
"Kamu masih berteman dengan Devi?" tanya Hasbi saat dirinya dan Dira sedang dalam perjalanan.
"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Dira balik karena selama ini Hasbi tidak pernah menanyakan tentang keseharian dirinya, juga orang-orang di sekitarnya, tetapi sekarang tiba-tiba saja bertanya mengenai sahabatnya, yang tidak lain adalah mantan calon tunangan Hasbi sendiri. Gadis itu merasa pria itu tidak menyukainya. Mungkinkah ada hubungannya dengan peristiwa itu.
"Tidak juga. Aku hanya heran saja, kenapa kamu masih berteman dengan dia. Padahal gara-gara dia kamu jadi pertunangan denganku, yang sebenarnya tidak kamu inginkan karena kamu masih ingin hidup sendiri."
Dira yang awalnya melihat ke depan pun jadi melihat ke arah Hasbi. Tidak ada yang aneh dengan apa yang dikatakan oleh Hasbi karena memang saat pertama keluarga pria itu datang, semua orang juga tahu jika dia sangat menolak lamaran itu, tetapi demi nama baik keluarga gadis itu menerima semua ini dengan sangat terpaksa. Siapa yang menyangka jika Dira akan menikah secepat ini.
"Itu memang benar, tapi dalam hal ini aku juga salah. Aku tidak bisa menyalahkan semuanya pada Devi. Lagi pula aku percaya bahwa ini adalah takdir yang harus aku jalani. Semoga kedepannya apa pun masalah yang ada, aku bisa melewatinya dengan baik."
Hasbi menepikan mobilnya, membuat Dira kembali menatap pria itu dan ingin bertanya, tapi saat melihat wajah Hasbi yang begitu serius, wanita itu pun mengurungkan niatnya dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh tunangannya.
Hasbi menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Kita memang menikah karena terpaksa, tapi aku harap ini adalah pernikahanku yang pertama dan terakhir. Aku tidak pernah main-main dengan sebuah ikatan pernikahan dan aku harap kamu pun demikian. Meskipun tidak ada cinta di antara kita, aku harap kita sama-sama belajar untuk mengerti apa arti dari kata cinta itu sendiri. Aku akan belajar untuk mencintai kamu dan bertanggung jawab atas dirimu. Aku tidak tahu apa yang ada dalam hatimu saat ini, aku harap kita punya misi yang sama dalam kehidupan ini. Kalaupun nanti kamu sudah tidak tahan dengan pernikahan ini dan kamu ingin berpisah denganku, katakan saja padaku. Aku akan mengembalikanmu pada orang tuamu dengan cara baik-baik agar kelak di akhirat, aku bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku perbuat."
Dira masih terdiam, hatinya menghangat mendengar itu semua. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat panjang lebar dari Hasbi. Biasanya pria itu hanya akan berbicara singkat saja, tetapi kali ini kalimatnya begitu panjang dan menusuk ke dalam hati. Gadis itu jadi semakin yakin jika sebenarnya tunangannya itu adalah pria yang baik. Hanya saja mereka dipertemukan memang dengan cara yang salah.
"Aku juga menginginkan ini pernikahan pertama dan terakhirku. Aku juga tidak pernah berniat untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Maka dari itu mari kita sama-sama belajar arti dari kata cinta. Bukan hanya cinta saja, tapi saling menyayangi dan menghargai satu sama lain. Kita harus selalu terbuka dalam hal apa pun. Jika ada masalah kita akan menyelesaikan bersama-sama, harus saling terbuka, tidak ada satu pun yang ditutupi."
"Tentu, kita akan sama-sama membangun rumah tangga ini hingga kokoh." Hasbi mengulurkan tangannya ke arah Dira. "Mari kita berjuang bersama dan berjanji untuk saling menghormati."
Dira menyambut uluran tangan Hasbi dengan tersenyum. Keduanya pun berjabat tangan, saling berjanji satu sama lain. Tidak akan ada saling menyakiti nantinya. Jika memang setelah usaha yang keras dan panjang masih juga belum ada cinta, mereka sepakat untuk mengakhiri dengan cara baik-baik.
__ADS_1
"Dan satu lagi, aku akan selalu memaafkan kesalahan selain penghianatan. Aku tidak suka membagi cinta dan juga suami dengan wanita lain jadi, jangan pernah melakukan hal itu meskipun di antara kita tidak ada cinta sama sekali. Jika sekali saja aku tahu kamu menduakan aku, aku tidak akan segan untuk mengakhiri rumah tangga ini. Kalau memang ada wanita lain yang kamu cintai, kamu bisa katakan padaku. Maka seperti yang kamu bilang, aku dengan ikhlas rela dipulangkan ke rumah orang tua."
"Aku jamin itu tidak akan terjadi karena aku pun tidak menyukai perselingkuhan," pungkas Hasbi.
Pria itu pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Dira. Sepanjang perjalanan, keduanya saling mengobrol satu sama lain, mencoba untuk semakin mendekatkan diri dan mengenal kepribadian masing-masing. Hasbi juga suka berusaha agar bisa mengerti perasaan wanita. Meskipun itu sangat sulit baginya, tetapi tetap dia usahakan.
"Apa mamamu mengatakan padamu bagaimana persiapan pesta di sana?" tanya Hasbi membuka pembicaraan.
"Setiap hari mama juga selalu telepon aku dan mengabarkan setiap prosesnya, seperti yang aku bilang padamu sebelumnya. Mama sama kak Asha begitu antusias menyiapkannya. Apalagi Tante Nisa juga ikut membantu."
"Tante Nisa? Siapa itu?"
Hasbi mengangguk dan kembali bertanya, "Kamu hanya berdua bersaudara saja dengan kakakmu?"
"Iya, kami memang hanya berdua."
"Kalau kamu sendiri? Aku tidak pernah melihat saudaramu."
"Aku anak tunggal jadi, aku cuma sendiri."
"Pantas saja mama kamu begitu menyayangimu," sahut Dira yang mengingat bagaimana calon mertuanya itu memperlakukan pria di sampingnya. Bukan maksudnya mengejek karena Hasbi anak mama, justru dia kagum dengan cara wanita paruh baya itu dalam menyayangi anaknya yang meskipun terlihat dingin.
__ADS_1
"Bukankah setiap orang tua pasti menyayangi anaknya?"
"Iya, hanya saja aku bisa melihat kasih sayang yang teramat sangat dari mamamu," jawab Dira membuat Hasbi menatapnya dengan heran. "Bu–bukan maksudku untuk mengejek, tapi aku justru merasa tidak enak pada mamamu."
"Kenapa tidak enak?"
"Karena aku sudah menyakiti hati anaknya."
"Kalau boleh jujur sebenarnya papa dan mamaku justru senang memiliki menantu sepertimu."
Kali ini Dira yang dibuat bingung dengan jawaban Hasbi. Bukankah seharusnya mereka membencinya karena sudah membuat malu. Dia juga sudah membatalkan acara lamaran yang seharusnya. Apalagi Devi juga termasuk keluarga terpandang di negara ini.
"Maksudnya?"
"Bukan maksudku untuk menjelekkan orang lain, tapi papa dan mama lebih suka kalau kamu menjadi menantunya daripada Devi. Entah aku juga tidak tahu alasannya, yang jelas menurutnya kamu lebih baik daripada Devi," jawab Hasbi yang tidak ingin menjelaskan alasan yang sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan jika kedua orang tuanya sudah mencari tahu latar belakang Dira di negaranya.
"Jangan melihat orang dari covernya saja," sela Dira yang tidak ingin Hasbi salah menilainya.
"Justru itu, kamu gadis yang baik, sopan santunmu juga bagus. Itu yang jadi nilai plus di mata mama dan papaku."
Dira hanya diam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Satu sisi dia senang karena ada orang yang menilainya bukan hanya dari tampilan fisik, di sisi lain gadis itu takut mengecewakan keluarga Hasbi.
__ADS_1