
Asha bersandar di balik pintu kamarnya, memegangi dada yang saat ini berdetak tidak beraturan. Kejadian tadi saat dia terjatuh di atas tubuh Aji benar-benar mengejutkannya, hingga wanita itu tidak bisa berkutik. Saat tersadar bagaimana posisinya, Asha segera bangkit dan berlari ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Padahal tadinya dia merasa haus dan ingin mengambil minum.
Namun, sekarang malah tidak jadi. Rasa hausnya pun tiba-tiba hilang begitu saja. Sungguh tubuhnya terasa begitu dingin, entah perasaan apa yang saat ini wanita itu rasakan. Begitu juga dengan Aji yang saat ini sedang terduduk.
Tadinya dia hanya ingin mencegah kepergian Asha dan ingin ngobrol berdua sebentar. Siapa yang menyangka jika tarikannya begitu kuat hingga membuat wanita itu terjatuh. Sungguh pria itu benar-benar tidak sengaja melakukannya. Aji menyesali apa yang sudah dilakukannya tadi.
"Apa yang sudah aku lakukan? Pasti nanti Asha akan semakin menghindariku, pasti dia berpikir yang tidak-tidak tentangku. Bod*hnya aku," gerutu Aji sambil memukuli kepalanya.
Lagi pula percuma juga, semuanya sudah terjadi begitu saja. Hingga keesokan paginya kedua orang itu sama-sama tidak bisa tidur. Kedua mata mereka pun terdapat lingkaran hitam.
"Kamu semalam nggak tidur, Nak? Kamu terlihat lelah sekali, mata kamu juga terlihat lingkar hitamnya," tegur Bu Ika.
"Tidak, aku memang sempat tengah malam terbangun, mau ambil minum yang habis. Setelah itu nggak bisa tidur," jawab Asha berbohong. Nyatanya wanita itu memang benar-benar tidak tidur semalaman.
"Lain kali disiapin dulu airnya, biar nggak keluar dari kamar. Kalau terbangun memang susah tidur lagi, Ibu juga sering seperti itu. Besok 'kan kamu harus kerja, masih banyak orderan. Nanti kamu malah sakit."
"Ibu tenang saja, aku baik-baik saja. Lagi pula banyak yang membantu pekerjaanku."
"Alhamdulillah, oh ya, kemarin waktu di tempat sayur Ibu ketemu sama Bu Fatimah. Katanya kalau kamu ada kerjaan, suruh ajak anaknya."
__ADS_1
Asha mencoba mengingat wanita yang bernama Fatimah itu. Setelah beberapa detik barulah ingatannya muncul. "Bu Fatimah yang rumahnya di ujung gang itu, Bu?"
"Iya, Bu Fatimah yang itu."
Asha membuang napas kasar. "Bukannya aku nggak mau bantu, Bu. Tapi 'kan Ibu tahu sendiri anaknya Bu Fatimah pernah kerja sama aku dan dia juga kerja seenaknya. Padahal aku sudah mengajarinya, berusaha untuk sabar, tapi sepertinya dia ogah-ogahan. Aku juga akan rugi kalau punya pekerja seperti dia. Yang lain juga pasti akan merasa iri karena menganggap aku menspesialkannya. Orangnya juga nggak mau capek, padahal yang lain saja begitu cekatan."
"Sebenarnya Ibu juga mau menolaknya, tapi Ibu rada nggak enak jadi, Ibu bilang kalau Ibu akan tanyakan sama kamu dulu. Kalau kamu memang bilang seperti itu, nanti cobalah Ibu cari alasan lain untuk menolaknya. Bagaimana kalau bilang pegawai kamu sudah pas."
"Terserah Ibu saja," jawab Asha sekenanya.
Sementara itu, Aji yang sedari tadi menguping pun penasaran, sebenarnya apa pekerjaan Asha selama ini hingga memiliki beberapa pegawai. Namun, bertanya pada Asha pun rasanya sangat canggung. Pria itu pun pergi ke luar mencoba untuk bertanya pada Khairi. Apakah anak itu tahu apa pekerjaan mamanya atau tidak. Mungkin juga bisa memberi sedikit kode.
Tiara yang tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan anak itu pun ikut bergabung. Gadis itu juga menunjukkan beberapa foto yang dia miliki di akun sosial medianya. Selama ini Tiara memang ikut juga dalam mempromosikan hasil karya milik tantenya. Aji begitu kagum dengan apa yang dilakukan istrinya selama ini.
Pria itu tidak tahu Asha ternyata begitu sangat pintar, bahkan pesanannya pun dari luar kota. Saat melihat hasilnya memang sangat cantik, tidak heran jika pembelinya banyak bahkan hingga luar kota.
"Boleh Om minta fotonya?" pinta Aji membuat Tiara menatap pria itu dengan dalam. Gadis itu takut jika Aji melakukan sesuatu pada karya-karya tantenya.
"Kamu jangan khawatir, Om bukan orang yang jahat. Om juga ingin mempromosikan semua ini saja, barangkali nanti ada orang yang akan memesannya."
__ADS_1
Sebenarnya Tiara ragu. Namun, Aji berusaha keras untuk meyakinkan gadis itu hingga akhirnya mengirimkan foto yang ada di galerinya kepada Aji. Pria itu pun langsung saja memposting foto tersebut di akun media sosialnya.
Bik Ika memanggil semua orang untuk sarapan pagi. Aji yang tadinya belum ingin bertemu dengan Asha pun akhirnya terpaksa harus ikut juga. Dia tidak mungkin mengabaikan panggilan Bik Ika. Lagi pula dirinya juga sudah sangat lapar.
Begitu sampai di ruang makan, tatapannya bertemu dengan Asha. Aji jadi salah tingkah, begitu juga dengan wanita itu. Tiba-tiba saja rasanya semua terasa canggung. Bik Ika yang melihat hal tersebut pun merasa aneh.
Wanita paruh baya itu merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada pasangan suami istri itu. Namun, dirinya juga tidak mau terlalu ikut campur. Mereka sudah sama-sama dewasa, biarlah menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia juga tidak berhak ikut campur.
Di tengah-tengah sarapan, ponsel Aji berdering. Tertera nama Mama Nisa di sana. Aji menatap ke arah Asha dengan ragu, apakah dirinya harus mengangkatnya saat ini atau tidak. Namun, mengabaikan pun juga rasanya tidak enak. Akhirnya terpaksa pria itu pun menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Ma," ucap Aji membuat Asha menghentikan pergerakannya.
Wanita itu pikir jika yang menelpon sang mertua. Dia pun penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Namun, sayang sekali jarak dirinya dan sang suami berseberangan jadi, tidak akan bisa mendengar percakapan itu.
"Waalaikumsalam, Aji. Kamu sekarang ada di mana?" tanya Mama Nisa dengan begitu khawatir sekaligus penasaran.
"Aku ada di luar kota, Ma. Kemarin 'kan aku sudah bilang sama Mama Nisa kalau aku ada pekerjaan di luar kota."
Seketika Asha dan Bik Ika menoleh ke arah Aji, saat mendengar nama Mama Nisa keluar begitu saja dari mulut pria itu. Asha ingin mendengar sekali lagi, apakah benar yang diucapkan oleh suaminya tadi adalah mamanya. Apa mungkin Nisa yang lain, tetapi dulu dia tidak mengenal nama Nisa yang lain selain mamanya. Apakah mungkin hubungan mereka sedekat itu untuk saling mengibarkan keadaan masing-masing. Berapa banyak hal yang tidak diketahuinya.
__ADS_1