Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
67. Aku mau


__ADS_3

"Pak, Anda pulang sama siapa?" tanya dokter setelah mengizinkan Aji pulang. Namun, tidak ada tanda-tanda kedatangan seseorang.


"Saya pulang sendiri saja, Dok," jawab Aji lesu, tubuhnya juga belum sepenuhnya sehat.


Tadinya wanita itu ingin meminta Aji untuk dirawat inap sebentar meski cuma satu hari. Namun, pria itu menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Dikarenakan pasien yang tetap memaksa untuk pulang, akhirnya dokter pun tidak memaksa lagi.


"Kalau Anda tidak ada yang menemani, bagaimana bisa saya melepaskan Anda begitu saja? Siapa yang akan merawat Anda nanti? Anda itu masih perlu penanganan yang intensif, takutnya nanti di rumah akan kambuh dan malah akan semakin parah."


"Tidak, Dok. Untuk kali ini saya janji akan makan tepat waktu jadi, saya mohon agar dokter mengizinkan saya pulang. Semakin lama saya berada di sini, saya semakin sakit. Saya juga tidak bisa tenang."


"Baiklah kalau begitu, mari saya bantu untuk keluar sampai Anda mendapatkan taksi," sahut dokter dengan terpaksa. Dia juga tidak ingin pasiennya merasa tidak nyaman.


Baru saja dokter akan membantu, tiba-tiba seorang wanita datang, yang tidak lain adalah Asha. Aji yang melihat itu pun terkejut, padahal tadi dia sudah menyuruh sang istri untuk pulang, tapi kenapa sekarang tiba-tiba masih ada di sini. Apa wanita itu tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Aji melihat sekeliling dan tidak tampak keberadaan Khairi.


"Asha, kenapa kamu masih ada di sini? Bukankah aku tadi sudah bilang padamu untuk pulang lebih dulu. Kasihan Khairi kalau masih tetap di sini," tanya Aji dengan melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan sang putra.


"Kamu tenang saja, Mas. Aku sudah mengantar Khairi pulang. Aku di sini karena ingin menemani kamu, bukankah kamu tadi bilang asistenmu akan ke sini, kenapa sekarang kamu malah ingin pulang sendiri dan membuat dokter khawatir?" tanya Asha karena memang wanita itu tadi sempat mendengar apa yang dikatakan dokter.


"Dia sedang ada pekerjaan. Mungkin sebentar lagi juga dia akan datang," jawab Aji berbohong dan kemudian melanjutkan perkataannya, "Sebaiknya kamu pulang saja, temani Khairi di rumah."


"Aku tunggu kamu di sini saja, sampai asisten kamu datang. Aku pasti akan sangat merasa bersalah kalau terjadi sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang tidak sehat saja."


"Sudahlah, Mas. Aku tidak mau berdebat denganmu. Lebih baik kita tunggu asistenmu saja," pungkas Asha yang sudah kesal pada suaminya.


Aji membuang napas kasar. Padahal niatnya tidak ingin merepotkan sang istri, dia tidak ingin Asha repot mengurusi dirinya yang sedang sakit. Bagaimanapun juga mereka bukanlah pasangan halal. Aji tidak ingin nama baik sang istri jadi tercemar. Lebih baik dirinya yang susah.


"Sebenarnya tadi aku bohong sama kamu. Asistenku nggak bisa dihubungi sejak tadi dan sekarang aku mau pulang ke hotel jadi, sebaiknya kamu pulang saja aku bisa naik taksi," sahut Aji yang merasa tidak enak.


"Kalau begitu aku temani kamu pulang ke hotel. Kamu itu 'kan susah sekali minum obat."


"Bukannya kamu yang susah minum obat? Kenapa aku yang disalahkan?" tanya Aji dengan nada menggoda. Dulu saja saat hamil terkadang Asha tidak meminum obat dari dokter kalau tidak diingatkan.


"Enggak! Siapa bilang begitu," sahut Asha dengan memalingkan wajahnya.


Asha terharu mendengarnya, Aji ternyata begitu peduli dengan nama baiknya. Dia saja tidak berpikir ke arah sana karena niatnya hanya agar pria itu bisa segera sembuh.


"Kenapa kamu sekarang peduli dengan omongan orang? Bukankah dulu kamu sering mengatakan padaku, kalau kita tidak perlu mendengarkan omongan orang lain karena itu hanya akan menyakiti hati?"


"Apa pun yang berhubungan denganmu tentu saja aku peduli. Tidak ada yang lebih penting daripada kamu dan Khairi. Aku rela melakukan apa pun asalkan kalian berdua baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kamu pulang. Bukan maksudku untuk tidak peduli dengan niat baikmu, aku justru sangat berterima kasih, tapi kembali lagi nama baikmu jauh lebih penting bagiku daripada kesehatanku."


Mata Asha berkaca-kaca sambil menatap ke arah Aji, sungguh ketulusan pria itu "Kenapa kamu begitu peduli padaku, Mas? Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak bisa kembali padamu."

__ADS_1


"Sudah aku katakan juga, aku tidak akan memaksamu. Kalau memang itu keinginanmu, aku akan menerimanya," sahut Aji dengan tersenyum membuat Asha meneteskan air matanya.


Wanita itu tidak nyangka jika pria yang dulu pernah menjadi suaminya, kini ada di depannya dengan membawa cinta yang tulus. Kini cinta itu tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Aji datang dengan harapan yang begitu besar.


"Mas, aku mau menikah denganmu. Aku mau menjadi istrimu. Aku mau kita hidup bersama lagi seperti dulu," ucap Asha yang seketika membuat Aji begitu bahagia.


Pria itu merasa seperti salah mendengar, dia pun kembali bertanya pada Asha dan meyakinkan wanita itu atas apa yang dikatakannya tadi. Memang benar bahwa Asha memanglah ingin menikah dengannya, membangun rumah tangga mereka yang sudah hancur itu kembali utuh. Lebih tepatnya membangun rumah tangga yang baru lagi dengan keberadaan putra mereka.


"Aku senang akhirnya kamu mau menerimaku kembali. Aku janji aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian," sahut Aji dengan menggenggam telapak tangan Asha.


Asha menghapus air matanya dan menatap ke arah Aji. "Tapi, Mas, sebelum kita menikah kembali, aku ingin bertemu kedua orang tua kita dan meminta restu pada mereka. Jika mereka tidak mengizinkan, maka aku tidak bisa menikah denganmu. Di pernikahan kita kali ini, aku ingin mendapatkan restu dari mereka tanpa ada kebohongan ataupun hal yang lainnya."


"Tentu, kalau perlu hari ini juga aku akan meminta mereka datang ke sini dan menikahkan kita sekarang."


"Kamu jangan bercanda, Mas." Asha melototkan matanya.


"Aku tidak bercanda, memangnya kamu tega membiarkan aku di hotel seorang diri? Tidak mungkin juga kamu menungguiku di hotel atau minta orang lain. Aku maunya kamu saja yang merawatku."


"Kamu sebenarnya modus atau bagaimana, sih?" kata Asha dengan kesal.


"Terserah kamu mau berpikir apa. Sebentar, aku akan menghubungi kedua orang tua kita."

__ADS_1


Aji pun menghubungi kedua orang tuanya dan meminta mereka untuk datang. Dia tidak mengatakan jika dirinya sudah menemukan Asha. Pria itu hanya meminta mereka untuk datang saja dan mengatakan jika dirinya sedang sakit dan membutuhkan kehadiran mereka. Mereka pun mengiyakan saja karena berpikir jika keadaan Aji parah.


__ADS_2