
“Aaarrghhh!!!”
Suara teriakan keras terdengar dari lantai atas. Beberapa asisten yang bekerja di sana berlari menuju ke arah asal suara. Tepat di dalam sebuah kamar seorang wanita cantik tengah histeris dan juga menangis di dalam pelukan sang ibu. Sementara itu di lantai terdapat pecahan cermin dan juga beberapa alat kecantikan yang berserakan.
Winda tengah memeluk Naura dengan erat dan mencoba untuk menenangkan sang putri. Dia sangat takut sekali dengan keadaan Naura yang tidak biasanya seperti ini.
“Lepaskan aku!” teriak Naura dengan suara serak dan kencang. “Kalau kalian nggak mau menikahkan aku dengan Aji, biarkan aku mengakhiri hidupku!” Tangisnya meraung-raung. Naura mencoba untuk melepaskan diri dari sang ibu. Akan tetapi, Winda tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
“Ra, sadar kamu, Nak! Apa yang kamu lakukan? Jangan berbuat bodoh!” seru Winda takut dan juga sedih.
“Kalau kalian nggak mau lakukan apa yang aku mau, untuk apa aku hidup, ha! Lebih baik aku mati saja. Itu lebih baik daripada aku nggak bisa dapatkan Aji. Lepaskan!” jerit Naura dengan sekuat tenaga. Winda menggelengkan kepalanya, sementara seorang asisten tengah mengamankan pecahan beling dari tangan Naura terkena sabetan benda tajam sehingga tangannya berdarah. Pun dengan telapak tangan Naura juga terluka.
“Iya, Sayang. Iya. Mama akan bicara dengan Papa, tapi Mama mohon sama kamu, jangan lakukan ini, Sayang. Mama akan bicara sama Papa. Mama pastikan itu,” ucap Winda cepat.
Seketika Naura menjadi tenang dan menatap sang ibu dengan mata yang sudah basah dan juga dengan wajah yang sembab. “Beneran? Mama akan bicara sama Papa dan akan lamar Aji?” tanya Naura.
Winda menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Iya, pasti, Mama akan bicara sama Papa dan membujuknya. Tapi kamu jangan lakukan ini lagi, ya. Mama mohon, jangan lakukan. Kami akan sama siapa kalau kamu meninggal? Kamu anak kami satu-satunya,” ucap Winda dengan cepat. Naura hanya mengangguk dan melabuhkan kepalanya di dalam pelukan sang ibu.
“Aku mohon, Ma. Aku mau menikah sama Aji. Aku nggak mau dijodohkan sama yang lain.” Tangis Naura kembali pecah, tapi kali ini dia lebih tenang dari yang tadi.
__ADS_1
Winda menggerakkan tangannya menyuruh semua asisten untuk pergi dari sana.
Dari arah luar, Harun berlari dengan kencang saat mendengar berita jika sang putri tengah mengamuk dan mengancam untuk bunuh diri. Dia yang sedang mengadakan pertemuan dengan yang lain segera pulang, beruntung tempat pertemuan mereka tidak terlalu jauh dari rumah dan jalanan tidak terlalu ramai sehingga dalam waktu sepuluh menit Harun bisa sampai di rumahnya tanpa kendala apa-apa.
Melihat pecahan kaca yang dibawa oleh asisten mereka, Harun berlari semakin kencang ke lantai atas, melompati dua hingga tiga anak tangga, dan menemukan Winda dan Naura sedang menangis di sana.
“Ada apa ini?” tanya Harun, Winda menatap sang suami dengan sorot mata yang penuh permohonan.
Melihat tangan putrinya terluka, Harun membawa Naura ke rumah sakit. Beruntung hanya luka kecil yang didapatkan Naura sehingga dokter hanya membersihkan dan mengobati lukanya saja.
“Pa, lihat anakmu. Apa kamu tega melihat dia seperti ini?” Winda menunjuk ke arah ruang rawat Naura di mana putrinya tengah beristirahat di sana. Dokter memberikan sedikit obat penenang karena Naura kembali histeris saat mendapati penolakan dari sang ayah. Beberapa hari memohon dan Harun menolak permintan itu membuat Naura menjadi depresi. Dia masih tidak rela Aji bersama dengan yang lain.
“Kamu tega melihat dia seperti itu? Mama mohon, Pa. Bisa kah kita turuti permintaan Naura? Mama nggak mau dia kenapa-napa,” ucap Winda memohon. Harun mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, meminta seorang laki-laki beristri untuk putrinya. Apa yang akan dikatakan orang lain nanti?
“Meminta Aji? Sebenarnya apa maksud Anda, Pak Harun?” Harto dan Tia terkejut atas kedatangan Harun bersama dengan sang istri ke rumahnya.
“Ya, seperti apa yang saya katakan tadi, Naura meminta saya untuk datang dan meminta Aji untuk menjadi suaminya. Dia sudah memendam rasa kepada Aji semenjak lama dan kami tidak tau akan hal itu. Kami terlambat mengetahuinya. Jadi, kami ingin meminta Pak Harto untuk memberitahukan ini kepada Aji dan kami berharap Bapak bisa membujuk Aji menikah dengan Naura.
Harto merasa bingung akan permintaan dari orang tua sahabat putranya ini. Tentu saja ini adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Aji. Apalagi menantunya sedang mengandung.
__ADS_1
“Saya mohon, Pak. Saya tidak mau melihat putri saya depresi. Semenjak kepulangannya kemari dia hanya ingin Aji menjadi suaminya,” ujar Harun.
Harto semakin bingung, rasa cinta Naura membuat wanita itu dan gelap mata sehingga berani untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
“Kami mohon, Mbak, Mas. Kalau perlu saya akan bersujud,” ucap Winda sambil turun ke lantai sehingga lututnya menyentuh lantai marmer tersebut. Tia terkejut dan segera menahan Winda.
“Mbak jangan seperti itu. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena ini adalah hidup Aji. Tapi kami juga tidak bisa begitu saja meloloskan permintaan kalian. Kami harus bertanya kepada Aji. Semua keputusan ada di tangan Aji.” Tia berbicara, tatap sedih dan iba tertuju pada Winda yang kini menangis, dirinya juga wanita, bisa ikut merasakan apa yang wanita itu rasakan.
Keesokan malamnya, orang tua Aji menyuruh kedua orang tua Naura untuk kembali dan juga menyuruh Aji dan Asha untuk datang.
Aji yang merasa bingung dengan kedatangan kedua orang tua Naura pun terkejut saat mendengar maksud dan tujuan mereka kemari.
“Mau kan, Nak Aji?” tanya Winda menatap pada Aji dan menaruh harapan besar pada laki-laki itu.
Aji melirik Asha yang menundukkan kepalanya, tangannya mengelus perut yang sudah mulai membesar. Suasana di sana sangat hening, bahkan hanya bisa mendengar detak jam yang terus bergulir setiap detiknya. Tia dan Harto menatap sang putra, semua keputusan ada pada Aji dan mereka tidak akan memaksakan.
Helaan napas terdengar dari Aji, Asha mengeratkan genggaman tangannya di atas pangkuan.
“Maafkan saya, Om, Tante. Saya menolak,” ucap Aji yang membuat Winda dan Harun menatap pria itu. Sudah dia duga jika Aji akan menolaknya apa lagi sang istri tengah hamil. Mereka hanya bisa menghela napas dengan kecewa.
__ADS_1
“Istri saya sedang hamil. Saya cukup bahagia dengan pernikahan kami dan tidak mau menyakiti hatinya.”
Seharusnya Asha senang, bukan? Akan tetapi, hatinya justru merasa sedih. Aji hanya tidak ingin membuat kedua orang tuanya berpikir pernikahannya tidak baik-baik saja. Dia hanya ingin menutupi semua apa yang terjadi terhadap mereka.