Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
101. Keresahan Asha


__ADS_3

Di rumah keluarga Papa Harto, semua orang sibukkan dengan segala persiapan pernikahan Dita dan Hasbi yang akan dilaksanakan minggu depan. Dita sendiri sampai detik ini belum juga menampakkan kepulangannya ke rumah. Padahal Mama Tia sudah berkali-kali menghubungi gadis itu agar cepat pulang, tetapi sang putri mengatakan jika pekerjaannya masih belum selesai. Dita akan pulang tiga hari sebelum akad nikah.


Tentu saja Mama Tia sangat marah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena bagaimanapun juga putrinya memiliki tanggung jawab pada pekerjaan. Akan tetapi, wanita paruh baya itu tetap mengingatkan sang putri agar tidak bertemu dengan Hasbi sebelum keduanya halal. Dita pun mengiyakan saja meskipun hatinya kesal.


Semenjak acara lamaran Hasbi dan Dita cukup dekat. Keduanya juga sudah terbuka satu sama lain, menceritakan apa saja yang menjadi kebiasaan masing-masing dan apa yang disukai dan tidak. Semuanya mereka ceritakan tanpa ada yang terlewati.


"Ma, di depan ada pegawai butik yang datang ingin mengantar gaun pengantin dan juga baju untuk keluarga," ucap Asha yang memang berada di rumah sang mertua.


Sudah beberapa hari dirinya dan sang suami menginap di sana, tidak lupa juga Khairi yang semakin hari semakin lengket dengan sang opa. Asha memang diminta oleh Mama Tia agar menginap di sana untuk membantu persiapan pernikahan. Meskipun sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa karena semua pekerjaan sudah ada orang yang mengatur. Papa Harto juga menggunakan jasa WO terkenal jadi, semua sudah pasti beres.


"Kalau begitu ayo kita keluar! Mama juga ingin lihat bagaimana bajunya," sahut Mama Liana.


"Tapi, Ma, mengenai gaun pengantinnya bagaimana? Dita tidak bisa mencobanya. Nanti kalau tidak sesuai dengan tubuhnya bagaimana?"


Mama Tia terdiam sejenak, kemudian menghela napas pelan. Ini juga karena sang putri yang belum bisa pulang. "Sudahlah, biarkan saja gaun anak itu. Nanti kalau kebesaran bisa diakalin sama MUA-nya."


Mama Tia dan Asha pun ke ruang tamu menemui orang yang sudah mengirim gaun pengantin. Saat melihat baju untuk keluarga, Mama Tia begitu senang karena bajunya begitu bagus. Asha juga tampak sangat senang, dia jadi teringat dengan pernikahannya dulu bersama dengan Aji yang dilaksanakan begitu sangat meriah, tetapi pada akhirnya harus melewati jalan yang terjal.


Kini Asha bersyukur karena bisa kembali menjadi menantu di rumah ini. Dia bersyukur karena sang mertua bisa menerima dirinya dan sang putra dengan ikhlas. Padahal Khairi bukanlah cucu mereka. Mengingat hal itu semakin membuat Asha merasa bersalah karena dulu dirinya membohongi semua orang di keluarga ini.

__ADS_1


Mama Tia juga memeriksa segala keperluan lainnya seperti catering dan juga gedung. Untungnya semuanya sudah beres. Souvenir juga beliau yang memilihkannya bersama dengan Asha.


***


Aji baru selesai mandi, dia mencari keberadaan sang istri di kamar. Namun, tidak menemukannya. Pria itu berpikir jika Asha mungkin sedang berada di bawah bersama dengan mamanya, tapi melihat pintu balkon terbuka membuat Aji penasaran dan melihat ke arah sana. Ternyata memang ada sang istri yang sedang berdiri di samping pagar dengan pandangan kosong ke depan.


Pria itu berpikir jika sang istri mungkin sedang ada masalah segera dia mendekatinya dia tidak ingin istrinya menghadapi masalah seorang diri dia ingin apapun segera diselesaikan bersama. Aji pun mendekat ke arah sang istri dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, kenapa dari tadi aku lihatin kamu melamun saja? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Aji sambil berbisik tepat di telinga wanita itu.


Asha terkejut hingga menegakkan tubuhnya dan memukul tangan Aji yang sudah melingkar di perutnya. "Kamu ini, Mas, ngagetin aku aja."


"Kamu yang melamun sampai tidak sadar aku berjalan mendekatimu. Memang apa yang mengganggu pikiranmu sampai berdiam diri di sini?" tanya Aji lagi.


Asha masih terdiam, tidak tahu apa harus mengatakan pada sang suami atau tidak mengenai keresahan hatinya. Akhir-akhir ini dia sudah mencoba untuk menutupinya agar tidak terlihat seperti orang banyak pikiran, tetapi sepertinya sekarang dirinya sudah tidak bisa menahannya lagi.


Aji bisa merasakan jika sang istri tengah gelisah, tetapi entah karena apa. "Kenapa diam saja? Katakan apa yang ada dalam pikiranmu? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling merahasiakan sesuatu? Jika ada masalah kita bicarakan berdua dan menyelesaikannya bersama-sama."


"Aku hanya sedang berpikir, kenapa sampai detik ini aku belum juga hamil. Aku takut jika kamu dan mama kecewa padaku karena tidak bisa memberikan anak."

__ADS_1


Aji semakin mempererat pelukannya pada sang istri. "Apa mama mencecarmu dengan pertanyaan itu?"


"Tidak, Mas. Mama sama sekali tidak ada membahas mengenai hal itu."


"Kalau begitu kamu tidak usah terlalu memikirkannya. Kalau memang kamu belum juga hamil berarti yang bermasalah itu aku. Kamu sendiri sudah terbukti bisa hamil dan memiliki anak. Mungkin memang aku yang tidak bisa memberikanmu anak," ucap Aji dengan nada sedih.


Asha tersentak dengan jawaban Aji, kemudian berbalik menatap sang suami. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu. Aku hanya merasa bersalah saja padamu. Maafkan aku jika sudah menyakiti hatimu."


"Kenapa harus minta maaf? Kamu kan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan? Sudah, sekarang tidak usah memikirkan hal itu. Lagi pula kita sudah memiliki Khairi, dia adalah putraku sampai kapan pun jadi, jangan memikirkan hal itu lagi. Mama 'kan juga tidak mempermasalahkannya."


Asha mengangguk sambal tersenyum menatap sang suami. Mungkin dirinya saja yang terlalu memikirkan mengenai keturunan, padahal sudah jelas jika suami dan mertuanya tidak pernah membahas mengenai hal itu.


"Ayo, kita turun! Sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Mama pasti menunggu kita," ajak Aji seketika membuat Asha terkejut.


"Astaghfirullah! Aku sampai lupa nggak bantuin mama nyiapin makan malam."


Aji tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa. Mama juga tidak pernah memintamu untuk membantu. Semua sudah ada orang yang mengerjakan."


"Tetap saja aku merasa tidak enak, Mas. Ya sudah, ayo cepat kita turun!"

__ADS_1


Asha berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya yang masih berdiri di balkon. Aji hanya menggelengkan kepala. Sang istri memang selalu seperti itu, merasa tidak enak pada orang yang di sekitarnya padahal tidak melakukan kesalahan apa pun.


Tiba-tiba saja pria itu memikirkan kata-kata Asha tadi. Benar kata sang istri jika sampai detik ini wanita itu belum juga hamil. Ada ketakutan dalam dirinya, apakah mungkin dia bermasalah dengan kesehatannya, hingga sampai detik ini istrinya tidak kunjung hamil. Sepertinya Aji harus memeriksakan diri, semoga saja dia tidak mengecewakan keluarganya terutama Asha. Sudah cukup dirinya membuat wanita itu bersedih. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya benar-benar bermasalah.


__ADS_2