Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
16. Masakan Naura


__ADS_3

Sorot matahari pagi yang terik menembus jendela kaca besar, membuat sinar hangat itu menerpa wajah Asha. Aji yang sudah lebih dulu bangun dan mandi menatap wanita itu tidur dengan tak nyaman. Kasihan, Aji menutup tirai jendela yang sedari tadi tersingkap sehingga Asha tak lagi silau dan lanjut tidur dengan sangat nyenyak sekali.


Dia menunggu beberapa saat lamanya, tidak ingin membangunkan Asha karena kasihan dengan sang istri yang baru saja tidur saat pagi menjelang. Aji hanya duduk di sofa sambil memainkan hp-nya.


“Aji!” teriak suara Naura terdengar dengan cukup keras sehingga Asha terbangun karenanya. Dia terkejut karena hari ternyata sudah siang.


Suara ketukan di pintu terdengar, tapi segera berhenti saat Aji membuka pintu itu sedikit dan membuat Naura terpana sekaligus terkejut karena melihat pria itu yang hanya mengenakan celana panjang. Otot-otot perutnya tampak mempesona Naura sehingga dia tidak bisa berbicara sama sekali.


“Ada apa?” tanya Aji. Naura melihat dari celah pintu yang hanya dibuka sedikit, tampak Asha tengah tidur di dalam selimutnya. Panas hatinya, sakit melihat kebersamaan laki-laki yang dicintainya ini. Asha yang malu karena baru saja bangun bersembunyi di dalam selimutnya.


“Eh, anu. Maaf aku ganggu ya? Hp-ku mati. Kamu punya charger?” tanya Naura sambil memperlihatkan tipe charger yang ada di hp-nya.


“Aku nggak bawa charger. Ini sama dengan Mama. Kamu coba pinjam Mama saja,” ucap Aji.


“Oh, begitu ya. Maaf kalau aku sudah mengganggu, kalau gitu aku akan pinjam Tante saja.” Naura pamit pergi, Aji segera menutup pintu itu kembali dan melihat sang istri yang ternyata sudah bangun.


“Mas, siapa?” tanya Asha yang sebenarnya dia sudah tahu siapa yang datang.


“Naura.”


“Kamu sudah bangun dari tadi?” tanyanya lagi.


“Hem.”


“Kenapa nggak bangunkan aku, Mas? Duh, ini sudah siang. Aku nggak enak kalau keduluan bangun sama Mama,” ucap Asha tak enak hati. Aji tidak berbicara sepatah kata pun, dia hanya memakai pakaian yang ada di lemarinya.


Setelah mandi kedua orang itu turun ke lantai bawah, Asha segera menyusul sang ibu mertua dan juga Naura yang ada di sana. Dia mengambil peranannya sebagai menantu sekaligus istri yang baik untuk suaminya.


“Kamu mau masak untuk Aji?”


Baru saja Asha akan menjawab, dia terdiam karena Naura mendahuluinya.


“Iya, Tante. Dia masih suka makanan yang sama, kan?” tanya Naura.

__ADS_1


“Iya. Memang makanan kesukaannya tidak pernah berubah sedari dulu. Asha, kamu mau masak apa?” Kini Tia bertanya kepada Asha.


“Ah, aku mau masak sayur capcay saja, Ma.” Jawab Asha, inginnya dia memasak makanan kesukaan sang suami, tapi dia sudah melihat Naura bersiap dengan bahan itu semua sehingga mau tidak mau dia mengalah di depan sang mertua.


“Oh, iya. Aji juga suka itu, apalagi kalau sedikit pedas,” ucap Tia. Asha menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka mulai melakukan tugasnya masing-masing.


“Asha, ini terlalu asin. Aji tidak suka makanan asin, dia tuh sukanya kasih gula sedikit,” ujar Naura kemudian tanpa meminta persetujuan memberikan gula pada masakan Asha. Wanita hamil itu tentu saja kecewa atas apa yang Naura lakukan terhadapnya. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Tia juga membenarkan apa yang Naura katakan.


“Nah, ini sudah pas,” ucap wanita itu setelah mencicipi masakan milik Asha.


Asha jadi merasa dia istri yang tidak berguna, tidak tahu apa yang disukai oleh suaminya. Tatapannya sendu menatap masakan yang masih berada di atas wajan.


“Nggak apa-apa. Kamu kan masih baru sama Aji, nanti lama-lama juga kamu bakalan tau apa yang dia duka dan apa yang dia nggak suka.” Ucapan Tia sungguh menenangkan Asha.


“Iya, Asha. Lama-lama kamu pasti akan tau semua kesukaan dia, sampai hal konyol sekali pun yang tidak pernah kamu tau pasti suatu saat akan kamu lihat dari Aji.” Naura tertawa cukup keras, tapi segera terhenti saat mendengar deheman dari Aji yang tengah duduk menikmati kopinya di meja makan.


“Ups. Maaf, Aji!” ujar Naura.


“Huekk!”


Asha menutup mulutnya saat mencium satu aroma yang tak enak di penciumannya. Dia mencoba untuk menahan dirinya agar tidak mengganggu orang lain, sementara semua orang kecuali Aji melayangkan tatapan pada wanita itu.


“Maaf. Maafin Asha, Ma, Pa.” Asha menjadi tidak enak hati karena semua menghentikan makannya.


“Kamu kenapa, Asha? Kamu sakit?” tanya Tia yang khawatir dengan keadaan sang menantu.


“Asha sedang hamil, Ma.” Tiba-tiba saja Aji berbicara, rasanya tak mungkin juga untuk menyembunyikan kehamilan Asha lebih lama lagi mengingat perut sang istri akan semakin membesar.


“Ha? Hamil?” tanya Tia tidak percaya dan sangat bahagia. Asha menganggukkan kepalanya dengan malu, dia takut bilamana Aji akan membongkar rahasia yang ada pada dirinya.


“Syukurlah, Mama senang sekali. Kita akan punya cucu sebentar lagi, Pa!” seru Tia pada sang suami yang juga sangat bahagia mendengarnya. “Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin?” tanya Tia melayangkan tatapan tajamnya pada sang putra.


“Kami juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Tadinya kami ingin membuat kejutan untuk kalian semua, tapi sudah ketahuan, hehe,” Aji tertawa terkekeh.

__ADS_1


“Kita harus adakan syukuran!”


“Tidak perlu, Ma.”


“Tidak perlu? Kenapa?” Tia menatap aneh pada sang putra,


“Aa ... aku pikir karena belum waktunya?” gumam Aji mencoba untuk memberikan jawaban, tapi hanya itu yang bisa dia ucapkan. Dia melirik sang istri, tapi Asha hanya menundukkan kepalanya dan memainkan jemarinya di atas pangkuan.


“Oh, iya juga. Ya sudah, kita lanjut makan saja.” Tia memberikan beberapa makanan di atas piring Asha dan menyuruhnya untuk banyak makan, tapi lagi-lagi Asha mual dan menjauhkan piring tersebut dari hadapannya.


“Maaf, Ma. Tapi kayaknya aku nggak bisa makan ini. Aku makan yang lain saja,” ucap Asha. Masakan Naura telah membuatnya mual.


“Ya sudah. Mama bawakan yang lain, tunggu ya. Kamu mau apa?” tanya Tia.


Asha menunjuk makanan yang dibuat oleh Tia dan mereka melanjutkan sarapan mereka.


“Ji, apa kamu mau ini? Ini aku masak sendiri loh,” tawar Naura sambil menyodorkan makanan yang dia masak pagi ini.


“Iya, aku mau,” jawab Aji melirik apa yang ada di dalam piring tersebut.


Naura senang dan menyimpan lauk itu di atas piring Aji. Senyumnya yang lebar menandakan jika wanita itu tengah bahagia. Namun, tidak dengan Asha yang tersenyum perih melihat sang suami sama sekali tidak menyentuh makanan yang telah dia buat. Masih utuh di atas piringnya.


Aji makan dengan tenang, begitu juga dengan yang lainnya, sementara Asha hanya memaksakan diri untuk menelan makanan yang tiba-tiba terasa hambar karena perlakuan Aji barusan. Dia masih bersikap tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di dalam biduk rumah tangganya bersama dengan Aji.


“Aku pergi dulu ke kantor, kamu nggak apa-apa kan di sini? Akan aku jemput sore nanti,” ucap Aji.


Asha tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas. Aku nggak apa-apa. Kamu hati-hati ya di jalan. Hubungi aku kalau sudah sampai,” ujar Asha.


Aji hendak pergi, tapi dia mendekat lagi pada Asha dan melabuhkan ciuman di kening wanita itu membuat tubuh Asha menegang.


“Aku pergi.” Aji mulai menjauh meninggalkan Asha yang masih mematung berdiri di ambang pintu.


‘Sadar, Asha. Hanya berlaku di rumah ini dan tidak di rumah kalian,’ batin Asha sedih.

__ADS_1


__ADS_2