
Asia dan Aji masih berada di klinik. Malam ini keduanya memutuskan untuk menginap saja di klinik. Itu lebih aman agar tidak menimbulkan fitnah. Kedua orang tua mereka juga akan datang besok pagi setelah Subuh jadi, sekarang mereka masih bisa beristirahat.
"Mas, kira-kira apa yang akan terjadi besok? Apakah mereka akan marah padaku setelah apa yang sudah aku lakukan selama ini?" tanya Asha yang saat ini dilanda kegelisahan.
"Menurutmu bagaimana? Selama ini mereka sangat mengkhawatirkanmu, tapi kamu pergi tanpa jejak. Kamu tahu betapa sedihnya mereka? Seandainya kamu mengirim sedikit saja kabar pasti mereka juga tidak akan marah," jawab Aji yang sengaja ingin menggoda wanita itu.
"Aku pergi karena ada alasannya, Mas. Aku tidak ingin dipisahkan dengan anakku, terlepas dari bagaimana keberadaannya saat itu, dia tetaplah anakku. Meskipun seluruh dunia menentang kehadirannya, aku sebagai ibu dan keluarga satu-satunya akan mempertahankan kehidupannya."
"Iya, aku tahu. Untuk itu besok kita berdua harus sama-sama minta maaf pada mereka. Aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang akan terjadi. Kamu pun begitu, percayalah padaku. Selalu berada di sampingku apa pun yang akan terjadi. Letakkan bebanmu padaku, jangan lagi memikul semuanya sendiri karena saat ini aku yang akan mengambil alih tanggung jawab itu."
Asha mengangguk dengan mata berkaca-kaca, tidak menyangka akan sampai berada di titik ini. Dia juga sangat merindukan kedua orang tuanya. Selama ini diam bukan berarti tidak ingin tahu, dirinya hanya takut jika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Wanita itu juga sudah menyiapkan hati, apa pun yang akan orang tuanya lakukan dia akan menerimanya dengan lapang dada.
"Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu tidur di ranjang saja, biar aku tidur di sofa," ucap Aji yang seketika membuat wanita itu menatap ke arahnya.
"Mas, kamu yang sakit, kenapa malah aku yang disuruh tidur di ranjang? Seharusnya kamu yang tidur di sana, biar aku yang tidur di sofa. Lagian badan aku juga kecil, tidak apa-apa tidur di sofa. Aku juga sedang sehat."
"Di sofa pasti tidak akan nyaman untukmu, lebih baik kamu tidur ranjang saja."
"Sudahlah, Mas. Aku tidak mau berdebat denganmu, ini sudah larut malam sebaiknya kamu istirahat saja," pungkas Asha yang segera merebahkan tubuhnya di sofa.
Tidak lupa juga wanita itu mengirim pesan pada Bu Ika bahwa malam ini dirinya akan menginap di klinik. Dia beralasan jika Aji belum diperbolehkan pulang. Untuk saat ini Asha belum bisa bercerita pada Bu Ika, akan sangat panjang jika diceritakan malam ini. Besok saja saat pertemuan dengan seluruh keluarganya agar semuanya jelas dan tidak ada rahasia lagi.
Aji memiringkan tubuhnya agar bisa melihat sang istri yang sedang tertidur. Senyum terukir di bibirnya, akhirnya setelah sekian lama dia bisa kembali juga bersama dengan Asha. Pria itu tidak sabar hidup bersama dengan istri dan putranya. Aji berjanji tidak akan lagi melepaskan wanita itu sampai kapan pun. Hingga tanpa sadar akhirnya pria itu terbang ke alam mimpi juga.
Pukul 03.00 pagi Asha terbangun, dia berniat untuk melakukan salat tahajud lebih dulu. Saat ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Rasa takut mendominasi dirinya, wanita itu ingin mencari ketenangan. Aji pun ikut terbangun dan salat bersama dengan sang istri. Keduanya berdoa agar apa pun yang terjadi nanti mereka bisa melewati semuanya dengan baik.
Azan subuh berkumandang, keduanya segera melakukan salat wajib, barulah pergi dari klinik dan berniat untuk menjemput kedua keluarga di bandara. Sepanjang perjalanan hati Asha diliputi perasaan takut. Aji yang ada di sampingnya pun mencoba untuk memberi ketenangan. Keduanya pergi dengan menggunakan taksi online.
__ADS_1
Aji sudah mengirim seseorang untuk mengambil mobilnya yang ada di mall. Dia juga meminta orang tersebut untuk membawanya ke bandara agar bisa digunakan membawa kedua orang tuanya nanti. Keadaannya juga belum benar-benar sehat, masih perlu istirahat yang cukup.
Aji menggenggam telapak tangan sang istri, dia tahu jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja. "Kamu tenanglah, kita akan menghadapinya sama-sama. Kalau kamu khawatir seperti ini, yang ada nanti kamu tidak akan merasa tenang. Siapkan hatimu, yakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kedua orang tua kita juga pasti akan mengerti satu sama lain."
Asha hanya mengangguk sambil tersenyum meski hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ponsel Aji berdering, tertera nama mamanya di sana. Sesaat dia melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya dan segera mengangkat panggilan.
"Halo, assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, Nak. Kami semua sudah ada di bandara. Kamu belum mengirim alamat kamu, kami harus ke mana ini?" tanya Mama Tia yang berada di seberang telepon.
"Mama tenang saja dulu di sana. Aku sebentar lagi akan menjemput kalian."
"Kamu sendiri yang menjemput? Bukannya kamu bilang kamu lagi sakit dan menyuruh kami semua datang ke sini? Kenapa sekarang kamu malah yang menjemput kami?" tanya Mama Tia dengan heran sambil melirik ke arah sang suami dan kedua besannya. Dia jadi merasa tidak enak karena merasa Aji sedang berbohong.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mama tenang saja. Tunggu di sana sama yang lain, jangan ke mana-mana."
"Iya, Ma. Aku sehat, hanya saja kemarin asam lambungku yang sedang kambuh."
"Ya sudah, kamu cepetan ke sini! Mama tunggu sama yang lainnya."
Aji mengiyakan dan mengakhiri panggilan, sementara Asha terlihat semakin panik. Ingin sekali dia mengatakan untuk turun di sini dan pulang lebih dulu. Namun, setelah dipikirkan kembali, cepat atau lambat dirinya akan tetap bertemu dengan mereka semua. Seperti kata Aji, apa pun yang akan terjadi mereka akan sama-sama menghadapinya.
Jika saat ini dia pergi begitu saja, bagaimana dengan perjuangan pria itu yang ingin kembali bersama. Asha juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Aji rasakan jadi, dirinya pun harus berjuang. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di bandara. Aji meminta sopir taksi untuk tetap menunggunya karena dia tidak akan lama, hanya ingin menjemput kedua orang tuanya.
Pria itu juga berjanji akan membayar biaya menunggu. Aji dan Asha berjalan beriringan, kedua tangan mereka saling bertautan. Pria itu tidak membiarkan sang istri jauh dari jangkauan. Akhirnya dari kejauhan dia bisa melihat keberadaan para orang tua yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Assalamualaikum, Pa, Ma," sapa Aji membuat semua orang menatap ke arahnya. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang ada di samping pria itu.
__ADS_1
"Asha," gumam Mama Nisa dengan mata berkaca-kaca.
Begitu juga dengan Asha yang sudah meneteskan air mata, saat berhadapan dengan kedua orang tua kandungnya. Wanita itu segera melepaskan tangan sama suami dan bersujud di depan kedua orang tuanya. Isak tangis keluar dari bibir Asha, semua orang yang ada di sana pun ikut terharu, bahkan ada beberapa orang yang menatapnya heran.
"Bangunlah! Jangan seperti ini, kamu Asha, kan? Putri Mama?" tanya Mama Nisa sambil mencoba untuk membangunkan putrinya.
Asha mendongakkan kepala dan mengangguk pelan. Bibirnya terasa kelu, tidak sanggup mengatakan satu kata pun. Mama Nisa pun segera memeluk sang putri dan menumpahkan tangisnya di sana. Papa Harto yang ada di sampingnya pun ikut memeluk kedua wanita yang dicintainya.
Sama seperti sang istri, dia juga sangat merindukan putrinya. Pria itu merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya dulu karena tanpa sadar Papa Harto telah melukai hati putrinya. Bertahun-tahun meratapi kesalahan yang sudah dilakukan, kini akhirnya bisa bertemu lagi.
"Maafkan Papa yang sudah membuatmu seperti ini. Maaf, Papa sudah banyak berbuat salah sama kamu," bisik Papak Harto di sela pelukan mereka.
Asha pun segera mengurai pelukan dan menatap sang papa. Sungguh hatinya sangat sakit saat mendengar orang tua yang justru meminta maaf pada anaknya. Meskipun mereka memang bersalah, tetapi Asha tidak mau papanya melakukan hal itu.
"Papa jangan merasa bersalah, aku yang salah di sini, seharusnya dari awal aku sudah jujur, tapi aku terlalu takut dan akhirnya membuat keluarga kita seperti ini. Maafkan aku."
"Tidak, kamu tidak salah sebagai orang tua seharusnya Papa lebih mengerti keadaan kamu, tapi Papa malah berbuat hal yang bod*h."
"Sudah, Pa, Asha, semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang putri Mama sudah kembali, sekarang kita lupakan semuanya," sela Mama Nisa yang tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan.
Tia yang sadari tadi menjadi menonton pun ikut mendekat ke arah mereka. "Asha, maafin Mama juga. Mama bersalah sama kamu, Mama sudah menghina kamu sedemikian rupa. Maafkan Mama sudah menilaimu buruk tanpa mencari tahu penyebabnya."
Asha menatap mantan mertuanya dengan tersenyum. Meski saat ini wajahnya sudah sembab karena air mata. Dia juga tidak pernah menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Bagi wanita itu ini adalah bagian dari hidup yang harus dijalani.
"Sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku mengerti perasaan Mama karena saat ini aku juga seorang ibu jadi, Mama tidak perlu merasa bersalah," ucap Asha dengan menggenggam telapak tangan mantan mertuanya.
Tia merasa bersyukur karena Asha begitu baik padanya. Wanita itu pun segera memeluk mantan menantunya, berharap setelah ini hubungan mereka semakin membaik. Papa Roni pun juga meminta maaf pada Asha dan dengan keikhlasan Asha pun juga memaafkannya.
__ADS_1