selebihnya mereka yang akan menjalaninya sendiri."


Edo menganggukkan kepalanya dengan bernapas lega. "Mengenai acara pernikahannya nanti, kami juga mohon maaf tidak bisa membantumu. Nanti biar Hasbi yang akan membicarakannya dengan Dira bagaimana baiknya. Kalau nanti Pak Harto membutuhkan sesuatu segera hubungi kami. Sebagai orang tua tentu saja kami tidak ingin berpangku tangan begitu saja. Kami tahu Anda memang ayah Dira, tapi izinkan kami juga ikut membantu."


"Kami mengerti, nanti kita bisa saling bertukar pendapat bagaimana baiknya."


Kedua orang tua pun membicarakan banyak hal. Hingga akhirnya keluarga Hasbi berpamitan pulang karena memang sudah cukup lama mereka berada di sana. Beberapa saudara Mama Tia dan Papa Harto yang datang pun juga ikut berpamitan. Mereka juga begitu terkejut saat mendengar keponakannya akan menikah tanpa banyak berita. Kini mereka hanya bisa memberi doa agar rencana bisa terlaksana dengan baik.


***


"Papa senang kamu bisa memiliki calon istri seperti Dira, bukan karena dia anak dari orang kaya, tapi dari sikap dan sopan santunnya yang membuat Papa begitu kagum kepadanya," ucap Papa Edo saat mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel tempat menginap.


"Iya, Pa. Mama juga setuju. Mama kagum padanya, di usia yang masih muda dia sangat tahu bagaimana memperlakukan orang tua. Berbeda dengan anak zaman sekarang yang suka bersikap seenaknya. Contohnya di Devi, gadis pilihan Papa. Katanya dari keluarga baik-baik, tapi bisa-bisanya dia menjebak temannya seperti itu. Untungnya kita nggak nuntut dia," sahut Mama Liana—mama Hasbi.

__ADS_1


"Jangan bilang seperti itu, Devi bukannya menjebak. Dia hanya ingin meminta bantuan pada temannya."


"Minta bantuan sih minta bantuan, tapi kenapa harus sampai mempermalukan diri?"


"Itu semua 'kan di luar kendali. Lagipula Devi dan keluarganya itu sebenarnya juga orang baik, hanya saja memang pergaulan mereka lebih bebas. Mungkin karena memang mereka sudah menetap lama di luar negeri jadinya ikut budaya orang di luar sana."


"Dira juga sudah lama di luar negeri, Pa, tapi dia bisa menjaga diri."


"Sudahlah, Ma, tidak usah membanding-bandingkan orang lain. Lagi pula Dira juga sahabatnya Devi. Hubungan mereka juga masih baik, tidak usah membahas hal ini lagi. Justru kita harusnya bersyukur karena kesalahan hari itu membuat kita memiliki menantu yang baik."


Mama Liana tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Iya, Papa benar. Mama senang punya menantu seperti Dira, mudah-mudahan saja nanti saat jadi menantu sikapnya masih sama seperti sekarang. Mama takut jika kebaikannya tadi hanya sekedar pencitraan saja."


"Mudah-mudahan tidak, Papa percaya pada calon menantu Papa kali ini. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang hebat, pastinya kualitasnya juga bagus," sahut Edo.


Hasbi yang duduk di samping sopir pun hanya dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Dalam hati dia juga merasa bersyukur bisa mengenal Dira. Namun, seperti sang mama, pria itu juga merasa takut jika nanti hubungan mereka tidak sebaik yang dipikirkan.


Sebelumnya Hasbi juga sudah memiliki kekasih. Namun, karena kedua orang tuanya tidak setuju akhirnya mereka pun putus. Pria itu memilih menerima permintaan kedua orang tuanya untuk dijodohkan. Bukan berarti dia masih memiliki perasaan pada kekasihnya itu, sama sekali tidak benar.


Hasbi sudah melupakan mantan kekasihnya. Apalagi sekarang wanita itu juga sudah akan menikah, semakin terkikis perasaan itu. Sekarang mau tidak mau hatinya harus terbuka untuk calon istrinya. Mungkin tidak akan mudah, tetapi pria itu akan mencobanya.

__ADS_1


Dia tidak mau terus terbelenggu oleh masa lalu, Hasbi juga ingin bahagia seperti kedua orang tuanya. Meskipun sampai detik ini dirinya tidak tahu alasan papa dan mamanya tidak memberi restu. Padahal mantan kekasihnya itu wanita yang baik, tetapi Hasbi percaya jika pilihan orang tua pastilah yang terbaik. Sekarang semuanya sudah ada di depan mata, mudah-mudahan dia dan calon istrinya bisa menjalani rumah tangga yang bahagia dan selalu berkah.


***


"Kenapa melamun di sini? Nanti kalau kesambet bagaimana?" tegur Aji yang sengaja ingin menggoda adiknya, yang saat ini sedang sendiri di tepi kolam renang.


Pria itu pun duduk di samping adiknya. Dia tahu jika gadis itu saat ini sedang dilema karena rencana pernikahan itu. Entah apa yang saat ini sedang ada di kepalanya. Sebagai Kakak tentu saja Aji ikut merasa sedih.


"Kalau kamu ingin membatalkan pernikahan ini, kamu bisa mengatakannya pada papa, mumpung semuanya belum terlambat. Kakak yakin papa pasti akan mengerti kalau kamu menjelaskan alasan kenapa kamu ingin membatalkannya. Papa hanya ingin anak-anaknya bahagia jadi, kalau kamu merasa tersiksa dengan rencana ini lebih baik diungkapkan, jangan dipendam sendiri yang nantinya malah akan menjadi masalah," lanjut pria itu.


"Tidak, Kak. Bukan itu, aku juga sudah ikhlas menerima semua ini. Mungkin benar jika ini adalah takdir yang harus aku jalani. Lagi pula mereka juga dari keluarga baik-baik 'kan? Papa pasti tidak akan membiarkan aku jatuh di keluarga yang toxic. Pasti papa sudah memikirkan semuanya dengan baik."


Aji mengangguk, dia senang mendengar apa yang dikatakan adiknya. Meskipun saat ini Dira sedang tertekan, tetapi gadis itu masih bisa berpikir dengan jernih. Aji semakin yakin jika sang adik memang sudah dewasa dan sudah sepantasnya membangun rumah tangga.


"Lalu apa yang membuatmu berdiam diri di sini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya? Mama dan kakak iparmu sedang membahas rencana pernikahanmu, bukankah sebaiknya calon pengantin juga ikut andil? Siapa tahu kamu ingin pesta yang seperti apa."


"Kakak 'kan tahu sendiri aku belum ada rencana untuk menikah, mana mungkin aku menginginkan sesuatu soal pesta pernikahan. Aku juga tidak tahu apa-apa, biarlah itu menjadi urusan mama dan Kak Asha. Mereka juga lebih berpengalaman. Aku percaya pesta yang mereka siapkan pasti sangat istimewa."


Aji tersenyum dan merangkul pundak adiknya agar kepala gadis itu jatuh di bahunya. "Aku tidak menyangka kalau adik yang dulu selalu menangis setiap kali keinginannya tidak dituruti, sekarang sudah tumbuh dewasa, bahkan sebentar lagi akan menikah. Kakak jadi merasa kehilangan."

__ADS_1


Dira tersenyum, merasa terharu dengan apa yang dikatakan kakaknya dan berkata. "Kakak tahu tidak, aku juga pernah seperti itu. Saat Kakak akan menikah dengan Kak Asha, aku juga merasakan hal itu, kalau sebentar lagi Kakak akan memiliki istri dan tidak akan peduli lagi padaku. Makanya sebelum Kakak menikah, aku selalu godain Kakak, tapi ternyata aku salah. Kak Asha justru sangat baik padaku. Aku bahkan bisa mendapatkan kasih sayang seorang kakak perempuan yang selama ini aku mimpikan. Meskipun pada akhirnya hanya bertahan sesaat saat itu, hingga akhirnya Kak Asha pergi, tapi aku masih bisa merasa bahagia. Nanti kakak juga pasti akan senang memiliki adik ipar laki-laki, bisa diajak main bola."


Aji terkekeh, dia sama sekali tidak pernah tahu jika adiknya pernah merasakan hal itu karena memang Dira jarang sekali mengungkapkan perasaannya. Bahkan terkesan lebih memilih menahan apa pun sendiri.


__ADS_2