Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
87. Masalah Dira


__ADS_3

Dira pun akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi. Dia juga tidak pernah berharap akan seperti ini. Sebelumnya di tempat kerja gadis itu memiliki seorang sahabat yang sangat dekat, namanya Devi. Waktu itu sang sahabat mengadu pada dirinya jika akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


Sebagai seorang sahabat tentu saja Dira ingin menghibur temannya itu. Dia tidak tega melihat Devi menangis. Namun, siapa sangka jika temannya malah meminta bantuan pada Dira agar membantu membatalkan acara lamaran yang akan berlangsung. Pasti akan sangat beresiko, tetapi karena tidak teganya pada Devi, akhirnya gadis itu pun menyetujuinya.


Acara lamaran dilangsungkan di rumah Devi. Saat itu Dira bingung bagaimana caranya untuk menggagalkan acara lamaran itu. Devi juga terus-terusan menangis membuat Dira semakin kalut. Setelah berpikir lama, keduanya belum juga menemukan cara, hingga akhirnya saat acara berlangsung, Dira keceplosan bahwa dirinya tengah hamil anak pria itu.


Tentu saja semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Selama Hasbi—pria yang akan dijodohkan dengan Devi—dikenal sebagai pria yang baik. Mana mungkin tega menghancurkan masa depan seorang gadis. Keluarga pria itu murka, bahkan sang ayah langsung memukuli pria itu hingga babak belur.


Dira yang melihat itu jadi merasa bersalah. Seharusnya dia memikirkan cara lain, tetapi semuanya sudah terlambat. Otaknya juga sedang tidak bisa diajak kerjasama. Gadis itu juga tidak mengerti kenapa kata-kata tersebut bisa keluar begitu saja. Keluarga Hasbi dan keluarga Devi sepakat untuk membatalkan perjodohan itu dan akan menikahkan pria itu dengan Dira.


Tentu saja hal tersebut membuat Dira terkejut, hingga akhirnya gadis itu mengaku jika dirinya tidak hamil. Itu semua dia lakukan demi menolong temannya. Hanya saja semua sudah terlambat, karena seluruh keluarga sudah terlanjur meyakini hal tersebut. Hingga akhirnya keluarga Hasbi tetap bersikeras untuk melamar gadis tersebut.


Kedua orang tua Hasbi juga menanyakan pada kedua orang tua Devi mengenai kedua orang tua Dira. Ayah Devi pun juga terpaksa memberitahu yang sebenarnya karena dia meyakini jika ini semua juga ulah dari putrinya yang ingin menolak pernikahan ini. Namun, yang tidak pria itu habis pikir, kenapa harus memakai cara ini dan mengorbankan temannya.


"Begitulah, Kak. Aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Saat itu aku hanya ingin membantu temanku agar acara lamarannya gagal," ujar Dira saat dirinya selesai menceritakan apa yang sudah terjadi.


Aji menggelengkan kepala sambil menarik napas dalam-dalam. "Kakak tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu melakukan hal begitu jauh ke arah sana. Tidakkah kamu juga memikirkan keluarga mereka? Apa sekarang temanmu itu mau membantumu? Kalau memang keluarga pria itu ke sini mau berbicara dengan papa dan mama, berarti itu memang sudah tanggung jawabmu. Kamu sudah melukai hati dan harga diri mereka."


"Tapi aku tidak mengenal dia, Kak. Aku juga tidak menyukainya. Devi juga sudah berusaha membantuku, tetapi keluarga pria itu tidak mau tahu," sahut Dira dengan sendu.

__ADS_1


"Itu resiko yang harus kamu terima karena sudah melakukan tindakan yang salah. Seharusnya kamu memikirkan akibatnya sebelum melakukan sesuatu."


Dira menundukkan kepala dengan air mata yang mulai menetes. Dia tidak pernah menyangka jika semua yang akan berakhir seperti ini. Niatnya hanya ingin menolong temannya, siapa yang menyangka sekarang malah dirinya yang terjebak dengan masalah. Apakah mungkin dirinya harus menikah dengan pria itu?


Sudut hatinya juga mengakui jika dirinya yang memang salah. Andai saja dia tidak ikut campur maka semuanya tidak akan seperti ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun tiada guna.


"Lalu sekarang aku harus apakah, Kak? Aku tidak mungkin menikah dengan pria itu. Aku tidak mencintainya."


"Jika dia pria yang baik kenapa tidak? Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kakak dulu juga tidak pernah mencintai Asha, tapi setelah kepergiannya Kakak baru mengerti jika Kakak mencintainya. Kakak juga tahu bahwa dalam ikatan sebuah pernikahan, cinta bisa datang kapan saja jika memang Tuhan menghendaki. Kakak yakin jika pernikahan adalah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Cobalah untuk membuka hatimu, siapa tahu memang dia yang terbaik untukmu."


"Jadi Kakak setuju jika aku menikah dengannya? Pria yang sama sekali tidak Kakak kenal? Kakak tega memberikan aku kepadanya?" tanya Dira dengan pandangan tidak percaya.


"Biarlah itu menjadi urusan papa. Papa pasti lebih dulu mencari tahu tentang asal-usul pria itu, serahkan semuanya padanya. Pilihan mereka tidak akan pernah salah karena tidak ada orang tua yang ingin anaknya jatuh pada orang yang salah."


Nanti pria itu akan bicara dengan papanya, semoga saja keputusan keluarga tidak salah. Aji yakin jika sang papa sudah mengambil keputusan pasti itu yang terbaik. Meskipun dalam setiap hal pasti ada disi baik dan buruk.


"Baiklah, kamu mau pulang sekarang atau besok? Biar Kakak antar."


"Aku belum siap untuk pulang sekarang, Kak. Aku pulang besok saja, aku juga masih kangen sama kakak ipar. Sejak Kak Asha pulang kami belum pernah ngobrol."

__ADS_1


"Iya, nanti biar Kakak yang bicara sama papa."


Dira pun mengangguk dan melanjutkan makannya, sementara haji menyusul sang istri, yang berada di taman sedang bermain bersama dengan sang putra.


"Bagaimana, Mas?" tanya Asha sambil berbisik saat Aji sudah duduk di sampingnya.


"Nanti saja aku ceritakan," sahut Aji lesu.


"Apa ada sesuatu yang serius?"


"Yah ... bisa dibilang seperti itu. Aku tidak tahu kenapa bisa Dira sampai melakukan hal seperti itu."


Asha bisa melihat wajah Aji yang kebingungan. Dia pun tidak bertanya lagi karena di sana juga ada Khairi. Nanti saja saat hanya berdua bisa menanyakan hal yang lebih detail. Wanita itu yakin jika ada masalah yang sangat serius.


Sementara itu, di rumah Mama Tia terus saja menangis. Wanita itu tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh putrinya. Tadi kedua orang tua Devi menghubungi mereka dan menjelaskan tentang masalah yang terjadi. Tentu saja Papa Harto dan Mama Tia terkejut, dia tidak masalah jika putrinya ingin menikah, umurnya juga sudah mencukupi.


Namun, keduanya tidak menyangka jika akan seperti ini jalannya. Orang tua Devi juga meminta maaf atas apa yang terjadi karena semuanya terjadi juga gara-gara putri mereka. Papa Harto dan Mama Tia pun tidak ingin menyalahkan, keduanya mengerti jika semua yang terjadi bukanlah keinginan mereka. Mungkin ini juga takdir putrinya untuk mendapatkan jodoh.


Papa Harto juga bertanya pada kedua orang tua Devi mengenai pria itu dan keluarganya. Jawaban mereka cukup membuat pria itu tenang, terapi tetap saja dalam hati merasa khawatir, takut jika yang dikatakan oleh orang tua Devi tidak sesuai nanti. Dia akan mengirim orang untuk mencari tahu tentang keluarga pria itu, mudah-mudahan saja benar mereka dari keluarga baik-baik.

__ADS_1


"Ma, sudah dong jangan nangis terus!" ujar Papa Harto.


"Mama sedih, kenapa harus seperti ini? Kenapa Dira harus mengaku hamil dengan pria lain? Bukankah itu sama saja kalau dia menjatuhkan harga dirinya? Tidakkah dia memikirkan akibat dari kalimat itu? Kalau pria itu tidak bertanggung jawab dan ada yang merekam apa yang dikatakan Dira lalu, menyebarkannya di sosial media bagaimana? Semua orang akan menjudge dia sebagai gadis murah*n. Padahal kita selama ini sudah sangat berusaha untuk mendidik dia agar menjadi gadis yang baik."


__ADS_2